Share

Bab 4. Para Aegis

Author: The Red Lotus
last update publish date: 2026-04-14 13:05:35

Sebuah pesawat besar, lebih besar dari apapun yang pernah Ash lihat mendarat di dekat desa Pinedale. Bukan pesawat dagang biasa yang kadang melintas di ketinggian, pesawat ini turun rendah dan berhenti tepat di padang di sisi barat desa, mesin-mesinnya menderu keras sebelum akhirnya diam.

Debu tebal membumbung dari tanah di bawahnya, menutupi sebagian besar lambungnya yang berwarna abu-abu gelap. Para pria itu bertanya-tanya dari mana, siapa dan apa tujuan pesawat itu mendarat di dekat desa Pinedale yang terpencil.

"Itu pasti bantuan dari kota lain," kata Wren, pria berbadan besar di sebelah kiri Ash, nadanya lebih seperti mencoba meyakinkan diri sendiri. "Kurasa kota Vindale mencarikan bantuan lain untuk kita."

Pria lain mengangguk, setengah setuju, setengah berharap.

Ash tidak menjawab. Matanya tidak lepas dari pesawat itu, dari cara ia turun tanpa pemberitahuan apapun, dari tidak adanya lambang atau tanda yang bisa dibaca dari posisinya. Sesuatu di dadanya seperti bergerak dengan irama yang berbeda.

Tangannya meraih kapak yang tadi dia tancapkan di batang pohon. Firasatnya mengatakan pesawat itu datang bukan untuk tujuan yang baik.

"Aku akan kembali ke desa," katanya.

***

Ash mencium sesuatu yang tidak beres sebelum pohon-pohon terakhir terlewati.

Tidak ada suara anak-anak. Tidak ada suara palu atau gergaji yang seharusnya masih terdengar dari jarak itu. Pinedale di siang hari seharusnya berisik, tapi yang sampai ke telinganya hanya keheningan, diselingi suara yang tidak ia kenali dari arah balai desa.

Ia mengangkat satu tangan dan berhenti. Wren, Dano, Raldo dan sisanya berhenti di belakangnya.

"Ada apa?" bisik Wren.

Ash tidak menjawab, hanya menunjuk ke depan dengan dagunya dan merunduk ke semak-semak di tepi jalan masuk desa.

Dari sana ia bisa melihat balai desa. Warga Pinedale berdiri bergerombol di depannya, bahu-bahu yang tegang dan kepala-kepala yang menunduk. Beberapa prajurit berseragam Vindale tergeletak di tanah, tubuh-tubuh mereka tidak bergerak. Orang-orang berpakaian taktis berdiri mengelilingi kerumunan itu, masing-masing memegang senjata yang diarahkan ke warga.

"Siapa mereka?" bisik Dano di siku Ash.

Ash menggeleng kecil, matanya menyisir lapangan. Senjata-senjata itu bukan milik prajurit desa biasa, terlalu canggih, terlalu kuat. Pesawat abu-abu yang tadi mendarat di area barat desa terlintas di kepalanya.

Di tengah lapangan, seorang pria melangkah menaiki tumpukan peti kayu, hanya untuk terlihat lebih tinggi dan menjadi pusat perhatian semua orang.

Tubuhnya besar, perutnya menyembul dari balik jubah hitam panjang yang ia kenakan. Topi kulit bergaya koboi menutupi sebagian wajahnya yang penuh bekas luka, jenggot lebatnya tampak tidak terurus.

Ia berdiri dengan tangan di pinggang, menatap kerumunan di bawahnya dengan ekspresi orang yang sudah terbiasa menunggu dan tidak menikmatinya.

"Selamat siang, warga Pinedale," suaranya berat dan terdengar sampai ke tempat Ash bersembunyi, "Perkenalkan, saya Jacker, Komandan unit Aegis dari kota Ironfeld." Ia berhenti sejenak, membiarkan orang-orang mendengar jelas namanya.

"Sebelumnya maaf soal teman-teman dari Vindale itu. Kurasa mereka tidak diajarkan kesopanan dalam menyambut tamu."

Aegis, Ash mengenal nama itu, semua orang di wilayah itu pun mengenalnya. Aegis adalah kelompok pemburu monster yang biasanya dipanggil saat ancaman sudah melampaui kemampuan pemburu lokal. Seharusnya kedatangan mereka menjadi pelindung bagi warga.

"Saya di sini untuk satu hal." Jacker menurunkan sedikit nada suaranya, tapi justru itu yang membuatnya lebih serius. "Saat kawanan Oars menyerang desa ini beberapa hari lalu, ada satu di antara mereka yang berbeda. Leher biru, sisik mengilap, ukurannya hampir dua kali lipat dari Oars biasa."

Ia membiarkan kalimat itu menggantung sebentar. "Saya ingin tahu keberadaan makhluk itu."

Orang-orang itu diam. Beberapa kepala saling menoleh, berbisik-bisik kecil yang tidak terdengar jelas ke telinga Jacker. Pria itu menunggu. Satu menit, dua menit, wajahnya tidak berubah.

"Baiklah." Ia menarik napas pendek. "Siapapun yang memberikan informasi tentang keberadaan Oars itu akan mendapat 500 Virel, tunai."

Suara kerumunan naik seketika, orang-orang saling berbicara lebih keras, tapi tetap tidak ada yang melangkah maju. 500 Virel bukan jumlah yang fantastis, tapi cukup untuk membeli 100 karung beras di desa Pinedale namun, rupanya tidak ada yang memiliki informasi tersebut.

Jacker menunggu lagi, kali ini kesabarannya sudah habis.

DORRR!

Tembakan meletus ke udara dan semua orang langsung membisu. Jacker memasukkan pistol kembali ke pinggangnya dengan gerakan yang santai.

"Tolonglah," katanya, nada suaranya turun menjadi nyaris berbisik, "aku sedang berusaha bersikap baik di sini. Tapi aku benci menunggu, dan aku tahu ada di antara kalian yang menyimpan informasi yang kubutuhkan."

Diantara kerumunan, seorang pria tua melangkah maju. Punggungnya sedikit membungkuk, rambutnya putih di pelipis, tapi langkahnya tidak ragu.

"Maaf Tuan, ijinkan saya bicara. Situasi saat serangan itu kacau," kata pria tua itu, suaranya cukup keras untuk didengar Jacker. "Semua orang berlari menyelamatkan diri masing-masing. Tentu tidak ada yang sempat memperhatikan satu ekor Oars dari sekian banyak yang menyerang."

Jacker turun dari peti kayu. Langkahnya pelan saat mendekati pria tua itu. "Siapa Anda?" tanya Jacker.

"Saya Wakil kepala desa Pinedale." Pria tua itu tidak mundur. "Kepala desa kami meninggal dalam serangan itu, jadi saya yang menggantikannya."

Jacker berdiri tepat di depannya, tingginya lebih dari kepala pria tua itu. "Dengarkan baik-baik." Suaranya turun menjadi pelan, tapi di balik semak Ash bisa mendengar setiap katanya dengan jelas.

"Informasi yang saya cari ini menyangkut sesuatu yang jauh lebih besar dari desa kalian. Jadi saya ingin kalian menggali lebih dalam ingatan masing-masing ...," rahangnya mengeras, suaranya naik tiba-tiba. "Dan berikan informasi apapun yang ada di kepala kalian, berengsek!"

Beberapa orang di kerumunan menarik napas kaget. Anak-anak menangis di samping ibu mereka. Aegis seharusnya melindungi, bukan mengancam mereka.

Ash mencengkeram batang pohon di depannya. Di sebelahnya, ia mendengar Wren menahan napas panjang.

"Baiklah, sepertinya kalian tak tertarik dengan uang, kita coba cara lain." Jacker berbalik dari pria tua itu dan mengangguk ke salah satu anak buahnya.

Seorang pemuda ditarik keluar dari barisan, didorong hingga tersungkur di tanah di depan Jacker. Wajahnya pucat, lututnya gemetar saat mencoba bangkit.

"Kamu." Jacker menatapnya dari atas. "Kamu tahu sesuatu?"

Pemuda itu menggeleng cepat, bibirnya bergerak tapi suaranya hampir tidak keluar. "Saya terlalu sibuk berlari, Tuan. Saya hanya mencari tempat sembunyi, jadi saya tidak sempat melihat apapun."

Jacker menatapnya beberapa detik. Lalu mengangguk kecil ke arah anak buahnya.

DORRR!

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 37. Sarang yang Lembab

    Banshee itu tidak memberi peringatan.Cakarnya melesat dari atas dalam satu gerakan, langsung ke arah bahu Ash, dan Ash menangkapnya dengan kedua tangan sebelum ujung-ujungnya sempat menembus. Tekanan dari cengkeraman itu langsung terasa di telapak tangannya, tulang-tulang di jari-jarinya berbunyi pelan saat ia menahan beban makhluk itu dari atas.Banshee itu mengepak sekali dan mengangkat Ash dari lantai.Udara bergerak kencang di sekitar telinganya saat tubuhnya terangkat, batu-batu di bawah menjauh, dan sebelum ia sempat melihat ke mana mereka bergerak, sisi kanan tubuhnya menghantam dinding batu dengan keras. BRUAKK!!"Argghh!"Suaranya bergema panjang di seluruh lorong gua, dan Ash merasakan tulang rusuknya berbicara dari dalam.Cengkeraman itu tidak mengendur.Ash menggerakkan tangannya dari menahan ke mencengkeram, memindahkan pegangan ke pergelangan kaki makhluk itu tepat di atas cakarnya, dan menekan. "Makan ini!" Tulang di bawah tangannya berderit, lalu patah dengan bunyi

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 36. Wanita Aneh

    Beberapa pria di kurungan-kurungan sekitarnya mulai berteriak, ada yang mundur ke sudut kurungannya, ada yang mencengkeram bilah kayu di depannya sampai otot-otot tangannya mengencang. Ash tidak bergerak, matanya mengikuti sosok-sosok Banshee yang turun satu per satu melalui lubang itu, cakar-cakar mereka mendarat di tepian batu dengan suara keras yang bergema di seluruh gua.Tapi Banshee-banshee itu tidak mendekati kurungan yang berisi manusia hidup.Mereka bergerak langsung ke kurungan-kurungan yang isinya sudah tidak bergerak, cakar-cakar panjang mereka membuka pintu kurungan dengan gerakan yang terbiasa dan terlihat mudah. Satu per satu mereka masuk dan suara yang keluar dari dalam kurungan-kurungan itu membuat beberapa pria berhenti berteriak dan memilih diam."Ugh, membuatku mual saja," gumam Ash memalingkan wajah saat makhluk-makhluk itu menyantap bangkai dengan cara yang menjijikan.Seorang pria di kurungan yang berhadapan dengan Ash mengamati cara Banshee membuka pintu kuru

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 35. Sarang

    Rynn tidak bergerak dari posisinya.Ia berdiri di antara akar-akar pohon besar, satu tangannya masih di gagang busur, kepalanya mendongak ke langit di antara celah-celah pepohonan. Suara kepakan sayap yang tadi memenuhi udara mulai mengecil, semakin jauh ke timur, sampai yang tersisa hanya angin malam yang bergerak di antara daun-daun.Para prajurit di sekitarnya menunggu dengan cara yang sama, tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bergerak tanpa perintah."Kyra." Rynn tidak menoleh, matanya masih di langit. "Berhasil?"Seorang perempuan muncul dari balik batang pohon di sebelah kiri, rambutnya hitam tebal dipotong pendek rata di bawah telinga, tepat seperti garis yang diukir dengan penggaris. Kyra mengangguk satu kali, singkat dan pasti.Shiva melihat percakapan itu dari tempatnya berdiri. "Apa yang berhasil?" tanyanya. "Apa yang kalian tunggu tadi?"Rynn baru menoleh ke arahnya sekarang. "Kami sedang berburu." Ia berbicara dengan nada yang sama seperti saat memberi perintah, dat

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 34. Berburu Banshee

    Cakar itu sudah setengah jalan ke arahnya saat tali di tubuh Shiva terputus.Bukan terlepas, bukan terbuka simpulnya, tapi benar-benar terpotong oleh sesuatu yang bergerak cepat dari samping. Tubuh Shiva jatuh ke depan dari batang pohon dan ia menangkap dahan di bawahnya dengan kedua tangan. Ayunan tubuhnya itu membawa kakinya melewati ruang kosong tepat saat cakar itu menyambar tempat ia berdiri tadi dan hanya mendapatkan serpihan kulit kayu.Rynn ada di cabang sebelahnya, pisau pendek di tangannya masih mengarah ke bawah dari gerakan memotong tadi. "Kau berada di waktu dan tempat yang tidak tepat, elf.""Aku tahu itu." Shiva menarik dirinya ke atas dahan dan langsung berdiri. "Sekarang beri aku sesuatu untuk melawan."Rynn menatapnya satu detik, lalu melempar pisau cadangan dari ikat pinggangnya. Shiva menangkapnya tanpa melihat, matanya sudah kembali ke makhluk yang tadi menukik ke arahnya. Banshee itu membalikkan tubuhnya d

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 33. Penculik Malam

    Pakaiannya adalah campuran warna tanah dan hijau tua, potongannya tidak beraturan dengan anyaman rumput dan daun kering yang dijahit di permukaannya sehingga mudah tersamarkan di dalam hutan. Di wajahnya ada goresan-goresan hitam tebal, bukan luka, melainkan coretan yang disengaja, membentuk pola yang memecah bentuk wajah sehingga sulit dibaca dari jarak jauh. Matanya cokelat gelap dan tidak berkedip.Shiva melihat ke kanan dan kiri. Di cabang-cabang pohon sekitar mereka, minimal empat sosok lain berdiri dengan postur yang sama, masing-masing dengan busur terangkat."Apa yang dilakukan seorang elf di hutanku." Wanita itu bukan bertanya dengan nada ingin tahu, lebih seperti seseorang yang sudah tahu jawabannya dan ingin memastikannya sendiri. "Tidakkah kau terlalu jauh bermain?""Bukan urusanmu." Shiva tidak menggerakkan kepalanya, hanya matanya yang bergerak ke arah area terbuka di bawah. "Lepaskan temanku."Perempuan itu menoleh ke bawa

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 32. Ada Apa di Hutan Ini?

    Shiva berdiri di jendela selama dua detik penuh. Orang yang sedang berjalan dalam tidur tidak mendarat seperti itu. Mereka terhuyung, mereka tidak mengkalkulasi ketinggian dan sudut jatuh dengan cara yang benar. Sesuatu yang lain sedang mengendalikan tubuh itu, dan Shiva tidak bisa lagi merasa semuanya normal.Ia berlari ke kamar Maren.Pintunya ia ketuk dua kali, keras. "Maren. Maren, bangun, ada sesuatu yang terjadi pada Ash."Tidak ada jawaban.Shiva mengetuk lagi, lebih keras, tiga kali. "Maren."Keheningan dari balik pintu itu berbeda dari keheningan tidur. Tidak ada suara napas yang terganggu, tidak ada suara orang yang bergerak kaget, tidak ada suara kaki yang turun dari ranjang. Shiva meletakkan telinganya ke pintu dan mendengar sesuatu yang sangat pelan, napas yang terlalu terkendali untuk seseorang yang sedang tidur, dan di bawahnya, suara yang lebih rendah lagi, seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu.Di balik pintu itu, Maren sedang terjaga. Ia tahu itu.Shiva ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status