LOGINKeesokan harinya, perjalanan panjang mereka akhirnya sampai pada tujuan. Mobil yang dikendarai Dayat memasuki area proyek pembangunan resort yang tampak megah sekaligus asri. Dayat memarkirkan mobilnya di area parkir yang agak teduh, lalu turun untuk meregangkan otot-otot tubuhnya setelah berjam-jam menyetir.Dayat bersandar di depan kap mobil sambil menyalakan sebatang rokok. Dari posisinya, ia memperhatikan sekitar area proyek yang masih setengah jadi, sembari menunggu Astrid yang sedang pergi ke kantor pengelola untuk mengambil kunci akses.Tidak lama kemudian, langkah kaki Astrid terdengar mendekat. Dayat menoleh dan langsung mendapati Astrid berjalan ke arahnya dengan senyuman cerah, sambil menggoyangkan gantungan di tangannya. Dayat memperhatikan jemari Astrid yang ternyata memegang dua buah kunci dengan gantungan yang berbeda."Gimana, Mbak? Udah beres urusan kuncinya?" tanya Dayat sambil mengembuskan asap rokoknya."Udah dong," jawab Astrid riang. Ia menunjukkan kedua kunci it
Mendengar pertanyaan blak-blakan dari Astrid, Dayat sempat menahan napas sesaat. Namun, instingnya sebagai laki-laki langsung mengambil alih. Ia tidak mau kalah lagi. Dayat menoleh, menatap langsung ke dalam mata Astrid dengan senyuman yang sengaja dibuat semanis dan senakal mungkin."Khusus buat Mbak Astrid mah... free," bisik Dayat, sengaja menekankan kata terakhirnya tepat di depan wajah cewek itu. "Gak perlu bayar pakai uang, Mbak."Astrid seketika melebarkan senyumnya, tampak sangat puas karena berhasil memancing reaksi yang ia inginkan dari Dayat.Namun, sedetik kemudian Dayat langsung memundurkan kepalanya, mengusap tengkuknya yang mendadak terasa hangat sambil tertawa renyah. Sisi canggungnya kembali muncul karena tidak terbiasa membahas urusan "ranjang" seserius ini dengan rekan kerjanya sendiri."Aduh... tapi lagian kenapa jadi malah ngomongin gituan sih, Mbak?" keluh Dayat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah. "Aku jadi canggung banget ini, Mbaaakk... hahahaha!"Ast
Setelah menutup telepon dan mematikan layarnya, Dayat mengembuskan napas panjang. Baru saja ia menjauhkan ponsel dari telinganya, terdengar suara derit pintu kamar mandi terbuka dari arah dalam rumah, disusul panggilan dari suara yang sudah sangat familier."Mas Dayat!" panggil Astrid.Dayat berbalik badan dan melongok ke dalam. Saat itulah matanya seketika membesar, dan gerakannya terhenti.Untuk pertama kalinya, ia melihat Astrid dalam keadaan yang jauh lebih terbuka dari sekadar daster tanpa bra. Wanita itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang disatukan ke atas, dan tubuhnya hanya berbalut sehelai handuk putih tebal. Handuk itu melilit pas di atas dadanya hingga sebatas pertengahan paha, mengekspos bahu, leher jenjang, serta kulit kakinya yang mulus dan masih menyisakan butiran-butiran air.Dayat tanpa sadar menelan ludah. Janjinya pada Gita beberapa detik yang lalu untuk 'tidak macam-macam' mendadak terasa seperti ujian yang sangat berat untuk dipertahankan.
Fokus mereka berdua pada layar laptop dan berkas denah proyek akhirnya membuahkan hasil. Tak terasa, matahari di luar sudah mulai bergeser ke barat, menandakan waktu sudah semakin sore. Semua persiapan, pembagian tugas, hingga taktik eksekusi untuk di resort besok sudah rampung dan tercatat rapi.Dayat meregangkan otot-otot lehernya yang kaku, lalu mulai merapikan barang-barang pribadinya dan memasukkannya kembali ke dalam tas kain. Namun, gerakan Dayat terhenti ketika mendengar suara Astrid."Kenapa gak menginap di sini aja, Mas?" tanya Astrid santai. "Toh kan besok kita berangkatnya bareng, biar kamu gak bolak-balik lagi."Dayat langsung terdiam dan berpikir sejenak. Nginap di sini?Melihat Dayat yang tampak menimbang-nimbang, Astrid mengangguk meyakinkan. Dayat yang dasarnya suka bercanda langsung menyunggingkan senyuman jail. Dengan nada menggoda, Dayat menyahut, "Hmm... kenapa gak tunggu besok aja sih, Mbak? Udah gak sabar banget apa?"Mendengar godaan telak itu, Astrid seketika
Dayat langsung mengembuskan asap rokoknya ke samping, mencoba menetralisir rasa salah tingkahnya. Sadar kalau dia sedang dipojokkan, Dayat memutuskan untuk meladeni candaan Astrid agar suasananya tidak terlalu kaku. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa dengan gestur yang lebih santai, lalu menatap Astrid sambil tersenyum penuh arti."Mbak, mending jangan usil godain saya deh," kata Dayat dengan nada memperingatkan, tapi ada nada bercanda di dalamnya. "Nanti kalau saya beneran kegoda, bisa bahaya ini urusannya."Bukannya takut atau mundur, Astrid justru menaikkan sebelah alisnya. Ia malah memajukan posisi duduknya, membuat jarak di antara mereka semakin terkikis hingga Dayat bisa merasakan kehangatan tubuhnya."Oh ya?" pancing Astrid dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, matanya menatap langsung ke manik mata Dayat. "Seberbahaya apa sih emangnya, Mas? Aku kok jadi penasaran..."Dayat terkekeh kecil, matanya melirik sekilas ke arah daster tipis Astrid sebelum kembali menatap wajah
"Sekarang?" tanya Dayat sedikit memastikan, memastikan ia tidak salah dengar. Astrid mengangguk mantap sambil memasukkan ponsel ke dalam tas kerjanya. "Ya sekarang, Mas. Toh habis ini kita kan gak ke mana-mana lagi. Mumpung lagi kosong, mending diberesin sekalian biar pas hari-H kita udah matang banget eksekusinya. Daripada nunggu besok-besok lagi." Dayat terdiam sejenak. Mengingat Gita yang malam ini akan menginap di tempat Mbak Niken, ia merasa tidak akan ada beban untuk mampir sebentar ke rumah Astrid. "Oke deh kalau gitu. Ayo." Tanpa membuang waktu, mereka berdua berjalan menuju mobil Dayat. Astrid menunjukkan arah jalannya sambil sesekali membuka *maps* di ponsel untuk memastikan rute tercepat ke rumahnya. Begitu mesin mobil menyala, suasana di dalam kabin terasa sedikit berbeda; lebih tertutup dan intim dibanding suasana kantor tadi. "Rumah kamu masih jauh dari sini, Dit?" tanya Dayat saat mobil mulai membelah kemacetan siang. "Enggak kok, Mas. Paling cuma dua puluh menit k
Semburat cahaya fajar belum sepenuhnya muncul ketika Ajeng perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke samping, mendapati Dayat masih tertidur sangat lelap, efek dari "servis penutup" yang berlanjut hingga larut malam.Ajeng tersenyum mengingat kejadian semalam, lalu duduk dan menggoyang-goyang pelan b
Setelah terdiam beberapa saat sambil menimbang-nimbang risiko yang paling aman, Dayat akhirnya mengembuskan napas panjang. Ia menunduk untuk menatap Ajeng kembali, memantapkan keputusannya."Ya sudah, Jeng, mendingan kita enggak usah ngomong dulu deh sama Gita," ucap Dayat pada akhirnya. "Nanti kal
Setelah mengantarkan Astrid sampai ke depan rumahnya, Dayat langsung memacu mobilnya membelah kemacetan sore untuk pulang. Rasa lelah setelah seharian berada di proyek perumahan mulai menjalar di tubuhnya.Saat melangkah masuk ke dalam rumah dan membuka pintu utama, indra penciuman Dayat langsung d
"Halo mas dayat, Nanti jangan lupa jam sepuluh ke kantor yaa.." ucap astrid di seberang telpon dengan suara yang terdengar formal namun ramah. Dayat melirik sekilas jam dinding yang menunjukkan masih jam 8 kurang, tepatnya jarum panjang berada di angka sebelas dan jarum pendek di angka tujuh le







