Suasana lobi kantor pagi itu sudah mulai terlihat ramai. Beberapa staff terlihat berlalu lalang dengan tumpukan berkas di tangannya. Perempuan itu mengulas senyuman kecil, mengingat kembali bagaimana Megantara meninggalkan kecupan singkat di dalam mobil beberapa menit yang lalu sebelum ia turun. “Bau-baunya kayaknya orang lagi kasmaran, nih!”Suara seseorang di belakang sana seketika membuat Hagia berjengit kaget. Suara siapa lagi jika bukan suara Arsenio? Hagia menolehkan kepala, kemudian mendecak pelan. “Apa sih, Sen. Nggak usah berisik, deh. Masih pagi ini!” bisik Hagia sambil melirik ke arah pintu lift, khawatir ada orang lain yang tiba-tiba masuk.“Kalau nggak berisik bukan Mas Arsenio, Mbak,” sahut Kaluna sambil menahan tawa melihat wajah Hagia yang mulai memerah.“Berangkat barengan nih, Mbak?” Arsenio menggerakkan alisnya naik-turun dengan tatapan menggoda. “Enak, ya? Udah nggak mikirin ongkos busway lagi.”“Lebay! Gue masih sanggup ya kalau cuma naik busway doang! Masalahny
Ler mais