เข้าสู่ระบบ“A-apa maksud Ibu?” tanya Felix.Ibu tersenyum. Ia seolah tenang sekali karena satu persatu keinginannya tercapai, apalagi hal itu tentang Julia.“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ibu tahu, bahwa nasib kita akan sama. Tapi, ibu tulus sama Julia bukan karena semua kejadian ini. Ibu mencintai Julia sejak lama, ibu juga tahu bagaimana perasaan Felix sama kamu sebelumnya.”Julia terkadang merasa bersalah karena membiarkan Felix menunggu lama. Ia juga merasa bahwa Felix selalu memberi perhatian padanya meski dalam diam.Tapi memang, pengalaman mengajarkan banyak hal. Termasuk tentang rasa sakit hingga bisa bangkit.“Maaf,” ucap Julia pada keduanya.“Tidak, kamu tidak salah. Takdir yang membuat kita harus lewati ini semua. Sekarang, yang kita harus fikirkan adalah masa depan. Terutama, masa depan kalian berdua.”“Kita, Bu.” Julia memperjelas semuanya.Ibu Aida tersenyum. Wanita paruh baya itu kemudian menunduk untuk mencium kening Julia dan memberi restu pada keduanya.“Jadi, kapan Ibu
Felix membawa Julia keluar dari ruangannya, dan mereka segera tiba di parkiran tanpa ketahuan para wartawan.Perjalanan mereka sangat mulus karena semua sudah diambil alih oleh Dika dan Dirga, termasuk dengan Nando yang sibuk mencari keberadaan mereka berdua.“Kak Felix, kita mau ke mana?” tanya Julia padanya.“Ke tempat ibu,” jawab Felix dengan mata yang fokus menyetir mobil mewahnya itu.Tangan Felix sejak tadi tak lepas dari genggamannya pada tangan Julia, dan hanya itu yang bisa menenangkan dirinya.Tapi bagi Julia, ini terlalu terburu buru.Maksudnya, orang orang yang ada di kantor pasti sedang sangat sibuk untuk membahas tentang mereka berdua. Tapi, yang sedang diurus justru pergi.Kembali lagi, Felix memang tak pernah takut pada siapapun, kecuali jika ibunya atau Julia pergi dari sisinya.“Tak apa, tenanglah. Dika dan Marta pasti akan urus semuanya.” Felix kecup punggung tangan Julia dengan begitu mesra.Julia hanya bisa patuh meski hatinya bergemuruh. Ia sudah berulang kali m
“Julia, apa apaan kamu?” Nando terlihat sangat cemburu.Julia tak hiraukan apapun saat itu. Yang ada di fikirannya hanya Felix, terutama untuk kontrol dirinya.“Kak Felix, kenapa sampai seperti ini? Lia tahu, jika Kakak marah karena ibu terus mereka hina. Tapi, Kakak harus tahu bahwa di sini ada banyak orang.”Julia menyentuh wajahnya dan menatap Felix dengan begitu dalam. Saat Felix ingin membuang muka, ia raih kembali wajahnya agar mereka berdua terus berhadapan.“Kak Felix. Kakak dengar Lia, plis. Kakak tidak boleh seperti ini, ya? Ingat, tujuan kita tidak hanya sampai di sini saja.” Julia terus berusaha menenangkannya.Felix menarik napasnya panjang. Ia raih tangan Julia, ia genggam dan ia kecupi tanpa henti sebagai penenang hati.Untuk sekarang, sudah tak peduli lagi semua orang melihat mereka berdua. Apalagi, jika sudah tahu arah hubungan itu kemana.“Peluk?” Julia merentangkan tangan dan menawarkan bantuan padanya..Felix langsung dekap Julia, dan kali raut wajahnya mulai tenan
“Kak Felix!” Julia memekik memanggil namanya ketika sang kekasih mulai kehilangan kendali diri.Marta menahan Julia. Ia takut jika Felix juga bisa menyakitinya nanti, dan itu bahaya.“Kak Marta, dia tidak bisa dibiarkan!” Julia mencoba lepas darinya.Semua orang panik. Kru Tv dan yang lain sudah tak lagi bisa meliput semuanya, bahkan jaringan untuk seluler dimatikan.Maya yang mencuri kesempatan untuk merekam, saat itu juga Hpnya direbut oleh penjaga yang ada di sana. “Hey! Kalian berani sama saya?” ancam Maya padanya.“Berani, Nyonya. Tuan Dirga yang mengutus kami,” jawab pengawal itu.“Felix! Lepaskan putraku! Kau akan kulaporkan ke polisi!” ancam mama Rosa yang lari maju untuk menyelamatkan putranya.Tapi Felix langsung memberi tatapan yang begitu tajam, hingga langkah kaki mama Rosa langsung berhenti begitu saja di tempat seperti tersirap.“Aku tahu, Felix. Kau pasti terancam jika kami membahas tentang ibumu yang gila itu!” Nando masih saja meledek, padahal ia sudah dalam keadaan
“Rasakan! Kau fikir, kau bisa hidup bebas sesukamu!” ucap mama Rosa hanya dari gerakan bibirnya, terlihat meski mereka sangat jauh.Dika segera mengambil alih situasi, dan ia minta semua orang agar tetap tenang. Ia tak akan lanjutkan rapat jika semua orang yang ada di sana belum diam.Tak lupa, Dika juga lirik Dirga agar ia tetap tenang dan tidak terlalu beraksi untuk kejadian ini. Belum waktunya.“Jika semua sudah tenang, semuanya kita lanjutkan.” Dika menatap sang tuan, dan Felix memberi kode bahwa ia siap bicara untuk saat ini.“Silahkan, Tuan,” ucap Dika.Suasana kembali tenang, dan mereka tak sabar untuk menunggu Felix bicara tentang ibunya yang sudah lama tak ada kabar berita.Ini pancingan mama Rosa, dan semua seperti simalakama. Semua tetap akan menguntungkan pihak mereka, apapun jawabannya. Felix harus berhati hati karena rencana mereka pasti sudah matang sekali.“Terimakasih karena sudah peduli dengan ibuku. Jika kalian tahu bagaimana nasib ibuku, pasti kalian juga tahu apa
“Yes! Saya saksi jika mereka ada affair. Anda harus hati hati terhadapnya, karena tidak semua orang yang kita anggap baik juga akan baik dengan kita.”Seperti, Maya tengah membicarakan dirinya sendiri saat ini. Dia semangat sekali ketika membicarakan Julia dengan semua tuduhan yang ia berikan.“Oh, begitu?” Delia kembali memancingnya untuk bicara lebih banyak.“Ya, Nyonya. Bahkan demi suami Anda, dia rela berebut dasi dengan saya. Dasi itu sangat mahal. Dia bisa, nyaris mendorong saya yang sedang hamil besar ini sampai nyaris jatuh.”“Oh my God!” Delia pura pura kaget. Padahal isi di hatinya, kenapa Julia tidak mendorongnya dengan keras hingga Maya benar-benar jatuh.Tapi Delia paham dengan adik angkatnya itu. Ia tetap memikirkan bayi di dalam kandungan Maya yang tak berdosa, dibanding amarahnya yang membabi buta. Apalagi, bayi itu masih diperlukan untuk masalah ini. Dia adalah kunci.“Jadi, Nyonya. Anda harus jauhi Julia. Jauhkan suami anda darinya dan—”“Nyonya Fernando. Sepertinya,
Maya tatap Julia begitu detail dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dasi itu tetap ia pegangi dan tak jelas tak mau kalah dengan Julia yang juga menginginkannya.Tapi yang jadi perhatian Maya, bukan dasi itu. “Kenapa dia makin cantik? bersih, pakaiannya bagus-bagus. Siapa yang membiayainya saat ini
Julia keluar dari apartement setelah duduk sejenak. Ia yang selalu suka sibuk itu segera pergi ke penthouse untuk ambil beberapa pakaian Felix seperti yang sudah Marta arahkan padanya.Biasanya memang Marta yang sibuk, tapi kali ini harus Julia sebagai calon istri. Ia yang lebih berhak untuk hal in
Pagi itu, sarapan sudah tersedia dia atas meja, sengaja Felix pesankan masakan rumahan untuk penghuni apartement itu agar tidak perlu memasak banyak.Julia menatap semua menu yang ada di atas meja, rasanya tak rela. Maksudnya, ia sendiri juga bisa memasak semua itu. Tak perlu waktu lama dan jelas
"Apaan sih, Mas?" Julia mendadak heran."Sudahlah, kamu tak perlu lagi tutupi semuanya kali ini. Kamu jangan sampai merepotkan orang lain hanya karena sifat kekanakanmu itu.""Fernando!" tegur tuan Verhag padanya. Ia juga pasti sudah sangat geli saat ini."Tuan, saya tidak ada urusan dengan anda. S







