MasukDuke Arhad menatap Lionel.“Semuanya sudah kuatur. Kau hanya perlu bersabar.”Lionel menyipitkan mata, seolah ingin memastikan bahwa Duke Arhad benar-benar memiliki rencana dan bukan sekadar berusaha menenangkannya. Namun, Duke Arhad tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Ia hanya berdiri dengan sikap tenang, sama sekali tidak menunjukkan kegelisahan seperti yang dirasakan Lionel.Viola pun memilih diam. Ia mengenal ayahnya dengan baik. Jika Duke Arhad sudah mengatakan bahwa sesuatu telah diatur, berarti pria itu memang memiliki rencana yang belum ingin diungkapkan. Meski demikian, ia tetap tidak bisa sepenuhnya merasa tenang. Keadaan mereka sekarang jauh berbeda dari sebelumnya, terutama setelah Dior mengambil alih kekuasaan dan memperketat pengawasan di seluruh kekaisaran.Duke Arhad kemudian berbalik, bersiap meninggalkan tempat itu.“Tunggulah kabar dariku. Jangan melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanku.”Lionel mengerutkan kening, tetapi tidak membantah. Ia hanya memperhatikan
Dior duduk di ruang kerjanya, dikelilingi tumpukan dokumen yang harus diperiksa dan disetujui. Sejak pagi, ia belum selesai bekerja ketika Vale kembali meletakkan setumpuk dokumen baru di atas mejanya.Dior mengangkat wajah dan menatap Vale sekilas, ia kemudian mengalihkan pandangan ke dokumen tersebut.“Ini masih belum akan selesai?”Vale tidak langsung menjawab. Ia justru memandang tumpukan dokumen di atas meja, kemudian kembali menatap Dior dengan ekspresi datar.“Itulah sebabnya saya tidak pernah setuju Anda menjadi Kaisar.”Dior mengangkat pandangannya.Vale tetap berbicara seolah baru saja menyampaikan pendapat biasa.“Anda lebih cocok menjadi jenderal perang atau Grand Duke. Mengurus wilayah Rurich saja tidak serumit ini. Setidaknya, ketika menjadi jenderal, Anda hanya perlu memikirkan strategi, pasukan, dan bagaimana memenangkan perang. Setelah semuanya selesai, Anda bisa kembali beristirahat.”Dior menatap Vale beberapa saat, lalu mengembuskan napas pendek. Ia menyandarkan tu
Siera membeku, ia hanya menatap Zelka tanpa berkata-kata. Ia membutuhkan waktu untuk memahami maksudnya. Jari-jarinya yang berada di atas sampul buku perlahan mengendur, sementara pikirannya langsung kembali kepada kehidupan sebelumnya, kepada hari-hari yang ingin ia lupakan, dan kepada akhir menyakitkan yang telah membawanya kembali ke masa lalu.“Kematian...” Siera mengulang kata itu pelan, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah mendengar. “Maksudmu, kematianku di kehidupan sebelumnya?”Zelka mengangguk.Siera menundukkan pandangan sesaat. Ia tidak pernah menganggap kematiannya sebagai sesuatu yang mudah dibicarakan, terlebih dengan seseorang yang tidak menyaksikan seluruh kejadian itu secara langsung.Selama ini, ia berusaha menjalani kehidupan yang sekarang tanpa terus-menerus menoleh ke belakang. Ia telah membatalkan pertunangannya dengan Erick, menjaga jarak dari orang-orang yang pernah menyakitinya, dan memilih jalan yang berbeda dari kehidupan sebelumnya.Akan tetapi, ny
Clarisse terdiam sesaat.Ia telah menunggu kedatangan Erick cukup lama dan sengaja mempersiapkan diri agar dapat menyambutnya dengan baik. Ia berharap pria itu akan sedikit lebih ramah setelah kembali ke kediaman Arhad, tetapi yang diterimanya justru sikap dingin seolah keberadaannya hanya menambah gangguan.“Yang Mulia,” katanya lagi, kali ini dengan suara yang mulai bergetar. “Sampai kapan Anda akan terus mengabaikan saya?”Erick tidak menjawab. Ia berjalan melewatinya, berniat menuju kursi yang berada di dekat jendela. Baginya, percakapan itu tidak perlu dilanjutkan. Ia sedang tidak ingin menghadapi siapa pun, terlebih seseorang yang justru menuntut perhatian darinya ketika pikirannya sendiri masih dipenuhi berbagai persoalan.Clarisse berbalik mengikuti gerakannya.“Apakah ini karena Lady Siera Elvorn lagi?”Langkah Erick terhenti. Ia menoleh sedikit, lalu menatap Clarisse dengan ekspresi datar.“Tidak ada hubungannya dengan Siera.”Clarisse merasa semakin terluka mendengar jawaba
Ratu menunduk sambil menangis tanpa suara. Ia tidak menyangka Erick akan mengetahui rahasia yang selama ini disimpannya.Erick memperhatikan ibunya dalam diam. Ia tidak mendekat untuk menghiburnya, juga tidak menunjukkan rasa iba ketika melihat air mata wanita itu.“Daripada terus terkurung di sini dan bertingkah seperti orang gila sampai mereka harus merantaimu, mengapa Ibu tidak kembali menjadi wanita yang menguasai Arhad?”Ratu perlahan mengangkat kepalanya.Ia menatap Erick seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya. Selama ini, putranya datang ke hadapannya hanya untuk melontarkan perkataan yang menyakitkan, seakan ingin membuatnya menyadari segala kesalahan yang pernah dilakukan. Erick membicarakan sesuatu yang berbeda. Ia tidak sedang mengungkit masa lalu semata, melainkan mengingatkan Ratu bahwa wanita itu masih memiliki sesuatu yang bisa digunakan untuk mengubah keadaannya.Erick membalas tatapannya dengan tenang.“Bukankah Kakek paling menyayangi Ibu?”Ratu te
“Kau masih berani bertanya kepadaku apa yang harus kulakukan?”Suara Ratu memecah keheningan kamar. Ia masih berdiri dengan susah payah, sementara rantai yang melingkari pergelangan kakinya membatasi gerakannya. Wajahnya dipenuhi kemarahan ketika menatap Erick, seolah putranya itu baru saja melakukan penghinaan yang tidak bisa dimaafkan.“Setelah semua kesulitan yang kuhadapi untuk membesarkanmu, setelah semua yang kulakukan agar kau bisa berdiri di tempat yang seharusnya menjadi milikmu, kau bahkan tidak tahu cara berterima kasih kepadaku!” Ratu mengepalkan tangannya. “Sekarang kau datang ke sini dan berbicara seolah-olah akulah penyebab semua masalahmu!”Erick menatapnya beberapa saat. Kemudian, sebuah tawa pendek keluar dari bibirnya. Tidak ada kegembiraan dalam suara itu. Ia justru terlihat seperti seseorang yang akhirnya memahami betapa ironisnya seluruh keadaan yang sedang mereka hadapi.“Berterima kasih untuk apa?”Ratu tertegun.Erick tidak menunggu jawaban. Ia melangkah mende
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau
Siera meneguk ludah. Ia memang merasa malu karena tertangkap basah, namun ia tetap berdiri tenang, berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya.“Maaf… saya tidak bermaksud mendengar pembicaraan Anda berdua.” Siera membungkuk, menjaga sopan santunnya.Saat ia mengangkat kepala, ia bisa melihat pandanga
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis







