Mata Shen Mo akhirnya bertemu Meilin, tajam, dingin, seolah sedang menghunuskan pedang tidak kasat mata. Pada detik berikutnya, tatapannya kembali berpindah pada Xiwu. Ada kobaran yang berbeda di sana. Bukan kebencian, melainkan sesuatu yang jauh lebih gelap dan menuntut. Tanpa peringatan, Shen Mo menarik pinggang Xiwu dengan sentakan kuat. "Apa yang—" Bibir Shen Mo memutus kalimat Xiwu. Dalam, pasti, dan tanpa ragu. Sentuhan di bibir mereka tidak tergesa, tetapi tidak memberi ruang sedikit pun untuk dihindari. Seolah semua kata-kata, tuduhan, dan keraguan yang sempat dipertukarkan di ruangan itu kehilangan maknanya di bawah dominasi Shen Mo. Xiwu sempat menegang. Tubuhnya bereaksi secara refleks, tangannya mendorong dada bidang Shen Mo. Namun, Shen Mo jauh lebih siap. Tangan kirinya sudah lebih dulu menahan belakang kepala Xiwu, menariknya lebih dalam. Jemarinya yang h
Read more