LOGINDayat melangkah pelan, mendorong pintu kamar Mbak Putri yang memang tidak tertutup rapat. Begitu kakinya menapak di dalam kamar, aroma wangi bedak tabur dan kelembapan khas sehabis mandi langsung menyergap indra penciumannya.Mbak Putri yang saat itu sedang berdiri di dekat lemari pakaian langsung menoleh. Menyadari kehadiran Dayat yang menyelinap masuk, wanita itu sama sekali tidak terkejut. Sebaliknya, sebuah senyuman nakal dan penuh arti langsung terbit di bibirnya."Ih, Mas Dayat... udah enggak sabar banget ya?" tanya Mbak Putri dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, terdengar sangat manja di telinga Dayat.Dayat tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya melemparkan senyuman miring yang penuh percaya diri. Tatapan matanya seketika menggelap begitu melihat kain jarit yang tadi melilit tubuh Putri kini sudah tergeletak di lantai, menampilkan lekuk tubuh wanita itu yang polos tanpa sehelai benang pun.Tanpa membuang waktu lagi, Dayat melangkah lebar mendekat. Kedua tangan kekarn
"Eh, Luk!?" ucap Dayat terkejut setengah mati. Jantungnya berdisko, mendadak kepikiran kalau dia tidak mungkin jujur bilang mau ke rumah Mbak Putri. Kalau dia alasan mau benerin sesuatu, Luki pasti langsung curiga kenapa malam-malam begini dia datang tanpa membawa tas peralatan kerjanya.Luki menyipitkan matanya, memandang Dayat dari atas sampai bawah. "Ngapain lo jalan kaki malem-malem di gang rumah gue, Yat? Mana rapi bener lagi. Mobil lo mana?"Dayat cepat-cepat menguasai ekspresi wajahnya, mencoba tersenyum sealami mungkin. "Kagak... ini, gue lagi ada perlu sama orang sini, Luk. Kebetulan rumahnya udah enggak jauh lagi dari sini. Mobil sengaja gue parkir di Alfa depan, males gue bawa masuk gang, sempit."Luki manggut-manggut, menerima alasan itu tanpa curiga berlebih. "Oh, kirain ada apa. Tumben amat malam-malam.""Iya, urusan bentar doang kok," sahut Dayat cepat, buru-buru membalikkan keadaan sebelum Luki bertanya lebih detail. "Lah, lo sendiri mau kemana malam-malam gini bawa mo
Dayat melangkah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah segar kembali. Rambutnya masih agak basah, dan ia hanya mengenakan celana pendek santai dengan handuk kecil yang tersampir di lehernya. Aroma sabun langsung menguar, memenuhi ruang tengah tempat Ajeng sedang merapikan daster dan penampilannya. Sambil menyeka rambutnya dengan handuk, Dayat berjalan menghampiri Ajeng dan membuka obrolan. "Jeng, nanti malam kamu mau makan apa? Biar sekalian aku beliin." Ajeng menoleh, menatap Dayat yang tampak segar setelah mandi. "Mas Dayat mau keluar lagi emangnya? Kok tumben nanyain makan malam cepet banget." "Iya, nanti sekitar jam 8 malam aku mau keluar sebentar. Ada kerjaan dikit yang mesti diurus," jawab Dayat, sengaja mencari alasan aman tanpa menyebutkan nama Mbak Putri. "Makanya ini aku nanya, mau makan apa? Biar sebelum aku pergi, makanannya udah ada di rumah buat kamu." Ajeng terdiam sejenak, lalu berjalan mendekati Dayat. Ia tersenyum manis sambil memegang lengan Dayat pelan
Sentuhan bibir Dayat di ceruk leher Ajeng membuat wanita itu memejamkan mata, kepalanya tertengadah ke belakang dengan napas yang mulai tak beraturan. Setiap kecupan Dayat terasa intens, meninggalkan jejak hangat yang membuat Ajeng menggeliat, merasa seolah seluruh pertahanannya runtuh seketika. Tangan Dayat yang masih melingkar di pinggang kini merayap naik, mengusap perut Ajeng dengan ritme yang memancing gairah. Ajeng kemudian berbalik badan, berhadapan langsung dengan Dayat. Napas mereka kini saling memburu. Dengan tatapan menantang namun penuh kerinduan, Ajeng bertanya dengan nada suara yang parau. "Jadi... sekarang beneran udah mau nih? Gak takut lagi ama Mbak Gita?" bisik Ajeng, matanya menatap tajam ke manik mata Dayat. Dayat tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberikan senyuman miring yang penuh percaya diri, sebuah jawaban yang sudah cukup menjelaskan segalanya. Tanpa membuang waktu, Dayat menggendong tubuh Ajeng dengan satu gerakan tangkas, mendudukkannya di a
Deru mesin mobil yang dikendarai Dayat membelah jalanan sore yang mulai padat oleh para pekerja yang pulang kantor. Sambil fokus menatap jalanan, perhatian Dayat teralih saat ponselnya yang diletakkan di dasbor tiba-tiba bergetar dan berdering. Layar ponselnya menampilkan nama "Mbak Putri"—tetangga rumah Luki yang beberapa waktu lalu mesin airnya sempat Dayat perbaiki. Dayat menekan tombol *speaker* pada layar ponselnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. "Halo, assalamualaikum, Mbak Putri?" "Waalaikumsalam. Sore, Mas Dayat... Lagi sibuk enggak?" terdengar suara manja Putri di seberang telepon, nadanya terdengar sedikit berbisik namun penuh intrik. "Ini lagi di jalan pulang kerja, Mbak. Kenapa ya?" tanya Dayat. Putri terkekeh pelan di seberang sana, suara tawa yang sengaja dibuat mendesah tipis. "Ini mumpung rumah lagi sepi banget, Mas. Anakku kebetulan lagi nginep di rumah neneknya sampai besok. Mas Dayat ke rumah ya malam ini... Aku kepengen diservis sama Mas Dayat nih
Selesai menyantap makan siang di rumah makan padang, Dayat dan Astrid tidak langsung kembali ke unit proyek. Mereka berjalan kaki menuju ke kantor pemasaran komplek perumahan untuk menemui Benny, sang manajer proyek. Begitu melangkah masuk ke dalam kantor pemasaran yang sejuk karena embusan AC, mereka langsung disambut oleh kesibukan para staf. Astrid segera menghampiri meja Benny yang berada di sudut ruangan. Keduanya langsung terlibat obrolan serius, membuka lembaran berkas dan laptop untuk membahas *report* serta *progress* pembangunan perumahan. Sementara itu, Dayat memilih duduk di sofa tunggu dekat lobi. Tak lama kemudian, Fitri—salah satu staf administrasi di sana—berjalan menghampiri Dayat sambil membawa secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap. "Eh, Mas Dayat. Ini Mas, kopinya diminum dulu," ucap Fitri sambil meletakkan cangkir tersebut di atas meja kaca di depan Dayat. "Wah, repot-repot amat, Mbak. Makasih banyak ya," ujar Dayat sambil tersenyum ramah. Fitr







