"Kau gila, Edward. Kau terus saja bermain dengan pikiranmu sendiri.""Kau pikir kau bisa bermain-main dengan kesabaranku, Marlina?" suara Edward bergema di ruang kerja yang luas itu, dingin dan tajam seperti silet. Marlina berdiri tegak, meski kakinya yang baru sembuh masih sedikit berdenyut. Dia menatap lurus ke mata pria itu, tanpa rasa takut. "Aku tidak bermain, Edward. Jika aku adalah pengkhianat seperti yang kau tuduhkan, aku sudah lama tidak bernapas di sini." Edward melangkah mendekat, perlahan namun pasti, hingga jarak mereka hanya sejengkal. Dia mencengkeram tengkuk Marlina, bukan dengan kasar, tapi dengan dominasi mutlak yang membuat wanita itu harus mendongak. "Keberadaanmu adalah anomali. Kau adalah sesuatu yang seharusnya kubuang, namun entah mengapa, aku membiarkanmu tetap bernapas di dekatku." Edward menarik Marlina hingga tubuh wanita itu terhuyung ke depan, lalu memaksanya berlutut tepat di atas pecahan cangkir porselen yang tadi ia jatuhkan. "Ah!" Marlina mendesi
Read more