“Nona Arunika…” Suara itu datang dari ambang pintu, lembut tapi pasti. Fara berdiri di sana dengan sikap tegak, matanya cepat menangkap seluruh isi ruangan ranjang, alat monitor, posisi Aru, dan sosok Bisma yang berdiri sangat dekat di sampingnya. Ada jeda kecil di wajahnya, bukan kaget, tapi menghitung. “Fara… terima kasih sudah datang,” ucap Aru, memeluknya, dan suaranya lebih stabil dibanding sebelumnya, meski jejak kelelahan masih tertinggal di ujung napasnya. Fara melangkah masuk, namun langkahnya melambat saat jaraknya semakin dekat. Pandangannya sempat berhenti pada Bisma, membaca posisi, membaca jarak, membaca hal-hal yang tidak diucapkan. “Maaf… tapi dia…” ucap Fara hati-hati, kalimatnya menggantung. Aru menoleh sedikit, lalu tanpa ragu berkata, “Ah iya, ini Bisma. Bisma… ini Fara, orang kepercayaan ayah dan aku.” “Halo,” jawab Fara singkat, nadanya sopan tapi tetap menjaga batas. Bisma hanya mengangguk tipis, tatapannya tenang namun tidak kosong, seperti seseorang yang
Last Updated : 2026-04-28 Read more