LOGINAsh mengalihkan pandangannya pada si besar yang kini berlari ke arahnya. Dia harus menyelesaikan urusannya dengan si besar itu sebelum bisa menyelamatkan istrinya.
Tak jauh darinya, sebuah pedang tergeletak di sisi potongan jasad prajurit penjaga. Dengan sisa tenaga yang ada, Ash meraih pedang itu dan menghunusnya, tepat saat makhluk dengan cahaya biru samar di lehernya itu mendarat taring-taring yang siap mencabik. "ARRGGHH!" Mata si besar itu terbelalak, gigi taringnya menancap di bahu Ash, tapi pedang miliknya juga menancap dalam di bawah rahang makhluk itu, menembus pangkal lidah hingga ke kepala. "Makan ini!" Darah biru gelap mengalir di tubuh Ash, membuatnya bermandikan darah. Saat kejadian itu semua makhluk lain mendadak berhenti dan melihat ke arahnya. Ash sudah diambang kesadaran, dia terus melihat ke arah gudang kecil tempat Elira dan Lyanna bersembunyi. Perlahan pandangannya gelap, tubuhnya tak mendengar perintahnya lagi. *** "Tenanglah sayang, ayahmu pria yang kuat. Dia akan baik-baik saja." Suara Elira terdengar samar di dekatnya, nada bicara istrinya itu pelan dan hati-hati seperti biasa saat berbicara dengan Lyanna. Ash tidak bisa menangkap kata-katanya dengan jelas, tapi cukup untuk tahu keduanya masih hidup. Pelupuk matanya berat saat dia mencoba membuka mata. Langit-langit kayu yang tidak asing menyambutnya, cahaya dari beberapa lampu ruangan terasa menyilaukan. "Ayah!" Lyanna menyergap lebih dulu, pelukan gadis kecil itu erat di lehernya, tubuhnya gemetar halus. Ash mengangkat satu tangan dan menepuk punggung putrinya pelan. "Hai cantik, ayah disini," katanya pendek. Elira duduk di sampingnya, matanya merah dan basah. Dia tidak langsung bicara, hanya menatap wajah Ash dengan ekspresi yang susah dibaca antara lega dan takut sekaligus. "Kau menangis," kata Ash. "Tentu saja aku menangis." Suara Elira sedikit bergetar. "Kau berlumuran darah dari ujung kepala sampai kaki, Ash. Aku pikir kau sudah ...." Kalimatnya menggantung, dia menggeleng pelan. "Syukurlah kau masih di sini." Ash duduk tegak perlahan, tulang punggungnya berbunyi. Baru saat itulah dia benar-benar melihat sekelilingnya. Aula desa, tempatnya biasa melihat warga berkumpul untuk ibadah setiap akhir pekan, kini penuh dengan manusia yang terluka. Puluhan orang berbaring di lantai beralaskan kain seadanya, beberapa mengerang pelan, beberapa hanya diam menatap langit-langit dengan ekspresi kosong. Suara tangis anak kecil terdengar dari sudut ruangan, bercampur dengan suara bisik-bisik orang dewasa yang kelelahan. "Elira," kata Ash, matanya beralih ke perban di lengan istrinya. "Lukamu?" "Cakaran kecil saja." Elira mengangkat lengannya sebentar lalu menurunkannya lagi. "Tidak dalam, tidak sampai menghambatku untuk bergerak. Tidak perlu khawatir." Ash mengangguk satu kali. Pandangannya menyapu ruangan sekali lagi. "Monster-monster itu, apa yang terjadi?" "Pergi." Elira menghela napas pelan. "Tiba-tiba saja mereka berhenti dan pergi, seperti ada yang memanggil mereka pulang. Tidak ada yang mengerti kenapa." Dia melirik ke arah pintu aula. "Pasukan bantuan dari Kota Vindale sudah berjaga di luar sejak tadi malam, berjaga-jaga kalau mereka kembali lagi." Ash tidak menjawab. Dia memiringkan kepalanya sedikit, mencerna informasi itu dalam diam. Kawanan makhluk yang menyerang desa bukan tanpa tujuan, dan mereka tidak pergi begitu saja tanpa alasan. Ada sesuatu yang menggerakkan mereka, dan sesuatu yang sama yang menghentikan mereka. Satu hal lain yang mengganggunya lebih dari itu. Ash menunduk, memandangi tangannya sendiri. Tidak ada rasa nyeri. Sama sekali tidak ada. Dadanya, lengannya, bahunya yang tadi ditembus taring makhluk besar itu. Semuanya terasa normal, tidak ada perih, tidak ada rasa panas, tidak ada rasa tertusuk dalam. Ash berdiri. "Ash?" Elira mendongak. "Aku butuh ke toilet." Ash berjalan melewati beberapa orang yang berbaring di lantai, mencari sudut belakang aula. Saat pintu toilet kayu itu tertutup di belakangnya, dia berdiri di depan cermin kecil yang tergantung miring di dinding, menatap bayangannya sendiri di bawah cahaya lampu yang remang. Dia mulai membuka perban di lengan kirinya dengan gerakan lambat. Kain putih yang sudah kecokelatan oleh darah kering itu terlepas lapis demi lapis, sampai kulit lengannya terlihat sepenuhnya. Tidak ada luka, tidak ada bekas luka, tidak ada kulit yang mengering, tidak ada garis merah bekas gigitan. Kulitnya bersih seperti tidak pernah disentuh apapun. Ash juga melepas perban di dadanya. Sama, tidak ada jejak apapun di sana, padahal dia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana taring makhluk itu menancap di bahunya, bagaimana tulang-tulangnya berderak saat tubuhnya dibanting berulang kali. Dia mengetuk dadanya sendiri dua kali dengan kepalan tangannya. Tidak sakit. Ash menatap bayangannya di cermin dalam diam yang cukup panjang. Darah biru gelap milik makhluk pemimpin itu, dia ingat cairan itu mengalir deras di tubuhnya sebelum kesadarannya padam. Dia tidak tahu apa yang masuk ke dalam tubuhnya saat itu, dan sampai sekarang dia belum punya jawaban yang masuk akal. *** Malam turun dengan cepat. Ash menggendong Lyanna yang sudah terlelap di punggungnya, satu tangan Elira menggenggam lengannya saat mereka berjalan pulang melewati jalanan yang sunyi. Beberapa rumah di sepanjang jalan sudah menjadi puing, sisanya berdiri setengah rusak dengan dinding berlubang dan atap yang runtuh sebagian. Bau asap dan darah masih tercium pekat sepanjang jalan. Rumah mereka masih berdiri, tapi bagian depannya terbuka. Atap ruang tengah sudah hilang sepenuhnya, dan dinding samping retak panjang dari atas ke bawah. Kamar tidur di bagian belakang kondisinya lebih baik, hanya sebagian atapnya yang jebol sehingga langit malam terlihat dari dalam. Elira menidurkan Lyanna di kasur tanpa banyak bicara, menyelimuti putrinya rapat-rapat meskipun angin malam masuk dari lubang atap di atasnya. "Tidur nyenyak ya, sayang," bisiknya di dekat telinga Lyanna. Ash berdiri di ambang pintu kamar, memandangi langit gelap yang terlihat dari lubang atap. Bintang-bintang terlihat jelas malam ini. Dia mendengar Elira bergerak ke dapur, suara piring beradu pelan dan langkah kaki ringan di lantai kayu. Kemudian sesuatu bergeser di dalam tubuhnya. Bukan rasa sakit, bukan pusing. Jantungnya mulai berdenyut lebih cepat dari biasanya, dan ada sensasi panas yang muncul di bagian bawah perutnya, menjalar naik ke dada dengan lambat tapi pasti. Ash menekan tangannya ke dinding sebentar, mencoba mengenali sensasi itu. Bukan adrenalin biasa karena karena jantungnya berdetak cepat bukan karena rasa tegang. Dia melangkah ke dapur. Elira sedang membungkuk mengambil sesuatu dari rak bawah, punggungnya membelakangi Ash. Lekuk tubuh istrinya terbungkus rok panjang yang sudah kusut dan kotor oleh debu serta darah kering, tapi bentuk bokongnya yang bulat indah tetap terlihat jelas. Napas Ash mulai tidak teratur. ***Beberapa pria di kurungan-kurungan sekitarnya mulai berteriak, ada yang mundur ke sudut kurungannya, ada yang mencengkeram bilah kayu di depannya sampai otot-otot tangannya mengencang. Ash tidak bergerak, matanya mengikuti sosok-sosok Banshee yang turun satu per satu melalui lubang itu, cakar-cakar mereka mendarat di tepian batu dengan suara keras yang bergema di seluruh gua.Tapi Banshee-banshee itu tidak mendekati kurungan yang berisi manusia hidup.Mereka bergerak langsung ke kurungan-kurungan yang isinya sudah tidak bergerak, cakar-cakar panjang mereka membuka pintu kurungan dengan gerakan yang terbiasa dan terlihat mudah. Satu per satu mereka masuk dan suara yang keluar dari dalam kurungan-kurungan itu membuat beberapa pria berhenti berteriak dan memilih diam."Ugh, membuatku mual saja," gumam Ash memalingkan wajah saat makhluk-makhluk itu menyantap bangkai dengan cara yang menjijikan.Seorang pria di kurungan yang berhadapan dengan Ash mengamati cara Banshee membuka pintu kuru
Rynn tidak bergerak dari posisinya.Ia berdiri di antara akar-akar pohon besar, satu tangannya masih di gagang busur, kepalanya mendongak ke langit di antara celah-celah pepohonan. Suara kepakan sayap yang tadi memenuhi udara mulai mengecil, semakin jauh ke timur, sampai yang tersisa hanya angin malam yang bergerak di antara daun-daun.Para prajurit di sekitarnya menunggu dengan cara yang sama, tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bergerak tanpa perintah."Kyra." Rynn tidak menoleh, matanya masih di langit. "Berhasil?"Seorang perempuan muncul dari balik batang pohon di sebelah kiri, rambutnya hitam tebal dipotong pendek rata di bawah telinga, tepat seperti garis yang diukir dengan penggaris. Kyra mengangguk satu kali, singkat dan pasti.Shiva melihat percakapan itu dari tempatnya berdiri. "Apa yang berhasil?" tanyanya. "Apa yang kalian tunggu tadi?"Rynn baru menoleh ke arahnya sekarang. "Kami sedang berburu." Ia berbicara dengan nada yang sama seperti saat memberi perintah, dat
Cakar itu sudah setengah jalan ke arahnya saat tali di tubuh Shiva terputus.Bukan terlepas, bukan terbuka simpulnya, tapi benar-benar terpotong oleh sesuatu yang bergerak cepat dari samping. Tubuh Shiva jatuh ke depan dari batang pohon dan ia menangkap dahan di bawahnya dengan kedua tangan. Ayunan tubuhnya itu membawa kakinya melewati ruang kosong tepat saat cakar itu menyambar tempat ia berdiri tadi dan hanya mendapatkan serpihan kulit kayu.Rynn ada di cabang sebelahnya, pisau pendek di tangannya masih mengarah ke bawah dari gerakan memotong tadi. "Kau berada di waktu dan tempat yang tidak tepat, elf.""Aku tahu itu." Shiva menarik dirinya ke atas dahan dan langsung berdiri. "Sekarang beri aku sesuatu untuk melawan."Rynn menatapnya satu detik, lalu melempar pisau cadangan dari ikat pinggangnya. Shiva menangkapnya tanpa melihat, matanya sudah kembali ke makhluk yang tadi menukik ke arahnya. Banshee itu membalikkan tubuhnya d
Pakaiannya adalah campuran warna tanah dan hijau tua, potongannya tidak beraturan dengan anyaman rumput dan daun kering yang dijahit di permukaannya sehingga mudah tersamarkan di dalam hutan. Di wajahnya ada goresan-goresan hitam tebal, bukan luka, melainkan coretan yang disengaja, membentuk pola yang memecah bentuk wajah sehingga sulit dibaca dari jarak jauh. Matanya cokelat gelap dan tidak berkedip.Shiva melihat ke kanan dan kiri. Di cabang-cabang pohon sekitar mereka, minimal empat sosok lain berdiri dengan postur yang sama, masing-masing dengan busur terangkat."Apa yang dilakukan seorang elf di hutanku." Wanita itu bukan bertanya dengan nada ingin tahu, lebih seperti seseorang yang sudah tahu jawabannya dan ingin memastikannya sendiri. "Tidakkah kau terlalu jauh bermain?""Bukan urusanmu." Shiva tidak menggerakkan kepalanya, hanya matanya yang bergerak ke arah area terbuka di bawah. "Lepaskan temanku."Perempuan itu menoleh ke bawa
Shiva berdiri di jendela selama dua detik penuh. Orang yang sedang berjalan dalam tidur tidak mendarat seperti itu. Mereka terhuyung, mereka tidak mengkalkulasi ketinggian dan sudut jatuh dengan cara yang benar. Sesuatu yang lain sedang mengendalikan tubuh itu, dan Shiva tidak bisa lagi merasa semuanya normal.Ia berlari ke kamar Maren.Pintunya ia ketuk dua kali, keras. "Maren. Maren, bangun, ada sesuatu yang terjadi pada Ash."Tidak ada jawaban.Shiva mengetuk lagi, lebih keras, tiga kali. "Maren."Keheningan dari balik pintu itu berbeda dari keheningan tidur. Tidak ada suara napas yang terganggu, tidak ada suara orang yang bergerak kaget, tidak ada suara kaki yang turun dari ranjang. Shiva meletakkan telinganya ke pintu dan mendengar sesuatu yang sangat pelan, napas yang terlalu terkendali untuk seseorang yang sedang tidur, dan di bawahnya, suara yang lebih rendah lagi, seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu.Di balik pintu itu, Maren sedang terjaga. Ia tahu itu.Shiva ber
Ranjang di tengah kamar itu bukan dari kayu, bukan dari besi, bukan dari apapun yang biasanya digunakan untuk membuat ranjang. Rangkanya dari dahan-dahan yang sudah mengering, melengkung dan terhubung satu sama lain dengan cara yang terlihat seperti tumbuh alami bukan dibentuk. Kedua mata Ash dan Shiva terkunci pada bagian di atasnya, dimana terbentang jaring laba-laba yang dipadatkan berlapis-lapis sampai terlihat seperti kain, putih keabu-abuan dan sedikit berkilau di bawah cahaya lentera.Shiva menatapnya cukup lama. "Itu terbuat dari apa?""Jaring Arakvein," kata Maren, nada suaranya seperti menyebut sesuatu yang sudah semua orang tahu. "Lebih hangat dari wol dan lebih kuat dari kulit. Kalian bisa beristirahat dengan nyaman."Shiva menoleh ke Ash. Ash sudah melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang itu, tangannya menekan permukaannya dua kali, lalu berbaring dengan satu lengan di belakang kepala."Empuk," katanya.







