Dayat melangkah ke meja rias dengan napas yang masih sedikit memburu. Begitu layar ponselnya menyala di tengah temaram lampu kamar, ia mengernyitkan dahi membaca nama yang tertera di sana."Siapa, Mas?" tanya Ajeng dari atas ranjang, posisinya masih telentang dengan daster yang setengah tersingkap."Dita, Jeng," jawab Dayat pendek. Ia segera menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, Dit? Kenapa telepon malam-malam?"Dari seberang telepon, terdengar suara Dita yang agak sungkan. "Halo, Mas Dayat. Aduh, maaf banget ya, Mas, kalau aku mengganggu waktu istirahatnya Mas Dayat jam segini.""Iya, enggak apa-apa. Ada keperluan apa, Dit?""Ini, Mas, cuma mau memastikan saja. Hari Minggu besok jadi, kan, pasang alur instalasi listrik di rumah baru aku?" tanya Dita berbasa-basi memastikan.Dayat melirik ke arah Ajeng yang tampak menunggunya dengan wajah cemberut. "Oh, iya, jadi kok. Paling nanti agak siangan ya aku baru bisa ke sana.""Wah, iya, Mas, enggak apa-apa bang
Read more