“Mar, Tuan mana?” Dika menelpon dari kantor pada Marta, karena harusnya Felix sudah tiba di sana.“Mar, Mar! Marta!” tegas gadis itu. Sensi sekali jika dipanggil hanya setengah nama.“Iya, Marta. Di mana Tuan Felix?” tanya Dika padanya, mengulang yang tadi.“Ya, sebentar lagi ke sana.” Marta baru menjawab ketika panggilan Dika padanya benar.“Lah, Marta. Daritadi, kalian belum berangkat kah?” Dika akhirnya mengomel.Semua orang sudah datang, termasuk para tamu yang sangat penting. Para Investor, termasuk yang invest dalam proyek Nando. Dirga juga sudah ada, karena Felix adalah tuannya.“Belum. Itu, anu… tadi Nyonya datang dan—”“Ya ampun, orang itu! Kenapa tidak bisa tahan sebentar saja? Setelah semua selesai, mereka akan bebas berapa lamapun!”Marta terdiam mendengar omelan Dika saat itu. Ia juga sebal dengan Felix, karena jika seperti ini pasti dirinya yang akan dipandang oleh orang lain karena tidak bisa mengatur tuannya dengan baik.“Iya, iya. Aku akan-““Marta!” panggil Felix yan
Read more