Home / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 93. Rasa Bersalah Megantara

Share

93. Rasa Bersalah Megantara

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-06-19 14:08:28

“Aku takut, Mas. Aku takut kehilangan Ranu.” Suara Hagia nyaris tidak terdengar. “Aku udah kehilangan kamu.” Air matanya kembali jatuh. “Aku nggak sanggup kehilangan anak aku juga.”

Kalimat itu membuat rahang Megantara mengeras. Darahnya mendidih. Bukan kepada Hagia, melainkan pada kenyataan bahwa perempuan yang dicintainya harus menghadapi semua itu sendirian.

Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Berusaha menahan luapan emosi yang tiba-tiba memenuhi dadanya.

Lama Megantara hanya di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
semangat Megan.. maju terus pantang mundur..
goodnovel comment avatar
Fa-oel Irawan
semangat mas megan pantang menyerah ya
goodnovel comment avatar
Retno Ririn
nggak yakin Megan bisa lepas dr mama bejadnya yg tergila2 punya menantu iblis macam El
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   95. Pelecehan

    Suasana lobi kantor pagi itu sudah mulai terlihat ramai. Beberapa staff terlihat berlalu lalang dengan tumpukan berkas di tangannya. Perempuan itu mengulas senyuman kecil, mengingat kembali bagaimana Megantara meninggalkan kecupan singkat di dalam mobil beberapa menit yang lalu sebelum ia turun. “Bau-baunya kayaknya orang lagi kasmaran, nih!”Suara seseorang di belakang sana seketika membuat Hagia berjengit kaget. Suara siapa lagi jika bukan suara Arsenio? Hagia menolehkan kepala, kemudian mendecak pelan. “Apa sih, Sen. Nggak usah berisik, deh. Masih pagi ini!” bisik Hagia sambil melirik ke arah pintu lift, khawatir ada orang lain yang tiba-tiba masuk.“Kalau nggak berisik bukan Mas Arsenio, Mbak,” sahut Kaluna sambil menahan tawa melihat wajah Hagia yang mulai memerah.“Berangkat barengan nih, Mbak?” Arsenio menggerakkan alisnya naik-turun dengan tatapan menggoda. “Enak, ya? Udah nggak mikirin ongkos busway lagi.”“Lebay! Gue masih sanggup ya kalau cuma naik busway doang! Masalahny

  • Hello, Mantan!   94. I Love You

    Megantara menggeliat pelan di atas tempat tidurnya. Sayup-sayup suara alarm terdengar dari atas nakas. Dengan mata yang masih setengah terpejam, lelaki itu mengulurkan tangan untuk meraih ponselnya.Namun sebelum berhasil menjangkaunya, gerakannya tertahan. Ia menunduk, merasakan lengan kirinya terasa berat. Detik itu juga sudut bibirnya terangkat. Hagia terlihat masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat begitu damai dengan salah satu tangannya melingkar di pinggang Megantara.Setelah mematikan alarm, lelaki itu kembali pada posisinya. Wajahnya menunduk, menatap wajah Hagia dengan lekat. Seolah masih belum percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi.Semalam terasa seperti mimpi yang sangat panjang. Setelah semua kesalahpahaman yang selama bertahun-tahun menggunung akhirnya terbongkar, mereka memutuskan untuk menghentikan pertengkaran itu. Terlebih saat Ranu mulai merengek mencari Hagia. Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke unit perempuan itu untuk menemui putranya.Sep

  • Hello, Mantan!   93. Rasa Bersalah Megantara

    “Aku takut, Mas. Aku takut kehilangan Ranu.” Suara Hagia nyaris tidak terdengar. “Aku udah kehilangan kamu.” Air matanya kembali jatuh. “Aku nggak sanggup kehilangan anak aku juga.”Kalimat itu membuat rahang Megantara mengeras. Darahnya mendidih. Bukan kepada Hagia, melainkan pada kenyataan bahwa perempuan yang dicintainya harus menghadapi semua itu sendirian.Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Berusaha menahan luapan emosi yang tiba-tiba memenuhi dadanya.Lama Megantara hanya diam. Pandangannya masih tertuju pada Hagia yang berdiri beberapa langkah darinya.Perempuan itu terlihat rapuh. Jauh lebih rapuh daripada yang selama ini ia tunjukkan. Dan itu membuat dadanya terasa semakin sesak.“Dua tahun, Nadi.” Akhirnya Megantara bersuara. “Dua tahun kamu bikin aku gagal buat jaga dan melindungi kamu, tahu nggak?”Hagia mengangkat kepalanya. Air matanya masih jatuh membasahi wajahnya. “Mas...”“Aku ini suami kamu waktu itu.” Suara Megantara mulai bergetar. “Apapun yang terja

  • Hello, Mantan!   92. Fakta Sesungguhnya

    “Tadi Bapak bilang, katanya mau ngobrol sama Mbak Hagia. Mbah Hagia sudah ketemu sama Bapak?”Mendengar perkataan itu, Hagia menelan ludahnya dengan susah payah. Entah kenapa sejak menerima telepon dari Megantara tadi, perasaannya tidak pernah benar-benar tenang. “Jam berapa dia pulangnya, Mbak?” tanya Hagia.“Barusan kok, Mbak. Mungkin 30 menitan yang lalu. Tadi sempat ke sini sebentar buat nitip Ranu karena ada yang ingin dibicarakan sama Mbak Hagia. Begitu katanya.”Hagia mengangguk-angguk. Merasakan tak nyaman karena ada sesuatu yang membuat dadanya terus terasa sesak.“Titip Ranu bentar ya, Mbak. Saya nemuin Mas Megan dulu.”“Siap, Mbak.”Hagia memaksakan senyum kecil. Kemudian ia berbalik meninggalkan unit untuk menuju ke unit Megantara. Koridor apartemen terasa lebih sunyi dari biasanya. Langkah Hagia bergema pelan di sepanjang lorong. Semakin dekat menuju unit Megantara, semakin keras detak jantungnya.Ia bahkan tidak tahu kenapa dirinya segugup ini. Mungkin karena nada suar

  • Hello, Mantan!   91. Kalutnya Megantara

    “Gan, belum balik?”Suara Kafka memecah keheningan di dalam ruangan itu. Megantara yang sejak tadi duduk membeku di balik meja kerjanya tidak langsung menjawab.Tatapannya masih tertuju pada sesuatu di hadapannya. Seolah pikirannya berada jauh di tempat lain.Kafka mengernyit. Begitu menutup pintu ruangan tersebut, lelaki itu langsung menyadari ada yang tidak beres. Megantara tidak terlihat seperti biasanya. Lelaki itu terlihat berantakan. Kemeja yang biasanya rapi kini sedikit kusut. Dasinya sudah dilepas entah sejak kapan. Dan entah apa yang membuatnya bisa sekacau ini. “Gan?” Kafka melangkah mendekat. Namun tepat saat matanya jatuh ke atas meja kerja Megantara, langkahnya langsung terhenti. “What the—”Kafka tertegun. Di atas meja berserakan beberapa lembar foto. Foto yang tanpa perlu menjelaskan saja, Kafka tahu apa yang terjadi di sana.“Gan...” Kafka mengambil salah satu foto itu. “Ini apa?”Megantara tak langsung menjawab. Ia meraup wajahnya kasar. “Gue nggak tahu harus nyala

  • Hello, Mantan!   90. Harus Jujur

    “Jadi... sekarang udah nggak denial lagi, nih?”Carmen yang tengah menikmati semangkuk ramennya mengangkat sebelah alis. Senyum jahil langsung terbit di wajah perempuan itu.“Bukan lagi yang kemarin-kemarin nolak mentah-mentah, terus bilang mau fokus sama hidup sendiri. Eh, faktanya masih cinta mati.”Hagia mendecak pelan. Terlihat enggan sekali menanggapi ledekan Carmen. “Nggak usah lebay deh, Men.”“Lho, siapa juga yang lebay, sih? Kan gue cuma mau konfirmasi, doang.”Sementara Hagia memilih kembali menyeruput kuah ramen di hadapannya. “Lo tuh hobi banget ya datang tiba-tiba begini?” gerutu Hagia. “Nggak ada kerjaan apa gimana?”“Lho, suka-suka gue dong.” Carmen menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kan gue bosnya.”“Bos apanya. Lo cuma manfaatin jabatan buat ganggu hidup orang.”“Benar sekali.” Carmen menjentikkan jarinya, kemudian terkekeh. “Emang mau ganggu siapa lagi kalau bukan lo?”Sore ini Carmen memang tiba-tiba muncul di kantor dan menyeretnya keluar untuk menikmati ramen di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status