LOGIN"Sini masuk, Mas, kok malah diam di situ?" panggil Cici, suaranya mengalun rendah dari ambang pintu yang terbuka.Dayat menelan ludah yang terasa kesat. Langkah kakinya bergerak maju dengan ragu, matanya menyapu sekeliling ruangan. "Mb-Mbak... ini ruangan apa?"Kamar ini nampak bersih dan tertata rapi dengan pendar lampu neon berwarna merah muda yang menyala remang. Di tengah ruangan, sebuah ranjang kayu besar dilapisi seprai satin berwarna merah marun. Di sekeliling sudut atapnya, untaian lampu hias kecil kelap-kelip benderang, menciptakan atmosfer yang sangat sensual."Penasaran ya? Makanya, sini masuk," sahut Cici, senyumnya semakin melebar.Jemari Cici mendadak menyambar pergelangan tangan Dayat, menariknya masuk melewati ambang pintu. Begitu Dayat berada di dalam, Cici dengan gerakan kilat menutup pintu kayu itu dan menguncinya dari dalam. Klek.Cici berbalik, merapatkan tubuhnya ke dada bidang Dayat. Ia berjinjit sedikit dan berbisik tepat di telinga pria itu, "Ini tuh... namany
"Bo-boleh, Mbak," sahut Dayat, menelan ludah yang tiba-tiba terasa kesat di tenggorokannya. Ia mengulurkan tangan ke kiri, menekan tombol untuk membuka pengunci pintu mobil otomatisnya."Makasih ya, Mas," ucap Cici dengan senyuman yang teramat manis.Ia menarik gagang pintu luar, lalu dengan gerakan luwes mendudukkan tubuh sintalnya di atas jok penumpang tepat di samping Dayat. Aroma wangi sabun dan minyak melati yang menyengat langsung memenuhi kabin mobil yang semula berbau pewangi jeruk. Daster batik yang dikenakannya sedikit tersingkap ke atas paha saat ia membetulkan posisi duduk, membuat Dayat hampir tidak kuasa menahan pandangannya agar tidak melirik kemolekan tubuh wanita itu dari dekat. Dayat menarik napas dalam-dalam, mencengkeram kemudi erat-erat, dan berusaha keras memfokuskan matanya ke hamparan jalan aspal di depan."Memangnya Mbak Cici mau ke mana?" tanya Dayat, mencoba mencairkan keheningan yang mendadak terasa begitu intim di dalam kabin.Cici memutar tubuhnya sedikit
"Malam, Mas Dayat," sapa Cici dengan suara parau yang sengaja direndahkan, mengalun lembut membelah desir angin malam.Dayat menurunkan bambu di tangannya dengan napas yang masih sedikit memburu. "Mbak Cici? Ngapain jam segini kelayapan sendirian di belakang rumah orang?"Cici memajukan langkahnya satu tapak, membuat jarak di antara mereka terkikis. Daster batiknya yang sebatas lutut bergoyang pelan. Dengan nada menggoda yang kental, ia menyahut, "Cuma cari angin aja kok, Mas. Terus... enggak sengaja ke sini."Dayat terdiam, namun otaknya berputar cepat. ‘Enggak mungkin sengaja cari angin sampai ke belakang rumah orang jam sebelas malam begini. Perempuan ini pasti punya niat lain,’ batin Dayat penuh selidik."Mas Dayat sendiri... ngapain jam segini belum tidur?" tanya Cici pelan, matanya menatap lekat manik mata Dayat di dalam keremangan."Y-ya... tadi aku lagi minum air," jawab Dayat, mendadak gugup mendapat tatapan seintens itu. Ia berdeham kecil untuk menetralkan suaranya. "Terus d
Jarum jam dinding di kamar Ajeng yang berdetak konstan menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan malam. Dayat perlahan membuka kelopak matanya, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan ruangan. Ia melirik ke arah jam di atas meja rias yang temaram; jarum pendeknya tepat menunjuk ke angka sebelas malam.Dayat menoleh ke samping. Di sana, Ajeng sudah terlelap dengan sangat pulas. Tubuh wanita itu terbungkus rapat oleh selimut tebal bermotif bunga, dengan kedua lengannya yang melingkar erat memeluk pinggang Dayat, seolah tidak mau kehilangan sosok pria di sampingnya bahkan di dalam mimpi.‘Duh, haus banget tenggorokan gue,’ gumam Dayat di dalam hatinya, menelan ludah yang terasa kesat.Dengan sangat hati-hati, Dayat mulai menggeser lengan Ajeng yang menempel di tubuhnya. Ia bergerak sesenti demi sesenti. Setelah berhasil meloloskan diri, Dayat bangkit dari kasur lantai dengan gerakan yang sangat halus. Sebelum melangkah pergi, ia menarik ujung selimut Aje
"Ah, si Mbak bisa aja," sahut Dayat dengan kekehan rendah yang terdengar santai. Ia melirik sekilas ke arah koridor menuju ruang tamu sebelum kembali menatap Cici. "Sudah, Mbak, sana mendingan temenin Ajeng di depan. Nanti kalau ditinggal kelamaan, dia malah ngomel-ngomel lho." Alih-alih langsung pergi, jemari lentiknya yang dingin perlahan naik, membelai lembut dagu Dayat selama satu detik penuh dengan tatapan yang sarat akan arti. Setelah memberikan kerlingan manja terakhirnya, Cici akhirnya membalikkan badan. Daster putih tipisnya melambai ringan seiring langkah kakinya yang anggun meninggalkan dapur untuk menghampiri Ajeng yang sudah menanti di ruang tamu.Begitu Cici tak lagi terlihat, Dayat mengembuskan napas panjang, mengusir ketegangan yang sempat mengunci dadanya. Ia segera berjongkok di depan kolong tempat cuci piring. Jemarinya yang cekatan mulai bergerak memeriksa badan mesin sanyo hitam yang terasa dingin. Dengan saksama, Dayat memutar kipas bagian belakang mesin menggun
"Ealah, Jeng, namanya juga di rumah sendiri," sahut Cici dengan suara yang sengaja dilembutkan. Ia membuka pintu rumahnya lebih lebar. "Ayo, Mas Dayat, Ajeng, masuk dulu ke dalam. Enggak enak ngobrol di teras malam-malam begini."Ajeng mendengus pelan, namun tetap melangkah masuk mendahului Dayat setelah melepaskan telapak tangannya dari mata pria itu. Mereka berdua kemudian mendudukkan diri di atas sebuah sofa busa usang yang terletak di ruang tamu."Kalian duduk dulu ya. Mbak buatkan teh hangat sebentar di belakang," ucap Cici sebelum membalikkan badannya dan melangkah menuju dapur dengan pinggul yang sengaja diayun lembut.Begitu sosok Cici menghilang di balik tirai pembatas ruangan, Ajeng langsung menggeser duduknya hingga benar-benar merapat ke sisi Dayat. Ia mencengkeram lengan Dayat dan berbisik dengan nada yang sangat tajam, "Awas aja ya kamu, Mas! Mata itu dijaga, jangan sampai jelalatan ngeliatin Mbak Cici terus!"Dayat menahan tawanya agar tidak pecah, mencoba mengontrol de
Teh Yuni membimbing Dayat masuk ke sebuah kamar kecil yang aromanya dipenuhi wangi rempah dan minyak esensial. Pencahayaannya temaram, menciptakan suasana yang semakin tertutup. "Mas, lepas bajunya ya. Terus pakai sarung ini, celananya dilepas juga sekalian biar nanti pijatannya ke
Tepat saat suasana di kamar terasa makin gerah bagi Dayat, suara pintu kamar mandi terbuka dan Gita muncul dengan rambut yang masih basah terbungkus handuk. Ia tampak segar dan sama sekali tidak merasa aneh melihat Teh Yuni duduk di tepi ranjang "suaminya". "Teh! Makasih banyak ya
Dayat menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis, mencoba mengusir bayangan godaan Teh Yuni maupun candaan "plus-plus" dari mulut Gita. Ia menepuk pelan puncak kepala Gita untuk menyudahi gurauan itu. "Udah, ah, jangan ngaco terus. Mending sekarang kamu buatin aku kopi hitam
Dayat menghela napas pendek, berusaha menenangkan detak jantungnya yang sempat berpacu cepat. Ia turun perlahan dari tangga lipat agar bisa berbicara lebih fokus. "Aduh, Tante... itu sebenarnya gara-gara Luki," jawab Dayat dengan nada yang dibuat seolah-olah ia adalah korban keada