"Kau tidak akan melihatku goyah, Edward Mahesa," bisik Marlina pada kesunyian ruang tamu vila, matanya menatap tajam ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Ia bangkit dari sofa, merapikan letak pistol di pinggangnya dengan gerakan yang kaku. "Jika kau ingin Kevin kembali, maka kau akan mendapatkan Kevin yang paling dingin yang pernah kau kenal." Keesokan paginya, suasana di dalam sedan hitam yang membawa mereka kembali ke mansion terasa seperti ruang hampa udara. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Edward, dengan setelan jas mahalnya yang sempurna, hanya menatap tablet di tangannya, jemarinya bergerak lincah menelusuri data pasar yang bergejolak. Sesampainya di kantor, rutinitas membosankan namun mematikan segera mengambil alih. Marlina, dalam wujud Kevin, berdiri tegak di balik punggung Edward. Ia menyapu setiap sudut ruangan, mendeteksi setiap gerak mencurigakan dari klien-klien luar negeri yang berdatangan. "Tidakkah kau lihat?" bisik Rika, sekretaris Edward, kepada rekan
Read more