Duke Arhad langsung menatap putrinya dengan tajam, ia kaget dengan perkataan Kalea yang barusan terdengar seperti luapan keputusasaan, tetapi dari wajah putrinya, ia tahu bahwa perempuan itu benar-benar sudah berada di batas kemampuannya untuk bertahan."Kalea."Kalea justru semakin terisak. Bahunya bergetar hebat, sementara air mata terus mengalir membasahi wajahnya. Ia berusaha menghapusnya dengan tangan, tetapi semakin ia mencoba menahan tangis, semakin sulit pula napasnya diatur."Aku tidak bisa hidup seperti ini," katanya terbata-bata. "Aku tidak bisa, Ayah. Aku tidak tahu bagaimana harus hidup kalau semuanya sudah berakhir."Duke Arhad akhirnya melangkah mendekat. Ia berdiri tepat di hadapan putrinya dan memegang kedua bahunya dengan kuat, memaksanya untuk menatapnya."Jangan bicara seperti itu lagi."Kalea menggeleng sambil menangis."Aku kehilangan semuanya!""Kau masih memiliki keluargamu.""Tidak!" Kalea membalas dengan suara pecah. "Apa gunanya keluarga kalau tidak ada yan
Read more