Elira berbaring di tanah dengan satu tangan terentang ke depan, ujung jarinya menyentuh kaki Ash. Tubuhnya tidak bergerak banyak, hanya dadanya yang naik turun dengan susah payah, setiap napas terdengar seperti sesuatu yang harus diperjuangkan. Ash berlutut di sisinya. Tangannya yang masih beretakan dan hangat bergerak ke arah wajah Elira, tapi berhenti beberapa sentimeter sebelum menyentuh, seolah ada bagian darinya yang masih tahu bahwa tangannya bisa menyakiti. Elira membuka matanya. Ia menatap Ash beberapa detik, wajahnya tidak berubah ekspresinya saat melihat retakan merah di kulit suaminya, mata yang menyala, atau api yang masih membalut bahunya. Sudut bibirnya bergerak ke atas sedikit. "Ash ...," suaranya keluar pelan dan berat, tapi cukup terdengar di antara keheningan padang itu. Ash tidak bisa menjawab. Mulutnya terbuka tapi tidak ada kata yang terucap, hanya napas panas yang keluar. "Aku dan Lyanna ...," Elira berhenti sebentar, dadanya naik turun sekali dengan susah p
Last Updated : 2026-04-15 Read more