“Gerry, Raka, hubungi Fara. Batalkan perpindahan. Kita yang bergerak.”Suara Bisma tenang, tidak keras, tetapi mengunci ruang tanpa perlu diulang. Gerry langsung menekan ponselnya, berbicara cepat dengan nada rendah, sementara Raka sudah bergerak menuju pintu, langkahnya panjang dan pasti, seperti seseorang yang tahu waktu tidak lagi memberi ruang untuk ragu.Aru menatap Bisma, matanya turun ke bahunya yang sempat tertarik saat mengenakan jaket. Gerakan kecil itu tidak luput darinya.“Bisma… bahumu…” ucapnya pelan.“Aku tidak apa-apa,” jawab Bisma singkat, namun tangannya sempat berhenti sepersekian detik sebelum melanjutkan, seperti tubuhnya mengingatkan sesuatu yang sengaja ia abaikan.Aru melangkah mendekat, jaraknya kini hanya sejengkal. Tangannya naik, hampir menyentuh bahu itu, lalu berhenti di udara.“Bisma…”Nada suaranya berubah, lebih dalam,dan menahan.“Jangan pergi.”Sunyi jatuh di antara mereka. Suara langkah Gerry di luar terdengar samar, lalu hilang saat pintu utama te
Last Updated : 2026-05-02 Read more