ホーム / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 100. Maudy Adhiwangsa

共有

100. Maudy Adhiwangsa

作者: IKYURA
last update 公開日: 2026-06-26 20:13:27

Sesampainya di kantor, Megantara bahkan tidak sempat membalas sapaan karyawan yang berpapasan dengannya. Langkahnya yang lebar dan terkesan terburu-buru membuat semua orang heran dengan tingkahnya. Namun tidak ada satupun yang berani berkomentar.

Lelaki itu menyusuri koridor yang kini terlihat lengang menuju ruang direktur operasional. Kemudian tanpa mengetuk pintu, ia menerobos masuk ke ruangan Kafka.

Pintu ruangan itu terbuka. Kafka yang sejak fokus dengan layar monitor langsung menoleh.

“Gan
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (4)
goodnovel comment avatar
A mum to be
Duh, Nenek Maudy gak kasihan apa sama Cucunya? Kasihan Ranu juga loh
goodnovel comment avatar
Ami tsamarat
guna guna in maudy boleh gak ya
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
tiba-tiba donk Mas Mahesa masuk frame jadi cameo... hehehe kalo membunuh itu halal, mo kubunuh emaknya Megan. ibu Maudy yth, plis perasaan gak bisa dipaksakan ya. anda terlalu memaksakan kehendak anda utk hidup Megan. dia gak demen Ama Elvira masih dipaksa. heran deh..
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Hello, Mantan!   100. Maudy Adhiwangsa

    Sesampainya di kantor, Megantara bahkan tidak sempat membalas sapaan karyawan yang berpapasan dengannya. Langkahnya yang lebar dan terkesan terburu-buru membuat semua orang heran dengan tingkahnya. Namun tidak ada satupun yang berani berkomentar.Lelaki itu menyusuri koridor yang kini terlihat lengang menuju ruang direktur operasional. Kemudian tanpa mengetuk pintu, ia menerobos masuk ke ruangan Kafka.Pintu ruangan itu terbuka. Kafka yang sejak fokus dengan layar monitor langsung menoleh.“Gan.” Lelaki itu bangkit. Wajahnya terlihat begitu kacau dan frustasi.“Ada apa?” Megantara melangkah mendekat. Tatapan lelaki itu menyapu meja kerja Kafka yang kini dipenuhi map proyek dan beberapa dokumen yang masih terbuka.Raut waja Kafka terlihat lebih pucat dibandingkan saat mereka berbicara lewat telepon tadi.Kafka meraup wajahnya kasar sebelum akhirnya menjawab. “Proyek yang lagi berjalan... semuanya ditarik ke pusat.”Ruangan itu mendadak sunyi. Megantara menatap Kafka tanpa berkedip. Bah

  • Hello, Mantan!   99. One Step Closer

    “Mas, maaf...”Suara Hagia terdengar pelan di tengah riuhnya suasana kedai es krim. Tempat itu cukup ramai siang itu. Tawa anak-anak terdengar bersahut-sahutan dari area playground yang berada tepat di samping kedai. Sesekali terdengar suara mesin permainan dan panggilan para orang tua yang sedang mengawasi anak-anak mereka.Tak jauh dari sana, Raga terlihat sedang mengejar Ranu yang berlari sambil tertawa. Suara mereka samar-samar masih terdengar sampai ke tempat Hagia dan Megantara duduk.“Harus berapa kali aku bilang kalau ada apa-apa bilang sama aku?” tanya Megantara.Suara Megantara terdengar tenang. Namun Hagia tahu bahwa lelaki itu lagi-lagi kecewa karena tingkahnya. “Situasi kantor sedang nggak memungkinkan, Mas,” jawab Hagia pelan. “Dan aku juga nggak bisa mengabaikan Ranu begitu saja.”Megantara mengangguk kecil. Seolah memang sudah menduga jawaban itu.“Ya.” Lelaki itu menundukkan wajah. “Jawaban yang sangat kamu banget.”Hagia mendengus pelan. “Mas...”“Tapi aku serius.”

  • Hello, Mantan!   98. Kalimat Bijak Kafka

    “Gue tahu lo mau ngomong apa, Ka.” Megantara mengembuskan napas pelan. Tangannya masih terasa kebas setelah menghajar salah satu karyawannya tadi. “Terlepas dari hubungan gue sama Nadi, gue nggak membenarkan karyawan gue melakukan pelecehan fisik maupun verbal.”Kafka yang berdiri di hadapan Megantara mengembuskan napas panjang. Ia tidak terlalu banyak berkomentar soal keributan yang baru saja terjadi. Jujur saja, setelah mendengar sendiri apa yang diucapkan ketiga karyawan itu, ia bahkan kesulitan menyalahkan reaksi Megantara.“Gue tahu,” ujar Kafka. “Cuma masalahnya sekarang orang-orang mempertanyakan kedekatan lo sama Hagia.”“So what?” Megantara bersandar ke kursinya. “Kalau memang hubungan kami harus terbongkar, gue nggak akan mengelaknya, Ka.”Kafka menggeleng pelan. “Gimana sama Hagia? Lo yakin kalian bisa kompromi soal ini? Kalau hubungan kalian terbongkar, bisa jadi suasana kantor mulai nggak nyaman.”Megantara terdiam sesaat. Kafka menarik kursi di depan meja lalu duduk. “Da

  • Hello, Mantan!   97. Raga Chandrakanta

    “Saya nggak tahu kalau ternyata Alizar...”“Keponakan saya, Mbak.” Moreno tersenyum kecil. “Kebetulan orang tuanya lagi di luar kota. Jadi tadi mereka minta tolong saya buat datang ke sini.”“Oh...”Hagia mengangguk pelan. Entah kenapa, rasa canggung yang sempat muncul sejak tadi perlahan menghilang.Kini mereka berdiri di koridor sekolah yang mulai lengang. Beberapa orang tua murid sudah pulang membawa anak-anak mereka masing-masing.Dari tempat mereka berdiri, Hagia bisa melihat Ranu dan Alizar berlarian di halaman kecil dekat taman bermain. Padahal kurang dari satu jam yang lalu keduanya saling menangis. Sekarang mereka sudah tertawa bersama lagi.“Saya benar-benar minta maaf, Ren,” ujar Hagia tulus. “Saya nggak nyangka kalau Ranu bakal bertindak seperti itu.”Moreno menggeleng pelan. “Namanya juga anak-anak, Mbak. Mereka belum bisa mengontrol emosinya.” Tatapannya mengikuti sosok Ranu yang sedang berusaha mengejar Alizar. “Lihat sekarang. Mereka bahkan sudah lupa kalau tadi sempat

  • Hello, Mantan!   96. Insiden di Sekolah

    Setelah kekacauan yang terjadi di kantor, Hagia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya lebih awal.Pikirannya masih kacau. Inside di smoking area tadi masih terus terngiang-ngiang di kepalanya. Belum lagi setelahnya, pihak HR langsung turun tangan, beberapa karyawan mulai membicarakan kejadian tersebut, dan Megantara yang tampak masih menyimpan amarahnya. Namun sebelum Hagia sempat kembali fokus pada pekerjaannya, sebuah panggilan dari sekolah Ranu datang. Dan seketika semua hal itu terasa tidak penting. Dengan langkah tergesa Hagia meninggalkan meja kerjanya. Menurut penjelasan singkat dari wali kelasnya, Ranu terlibat perkelahian dengan salah satu teman sekelasnya.Ranu memukul seorang anak bernama Alizar. Dan Sejak menerima telepon itu, jantung Hagia tidak berhenti berdebar.Sepanjang perjalanan menuju sekolah, berbagai kemungkinan bermunculan di kepalanya.Apakah Alizar terluka?Apakah Ranu terluka?Apa yang sebenarnya terjadi?Karena selama ini Ranu bukan anak yan

  • Hello, Mantan!   95. Pelecehan

    Suasana lobi kantor pagi itu sudah mulai terlihat ramai. Beberapa staff terlihat berlalu lalang dengan tumpukan berkas di tangannya. Perempuan itu mengulas senyuman kecil, mengingat kembali bagaimana Megantara meninggalkan kecupan singkat di dalam mobil beberapa menit yang lalu sebelum ia turun. “Bau-baunya kayaknya orang lagi kasmaran, nih!”Suara seseorang di belakang sana seketika membuat Hagia berjengit kaget. Suara siapa lagi jika bukan suara Arsenio? Hagia menolehkan kepala, kemudian mendecak pelan. “Apa sih, Sen. Nggak usah berisik, deh. Masih pagi ini!” bisik Hagia sambil melirik ke arah pintu lift, khawatir ada orang lain yang tiba-tiba masuk.“Kalau nggak berisik bukan Mas Arsenio, Mbak,” sahut Kaluna sambil menahan tawa melihat wajah Hagia yang mulai memerah.“Berangkat barengan nih, Mbak?” Arsenio menggerakkan alisnya naik-turun dengan tatapan menggoda. “Enak, ya? Udah nggak mikirin ongkos busway lagi.”“Lebay! Gue masih sanggup ya kalau cuma naik busway doang! Masalahny

  • Hello, Mantan!   22. Protes Hagia

    Suara alarm yang nyaring memecah keheningan pagi itu. Tidak terlalu keras tapi cukup untuk membangunkan Hagia dari tidur yang tidak benar-benar nyenyak. Perempuan itu menggeliat pelan. Matanya mengerjap, terasa berat saat terbuka. Butuh selama beberapa detik untuk menyadari di mana ia berada. Arom

  • Hello, Mantan!   21. Kalah Telak

    “Pesanan atas nama Pak Megan!”Suara pramusaji itu membuyarkan lamunan Megantara yang menggantung tanpa arah. Lelaki itu yang berdiri bersandar di dekat konter langsung menegakkan tubuhnya, seolah baru saja ditarik kembali ke kenyataan.Ia melangkah mendekat, menerima kantong kertas berisi pesanan

  • Hello, Mantan!   18. Membujuk Megantara

    Suasana restoran siang itu tidak terlalu ramai, namun cukup untuk menyamarkan percakapan-percakapan pribadi di tiap mejanya. Cahaya matahari masuk dari jendela besar di sisi kanan ruangan, memantul lembut di permukaan meja kayu yang tertata rapi. Aroma makanan yang hangat bercampur dengan suara ala

  • Hello, Mantan!   17. Perempuan di Masa Lalu

    “Sumpah, cewek tadi siapa, Anjir?”Suara Arsenio yang meledak tanpa aba-aba langsung memecah keheningan di area kubikel mereka. Beberapa kepala di sekitar mereka sempat menoleh sekilas. Namun, Arsenio tampak tak peduli.Lelaki itu bersandar di kursinya tangannya terlipat di belakang kepala, ekspres

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status