Suasana di dalam kabin pesawat Boeing 737 itu masih diselimuti ketegangan yang pekat, meski para pembajak sudah tidak lagi terlihat di lorong kelas bisnis.Ririn, dengan tangan gemetar, membawakan sebotol air mineral untuk Karina yang masih terduduk lemas di kursinya. Wajah pramugari cantik itu pucat pasi, napasnya masih memburu akibat trauma ditodong senjata api.Devran berdiri di tengah kabin, suaranya yang bariton menggema tenang namun tegas melalui sistem pengumuman, meminta seluruh penumpang untuk tetap tenang karena situasi mulai terkendali.Namun, mata tajam sang kapten tidak bisa lepas dari Karina. Ia berjongkok di samping kursi Karina, berbisik sangat pelan, "Tenang, Kar. Semuanya bakal baik-baik saja. Percaya sama aku."Karina melirik Devran dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa syukur, namun juga kebingungan yang luar biasa. Di saat nyawa di ujung tanduk, Devran justru memilih menyelamatkannya terlebih dahulu daripada Renata."Terima kasih, Kapten," bisik Karina lir
Last Updated : 2026-09-08 Read more