“Izinkan dia masuk,” ucap Shen Mo datar. “Baik, Yang Mulia.” “Tapi, tunggu, aku, tidak—Gege!” Yuze memprotes panik, tetapi suaranya tenggelam oleh derit pintu yang terbuka. Xiwu melangkah masuk. Sosoknya tampak lebih segar meskipun langkahnya masih menyiratkan sisa-sisa kelemahan pasca demam. Ia telah mengenakan jubah kebesaran yang rapi, rambutnya disanggul anggun dengan tusuk konde mutiara sederhana yang menjuntai halus di sisi wajahnya. Wibawanya sebagai Putri Mahkota terpancar kuat, seolah kejadian menegangkan di perbatasan tidak pernah terjadi. Ia berhenti beberapa langkah di depan meja besar itu, lalu membungkuk tipis. “Yang Mulia.” Shen Mo tidak bergeming. Matanya masih terpaku pada gulungan laporan, seakan kehadiran istrinya hanyalah embusan angin yang lewat. Di sisi lain, Yuze langsung berdiri dengan canggung. “Kakak ipar,” sapanya cepat, mencoba tersenyum
Read more