LOGINDayat langsung terduduk tegak di atas ranjang. Rasa kantuk dan lelahnya seketika hilang entah ke mana, berganti dengan rasa pusing yang mendadak menyerang kepalanya. Ia memijat pangkal hidungnya dengan gusar sambil menatap layar ponsel itu."Aduh, Ajeng... katanya kemarin enggak usah ngomong dulu sama Gita," gumam Dayat dengan suara berbisik, merutuki kecerobohan wanita itu yang ternyata malah membocorkan rencana mereka sendiri.Dayat menatap nanar papan ketik di ponselnya, kebingungan menyusun kata-kata balasan yang pas agar Gita tidak mengamuk atau merengek rewel seperti yang sudah ia duga sebelumnya.Dayat menarik napas dalam-dalam, lalu jempolnya dengan cepat mengetik balasan di layar ponsel, mencoba meredam suasana sebelum ketahuan berbohong lebih jauh.Dayat: Iya, Git. Aku sengaja anterin Ajeng. Kasihan dia udah lama banget pengen pulang ke desanya tapi enggak ada yang nemenin.Tidak butuh waktu lama, hanya dalam hitungan detik, status di atas ruang obrolan berubah menjadi typin
Dayat masih terpaku di tempatnya dengan pikiran yang berkecamuk bingung. Namun, sebelum pria itu sempat membuka suara untuk mengklarifikasi, Ajeng dengan cekatan langsung menyergap dan menggandeng erat lengan Dayat, menuntunnya masuk ke dalam rumah."Ayo, Mas, masuk dulu. Sini duduk," potong Ajeng cepat, mencoba mengalihkan suasana sembari mempersilahkan Dayat duduk di kursi kayu ruang tamu. Dayat hanya bisa pasrah dan mendudukkan dirinya dengan canggung.Tak berselang lama, Ibu Ratih kembali dari dapur membawa nampan berisi secangkir teh hangat yang aromanya sangat harum khas pedesaan. Beliau meletakkannya di depan Dayat, lalu ikut mengambil posisi duduk di kursi seberang bersama mereka."Diminum dulu tehnya, Nak Dayat," ucap Ibu Ratih ramah, lalu wajahnya berubah menjadi sedikit sendu saat menatap anak gadisnya. "Ibu itu sebenarnya ya... selama ini khawatir sekali sama Ajeng. Dia kerja di kota besar sendirian, merantau sampai hampir dua tahun enggak pulang-pulang. Pikiran Ibu tuh ke
Semburat cahaya fajar belum sepenuhnya muncul ketika Ajeng perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke samping, mendapati Dayat masih tertidur sangat lelap, efek dari "servis penutup" yang berlanjut hingga larut malam.Ajeng tersenyum mengingat kejadian semalam, lalu duduk dan menggoyang-goyang pelan bahu Dayat."Mas... Mas Dayat, bangun, Mas. Sudah subuh," bisik Ajeng lembut di dekat telinga Dayat.Dayat hanya melenguh pelan, menarik selimutnya lebih tinggi untuk menghalau dinginnya udara pagi. "Eghm... jam berapa, Jeng? Masih ngantuk banget aku..." gumam Dayat dengan suara yang masih serak dan mata yang terpejam rapat.Ajeng terkekeh geli, lalu menarik pelan selimut Dayat. "Sudah jam lima lewat, Mas. Katanya mau siangan jalan, tapi mending Mas bangun sekarang biar enggak kesiangan banget. Ayo, Mas, dipaksain bangun dulu, terus langsung mandi ya biar segar."Dayat mengosok matanya perlahan, mengumpulkan kesadaran yang masih tersisa sebelum akhirnya memaksakan diri untuk duduk di tepi ran
Dayat melangkah ke meja rias dengan napas yang masih sedikit memburu. Begitu layar ponselnya menyala di tengah temaram lampu kamar, ia mengernyitkan dahi membaca nama yang tertera di sana."Siapa, Mas?" tanya Ajeng dari atas ranjang, posisinya masih telentang dengan daster yang setengah tersingkap."Dita, Jeng," jawab Dayat pendek. Ia segera menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, Dit? Kenapa telepon malam-malam?"Dari seberang telepon, terdengar suara Dita yang agak sungkan. "Halo, Mas Dayat. Aduh, maaf banget ya, Mas, kalau aku mengganggu waktu istirahatnya Mas Dayat jam segini.""Iya, enggak apa-apa. Ada keperluan apa, Dit?""Ini, Mas, cuma mau memastikan saja. Hari Minggu besok jadi, kan, pasang alur instalasi listrik di rumah baru aku?" tanya Dita berbasa-basi memastikan.Dayat melirik ke arah Ajeng yang tampak menunggunya dengan wajah cemberut. "Oh, iya, jadi kok. Paling nanti agak siangan ya aku baru bisa ke sana.""Wah, iya, Mas, enggak apa-apa bang
Setelah terdiam beberapa saat sambil menimbang-nimbang risiko yang paling aman, Dayat akhirnya mengembuskan napas panjang. Ia menunduk untuk menatap Ajeng kembali, memantapkan keputusannya."Ya sudah, Jeng, mendingan kita enggak usah ngomong dulu deh sama Gita," ucap Dayat pada akhirnya. "Nanti kalau seandainya dia tiba-tiba tahu, kita bilang saja kalau urusan pulangnya mendadak gitu aja. Daripada kita ngomong dari sekarang, yang ada dia malah rewel duluan dan bikin pusing."Ajeng yang sejak awal memang tidak ingin ambil pusing hanya tersenyum manis lalu mengangguk patuh menuruti keputusan pria di sampingnya itu. "Iya, Mas Dayat. Aku ikut apa kata Mas saja bagaimana baiknya."Mendengar jawaban penurut dari Ajeng, Dayat merasa bebannya sedikit berkurang. Ia kemudian membereskan lembaran kertas di pangkuannya, menumpuknya menjadi satu, lalu memasukkan kembali berkas sisa unit rumah itu ke dalam tas kerjanya di atas meja.Dayat menenggak sisa kopi hitamnya yang sudah mulai hangat, lalu m
Dayat hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah ajaib Ajeng yang tiada habisnya menggoda imannya. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu menepuk pelan kantong plastik di atas meja."Sudah, ah. Jangan ngaco kamu, Jeng," kata Dayat sambil berusaha mengalihkan fokus. "Mendingan sekarang kamu siapkan piring sama nasinya di meja makan. Tolong pindahin sekalian seafood yang baru aku beli ini ke wadah. Aku mau mandi sebentar, badan sudah lengket semua."Ajeng mengerucutkan bibirnya manja, sedikit kecewa karena godaannya belum mempan. "Iya, iya, Mas Dayat... Ini aku siapin," sahut Ajeng akhirnya sambil mengambil bungkusan seafood tersebut.Dayat langsung melangkah cepat menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri. Guyuran air dingin malam itu sukses membuat pikirannya kembali jernih. Setelah selesai mandi, ia segera masuk ke dalam kamar, mengeringkan rambut, dan berganti pakaian santai dengan kaus oblong serta celana kolor pendek.Setelah penampilannya rapi, D







