Share

95. Pelecehan

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-06-21 22:58:24

Suasana lobi kantor pagi itu sudah mulai terlihat ramai. Beberapa staff terlihat berlalu lalang dengan tumpukan berkas di tangannya. Perempuan itu mengulas senyuman kecil, mengingat kembali bagaimana Megantara meninggalkan kecupan singkat di dalam mobil beberapa menit yang lalu sebelum ia turun.

“Bau-baunya kayaknya orang lagi kasmaran, nih!”

Suara seseorang di belakang sana seketika membuat Hagia berjengit kaget. Suara siapa lagi jika bukan suara Arsenio? Hagia menolehkan kepala, kemudian men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
so secret admirer ini masih ada kaaahhh , mengkhawatirkan sekaliii
goodnovel comment avatar
Mei
Aduh aku baca judulnya udah deg degan banget, kasihan Hagia …untunglah pelakunya segera kena balasan
goodnovel comment avatar
Fa-oel Irawan
mas megan uwuw banget dehhh
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   132. Hari Pernikahan

    Hagia diam termenung di depan cermin. Beberapa make up artist tengah sibuk merias wajahnya. Hari ini akhirnya tiba.Hari pernikahannya. Hagia menghela napas panjang. Telapak tangannya basah karena keringat dingin. Wajahnya terlihat tegang meski ia sudah berusaha berkali-kali menenangkan diri. “Mbak, gugup, ya?” tegur salah satu make up artist. Hagia meringis kecil. “Kelihatan banget, ya?”“Banget, Mbak. Tapi wajar, kok. Ini kan hari bahagia buat Mbak Hagia.”Hagia kembali tersenyum kecil, walaupun senyum itu tidak mampu menutupi rasa gugup yang sejak tadi menguasai dirinya.“Sudah selesai, Mbak. Ditunggu sebentar, ya.” Salah satu makeup artist melirik jam di pergelangan tangannya. “Kalau sesuai sama rundown, sih, sekitar empat puluh menit lagi.”Hagia mengangguk pelan. “Iya.”Tatapannya kembali tertuju pada pantulan dirinya di cermin. Gaun putih yang dikenakannya terlihat begitu sederhana. Tidak banyak detail berlebihan, persis seperti yang ia inginkan. Namun justru kesederhanaan i

  • Hello, Mantan!   131. Persiapan Pernikahan

    “Wow, you look so damn beautiful, Baby.”Suara Carmen seketika membuat Hagia mendengus pelan. Ditatapnya penampilan Hagia dari ujung kaki hingga ujung rambut. Kemudian tersenyum lebar.Siang itu, Carmen dan Hagia datang ke salah satu butik untuk fitting gaun pengantin.“Men, lo yakin gue disuruh pakai gaun beginian? Ini berlebihan nggak, sih? Kan gue udah bilang dari awal kalau gue maunya konsep yang sederhana aja?”Carmen tidak mengacuhkan ucapan Hagia, memilih memperhatikan setiap detail gaun Hagia. “Lho, ini juga yang paling sederhana, Sayang.” Carmen mengangkat bahu santai. “Lagian ini nggak berlebihan, kok.” Tatapannya kembali menyapu gaun yang dikenakan Hagia. “Mas Megan pasti langsung kesengsem lihat lo.”Hagia mendengus pelan. “Tanpa pakai gaun ini pun dia udah kesengsem sama gue!”Carmen langsung tertawa. “Iya, iya. Yang lagi jatuh cinta.”Perempuan itu kemudian berdiri di samping Hagia, memperhatikan pantulan sahabatnya di cermin besar.“Just look at you, Gi.” Hagia ikut men

  • Hello, Mantan!   130. Tidak Akan Lari Lagi

    “Kamu yakin mau melakukan ini, hm?”Megantara menoleh ke samping. Mobil yang mereka kendarai baru saja tiba di depan sebuah rumah mewah di bilangan Jakarta. Lelaki itu mematikan mesin, tetapi tidak langsung turun. Tatapannya masih tertuju pada Hagia yang duduk di sampingnya, sebelum kemudian menoleh ke arah teras rumah yang menyala terang. Hagia ikut mengarahkan pandangannya ke arah teras, kemudian tersenyum tipis. “Meskipun Mama nggak pernah menyetujui hubungan kita...” Tatapan Hagia beralih pada Megantara. “Tapi Mama tetap berhak tahu.”Megantara terdiam. Hagia kemudian meraih tangan lelaki itu. “Aku nggak datang ke sini buat memaksa Mama merestui kita.” Ia menggenggam tangan Megantara sedikit lebih erat. “Aku cuma nggak mau Mama tahu semuanya dari orang lain.”Megantara menatapnya lekat. “Kamu nggak takut?”Hagia tersenyum kecil. “Takut.” Jawabannya jujur. “Tapi aku lebih takut kalau suatu hari Mama menyesal karena tahu semuanya terlambat.”Megantara menghela napas pelan. Tangan

  • Hello, Mantan!   129. Our Home

    Mobil yang dikendarai Megantara akhirnya memasuki sebuah kompleks perumahan elite.Akasia Residence.Lelaki itu memelankan laju mobilnya sebelum akhirnya berhenti tepat di depan salah satu rumah yang berdiri di sebuah sudut kompleks.Megantara mematikan mesin kemudian menoleh ke samping.Hagia mengerutkan kening. “Mas, kita mau berkunjung ke rumah siapa?”Megantara tidak langsung menjawab. Ia justru membuka sabuk pengamannya, beranjak turun dari kursi kemudi. Kemudian berjalan mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Hagia.Hagia menatapnya heran. “Mas?”Megantara mengulurkan tangan. “Yuk.”“Mas, jawab dulu, dong. Ini kita mau ke rumahnya siapa, sih?” Hagia menerima uluran tangan itu, lalu turun dari mobil. “Jangan sok misterius gitu, deh!”Megantara hanya terkekeh pelan. “Nanti kamu juga tahu, Sayang.”Hagia masih terlihat kebingungan ketika mengikuti langkah Megantara. Namun baru beberapa langkah, pandangannya terpaku pada bangunan di hadapan mereka.Perempuan itu terdiam selama b

  • Hello, Mantan!   128. Selalu, Selamanya

    “Dia sengaja bikin kamu hamil supaya kamu mau balikan sama dia, kan?” Suara Auriga seketika menarik perhatian Hagia yang tengah menyesap tehnya. Ia menurunkan cangkirnya dengan hati-hati, kemudian tersenyum kecil.“Pa…”“Papa serius, Hagia…”Sore itu Hagia sengaja datang menjenguk Auriga ke kediaman keluarga. Meskipun Dokter Trenggana mengatakan bahwa keadaan Auriga telah membaik, namun tetap saja, Hagia tidak tenang jika belum memastikan keadaan sang ayah.“Papa masih ragu sama Mas Megan, ya?”Auriga menarik napas pendek. “Setelah apa yang terjadi sama kamu, kamu pikir Papa bakal rela melepaskan kamu begitu saja?”Hagia terdiam. Wajahnya tertunduk, menatap kedua tangannya yang bertautan di pangkuan. Lalu, “Aku ngerti kalau Papa khawatir sama aku. Aku juga tahu kalau Papa takut kalau aku akan terluka untuk kedua kalinya. Tapi, Pa, kali ini saja, tolong berikan kesempatan buat Mas Megan untuk menebus semuanya.”Auriga masih diam.Hagia menarik napas panjang. “Apa yang terjadi di masa

  • Hello, Mantan!   127. Rencana Pernikahan

    “Jadi… ko udah mantep, nih, nikah lagi sama Mas Megan? Nggak bakalan nyesel lagi?” tanya Carmen. Hagia tak langsung menjawab.Tangannya masih sibuk mengaduk plain yogurt di hadapannya. Ia memperhatikan tekstur putih yang perlahan tercampur sebelum akhirnya mengulas senyuman kecil.“Anak gue memang butuh seorang ayah, Men.” Carmen mengangguk pelan. “Tapi bukan karena kehamilan gue yang jadi alasan.” Hagia meletakkan sendoknya. “Kalau boleh jujur... gue masih mencintainya.”Carmen langsung mendengkus. “Kan memang dari dulu lo masih cinta sama Mas Megan. Lo aja yang selalu denial.”Hagia terkekeh kecil. “Ya... mungkin.”“Bukan mungkin. Emang iya!” cibir Carmen.Hagia hanya menggeleng, lalu kembali menyendok yogurt ke mulutnya. Carmen memperhatikannya beberapa saat sebelum kembali bertanya.“Terus... nyokap Mas Megan gimana?”Hagia terdiam.“Lo yakin nggak bakalan ada sesuatu yang buruk?”Kening Hagia mengernyit. “Misalnya?”Carmen mengedikkan bahu. “Si nenek sihir itu ngamuk di KUA pas

  • Hello, Mantan!   8. Jemputan Megantara

    Pagi itu dapur kecil di unitnya dipenuhi aroma hangat dari roti yang baru dipanggang dan telur yang sedang ia olah di atas wajan. Gerakan Hagia terlihat cekatan, hampir tanpa berpikir, tangan kirinya memegang spatula, tangan kanannya sesekali meraih bumbu atau memeriksa bekal yang sudah ia siapkan

  • Hello, Mantan!   7. Paniknya Hagia

    “Gue serius, Gi. Kasih tahu gue kalau mantan suami lo itu nyakitin lo.”Nada suara Carmen terdengar lebih dalam dari biasanya. Tidak ada selipan candaan. Tidak ada nada menggoda. Hanya kekhawatiran yang jujur, yang bahkan tidak ia tutupi.Hagia menghela napas pendek. “Iya.”Jawaban itu sederhana. N

  • Hello, Mantan!   6. Sahabat Hagia

    Hagia masih sibuk menekuri pekerjaannya meskipun waktu sudah beranjak malam. Cahaya dari layar laptop menjadi satu-satunya sumber terang di mejanya, memantul di matanya yang sejak tadi tidak benar-benar beristirahat.Di tangannya, beberapa lembar kerangka desain terbuka. Garis-garis bangunan yang t

  • Hello, Mantan!   5. Marriage is Scary, Right?

    Hagia masih duduk di meja kerjanya, tubuhnya sedikit condong ke depan, mata fokus menelusuri layar laptop yang sejak tadi tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.Beberapa berkas terbuka di sekitarnya. Mulai dari print out desain bangunan, daftar material, hingga jadwal meeting dengan kepala mandor

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status