"Sempurna. Kini suasana di mansion terasa semakin kacau," bisik Johnny dengan nada yang sangat rendah, hampir tidak terdengar, di balik pilar penyangga lorong. Senyumnya yang tipis namun merendahkan adalah racun yang meresap ke dalam tembok-tembok mansion yang kini perlahan runtuh dari dalam. Sementara itu, di balik pintu kamarnya yang tertutup rapat, Marlina terduduk di lantai, punggungnya bersandar pada pintu yang dingin. Ia mencubit pahanya sendiri sekuat tenaga, meninggalkan bekas kuku yang dalam, berharap rasa sakit fisik itu bisa mengalihkan rasa sesak yang menghantam dadanya. "Marlina, berhentilah menangis. Dasar bodoh!" ucapnya pada diri sendiri dengan suara bergetar. Ia menghapus air matanya dengan kasar, namun tetesan itu seolah memiliki kehidupannya sendiri, terus membasahi pipinya yang memerah. "Kenapa kau begitu lemah?" bisiknya lagi, napasnya tersendat. "Ini bukan kau. Marlina yang kuat tidak akan menangis hanya karena tatapan sinis seorang pria." Namun, logikanya kal
Baca selengkapnya