Accueil / Fantasi / Abysswalker: Darah Membara / Bab 5. Jacker si Gila

Share

Bab 5. Jacker si Gila

Auteur: The Red Lotus
last update Date de publication: 2026-04-14 13:06:32

Pemuda itu ambruk ke tanah dengan lubang di kepala.

Kerumunan itu meledak seketika, teriakan dan tangisan bercampur jadi satu, beberapa orang berlari ke segala arah tapi anak buah Aegis sudah berbaris  mengelilingi mereka. Tembakan ke udara beruntun memaksa semua orang menghentikan langkahnya.

Di balik semak, Wren menarik lengan Ash ke belakang saat Ash hendak berdiri.

"Apa yang kau pikirkan? Lihat senjata mereka," bisik Wren, suaranya datar tapi matanya serius. "Apa kau akan melawan mereka dengan kapakmu?"

Ash berhenti. Pikirannya menghitung dengan cepat, jumlah anak buah Jacker yang terlihat, jarak antara mereka, senjata yang mereka bawa. Kapak di tangannya kini terasa sangat kecil. Ia duduk kembali, tapi matanya tidak berhenti bergerak, menyisir wajah-wajah di kerumunan satu per satu berharap tak melihat Elira disana.

Tembakan terus terdengar setiap beberapa menit. Setiap kali suaranya meletus, ada satu tubuh lagi yang jatuh. Wajah Jacker tidak berubah setelah semua itu, datar dan dingin, seperti orang yang sedang mengerjakan sesuatu yang membosankan.

Di samping Wren, Raldo berdiri dengan bahu yang kaku sejak tadi. Ash menyadarinya tapi tidak sempat berbuat apapun saat pria itu tiba-tiba berdiri tegak.

Di lapangan, seorang anak buah Aegis menarik seorang remaja laki-laki keluar dari kerumunan. Remaja itu tersandung saat didorong ke depan, matanya langsung menoleh ke arah semak-semak tempat Raldo berdiri.

Raldo sudah berlari sebelum Ash bisa menahannya. Kakinya menapak tanah dengan kuat, tubuhnya menembus semak tanpa memperlambat langkah.

"Lepaskan dia!" teriaknya. "Itu adikku, lepaskan!"

Jacker tidak menoleh. Ia hanya berdiri dengan punggung menghadapke arah Raldo, menatap remaja yang gemetar di depannya. "Kamu tahu sesuatu, anak muda?"

Remaja itu tidak bisa menjawab. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar, matanya terpaku pada kakaknya yang berlari mendekat dengan air mata yang sudah mengalir di kedua pipinya.

Raldo tinggal beberapa meter jauhnya saat ujung pistol menempel di pelipis adiknya.

DORRR!

Langkah Raldo berhenti seketika. Tubuhnya membatu di tengah lapangan, berdiri tanpa bergerak, menatap ke depan dengan ekspresi yang kosong.

Salah seorang anak buah Jacker mendekatinya dari samping. "Hei. Kamu tahu tentang Oars berleher biru itu?"

Raldo tidak menjawab. Tangannya mengangkat kapak. "Bangsat kalian!" Ia mengayunkan kapaknya.

Anak buah Aegis itu melangkah ke samping, menghindar dari ayunan itu dengan mudah. Moncong senjatanya naik dan menempel di bawah rahang Raldo.

DORRR!

Tubuh Raldo jatuh ke tanah.

Kerumunan yang tersisa diam gemetar, tidak ada lagi teriakan, tidak ada lagi yang berlari. Mereka berdiri dengan kepala yang menunduk dan mata yang tidak berani menatap. Beberapa orang menangis tanpa suara.

Ash juga gemetar, tangannya mencengkeram gagang kapak seperti ingin meremasnya, tapi bukan karena takut. Di sebelahnya Wren dan Dano membisu, mata mereka menatap lapangan.

Ash tanpa segaja melihat salah satu jendela di balai desa. Seorang anak buah Jacker berjalan melintasi jendela, tangannya menggenggam rambut seorang wanita yang ia seret di belakangnya.

Wanita itu berusaha berdiri sambil berjalan, tangannya mencoba mengurangi tarikan di rambutnya. Ash mengenali sosok tersebut, keringat dingin seketika membasahi punggungnya.

Elira digiring ke tengah lapangan dan didorong hingga tersungkur di depan Jacker. Pria tambun itu menatapnya sebentar, lalu mengangkat kepalanya dan menatap kerumunan yang tersisa.

"Kita ulangi pertanyaan yang sama," katanya.

Ash sudah berdiri sebelum kalimat itu selesai. Wren menarik lengannya tapi Ash melepaskan genggaman itu dan keluar dari semak, kakinya sudah berlari ke arah lapangan.

"Aku tahu di mana monster itu!"

Suaranya memecah keheningan lapangan. Anak buah Jacker yang berjaga mengangkat senjata mereka, tapi Ash tidak berhenti. Ia menerobos di antara mereka, mendorong dua orang yang mencoba menghadangnya, dan berdiri tepat di depan Elira.

"Aku tahu apa yang kau cari." Suaranya keluar lebih tenang dari yang ia kira.

Jacker menatapnya beberapa detik. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Pinedale, sudut bibirnya bergerak ke atas sedikit.

"Akhirnya." Ia menghela napas panjang. "Katakan padaku, di mana Oars biru sialan itu?"

Ash menatap mata pria itu dalam.

"Aku telah membunuhnya."

Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik setelah Ash mengucapkan kalimat itu.

Lalu tawa Jacker pecah, keras dan tiba-tiba, diikuti semua anak buahnya. Beberapa di antara mereka sampai menunduk memegangi lutut.

Ash tidak bergerak, matanya tetap menatap wajah Jacker.

"Kamu membunuhnya." Jacker mengulang kalimat itu di antara tawanya, lalu menyeka sudut matanya dengan punggung tangan. "Dengan apa, nak? Makhluk itu tidak mempan peluru, meriam besi kami pun mampu dia remukkan."

Ia berhenti sejenak, senyumnya melebar. "Apa kau memasukkan kemaluanmu sampai dia mati tersedak?"

Tawa anak buahnya semakin keras. Salah satu dari mereka sampai berjongkok di tanah dan beberapa lainnya sampai terbatuk-batuk.

"Aku menusuk rahangnya,"  jawab Ash datar. "Menggunakan pedang dari bawah sampai menembus kepalanya. Makhluk itu tidak sempat memberontak."

Jacker melambaikan tangannya, tawanya mereda. "Haha, sialan. Oke, cukup bagus untuk jadi lelucon, tapi saat ini aku tidak punya waktu untuk leluconmu, berandal."

"Aku tidak berbohong."

Wajah Jacker kini berubah. Tawanya habis dan yang tersisa hanya ekspresi orang yang sudah kehilangan kesabarannya. "Kami mengikuti kawanan itu selama empat bulan."

Nada suaranya turun, tapi justru itu yang membuat suasana mendadak tegang. "50 orang Aegis mati, 4 pesawat kami hancur. Kini kami kehilangan jejaknya setelah melewati wilayah ini."

Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Ash, napasnya terasa hangat di wajah Ash dari jarak itu. "Lalu kau mau aku percaya bahwa seorang petani, hanya dengan pedang, berhasil melakukan apa yang tidak bisa dilakukan pasukan terlatih dan bersenjata lengkap?"

Suaranya turun menjadi hampir berbisik. "Apa kau sedang mengejek kami, bocah?"

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." Ash masih bersikeras.

"Kalau memang begitu," Jacker mundur satu langkah, "tunjukkan jasadnya. Aku tidak peduli kalau kau sudah menguburnya, tunjukkan saja lokasinya."

Ash tidak menjawab langsung. Ia sendiri tidak tahu ke mana jasad makhluk itu pergi, tidak ada yang tersisa saat ia siuman kecuali darah biru yang sudah mengering di tanah.

Sebelum ia sempat menjawab, suara Elira memotong dari belakang.

"Aku melihat semuanya!" Elira bangkit dari posisinya, suaranya tidak gemetar meski matanya merah. "Kawanan itu membawa jasad Oars besar itu pergi ke arah hutan utara setelah pertarungan selesai. Suamiku mengatakan yang sebenarnya."

Jacker menatapnya sebentar, lalu kembali ke Ash, giginya menggeram lalu tangannya bergerak.

DORRR!

***

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 7. Berjalan di atas Abu

    Tas itu tidak besar, hanya cukup untuk beberapa pasang pakaian ganti, sebungkus roti keras dan satu botol air minum.Ash mengikat tali penutupnya dua kali, kebiasaan lama yang tidak perlu tapi tangannya melakukannya sendiri. Di sudut kamar, tempat tidurnya masih rapi seperti yang Elira tinggalkan pagi tadi. Bantal di sisi kirinya masih ada lekukan kecil di tengahnya.Ash tidak melihat ke sana lagi.Kapak kecilnya tergantung di pinggang, sisanya ia tinggalkan. Perabotan, peralatan tani, semua barang yang ia kumpulkan selama sepuluh tahun tinggal di Pinedale, semuanya tetap di tempatnya. Ia tidak punya keperluan untuk membawanya."Kau tidak harus pergi, Nak."Suara Mr. Alton, wakil kepala desa, datang dari ambang pintu kamar. Pria tua itu berdiri dengan tangan di sisi tubuhnya, punggungnya yang membungkuk terlihat lebih berat dari biasanya. "Tempat ini adalah rumahmu, Ash."Ash berbalik menghadap pria tua itu. Ekspresinya tidak marah dan tidak sedih, hanya datar seperti permukaan air ya

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 6. Dibakar Hidup-hidup

    Peluru menembus paha Ash dan pria itu tersungkur ke tanah dengan teriakan kesakitan. Elira langsung berlutut di sisinya, tangannya mencengkeram bahu Ash, matanya menatap Jacker."Berhenti! Tolong, dia tidak berbohong, tolong berhenti!"Tapi mata Jacker tidak ke arah Elira. Matanya ke arah tanah di dekat Kaki Ash, ke genangan yang mulai melebar di bawah paha Ash.Darahnya tidak berwarna merah. Ungu terang, hampir biru di tepinya, mengalir dari luka tembak itu dan meresap ke tanah. Kerumunan warga yang tersisa pun membeku. Anak buah Jacker saling melirik. Jacker sendiri berdiri tidak bergerak, rahangnya turun sedikit.Lalu peluru itu bergerak.Bukan mengalir keluar bersama darah, tapi terdorong perlahan dari dalam, ujung logamnya muncul di permukaan kulit dan jatuh ke tanah. Luka di paha Ash perlahan menutup dari tepinya ke tengah, sampai yang tersisa hanya garis tipis yang kemudian hilang.Suara Jacker keluar pelan, hanya untuk dirinya sendiri. "Abysswalker."Tubuhnya sedikit bergetar

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 5. Jacker si Gila

    Pemuda itu ambruk ke tanah dengan lubang di kepala. Kerumunan itu meledak seketika, teriakan dan tangisan bercampur jadi satu, beberapa orang berlari ke segala arah tapi anak buah Aegis sudah berbaris mengelilingi mereka. Tembakan ke udara beruntun memaksa semua orang menghentikan langkahnya.Di balik semak, Wren menarik lengan Ash ke belakang saat Ash hendak berdiri."Apa yang kau pikirkan? Lihat senjata mereka," bisik Wren, suaranya datar tapi matanya serius. "Apa kau akan melawan mereka dengan kapakmu?"Ash berhenti. Pikirannya menghitung dengan cepat, jumlah anak buah Jacker yang terlihat, jarak antara mereka, senjata yang mereka bawa. Kapak di tangannya kini terasa sangat kecil. Ia duduk kembali, tapi matanya tidak berhenti bergerak, menyisir wajah-wajah di kerumunan satu per satu berharap tak melihat Elira disana.Tembakan terus terdengar setiap beberapa menit. Setiap kali suaranya meletus, ada satu tubuh lagi yang jatuh. Wajah Jacker tidak berubah setelah semua itu, datar dan

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 4. Para Aegis

    Sebuah pesawat besar, lebih besar dari apapun yang pernah Ash lihat mendarat di dekat desa Pinedale. Bukan pesawat dagang biasa yang kadang melintas di ketinggian, pesawat ini turun rendah dan berhenti tepat di padang di sisi barat desa, mesin-mesinnya menderu keras sebelum akhirnya diam. Debu tebal membumbung dari tanah di bawahnya, menutupi sebagian besar lambungnya yang berwarna abu-abu gelap. Para pria itu bertanya-tanya dari mana, siapa dan apa tujuan pesawat itu mendarat di dekat desa Pinedale yang terpencil."Itu pasti bantuan dari kota lain," kata Wren, pria berbadan besar di sebelah kiri Ash, nadanya lebih seperti mencoba meyakinkan diri sendiri. "Kurasa kota Vindale mencarikan bantuan lain untuk kita."Pria lain mengangguk, setengah setuju, setengah berharap.Ash tidak menjawab. Matanya tidak lepas dari pesawat itu, dari cara ia turun tanpa pemberitahuan apapun, dari tidak adanya lambang atau tanda yang bisa dibaca dari posisinya. Sesuatu di dadanya seperti bergerak dengan

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 3. Nafsu Liar

    Elira berbalik dan hampir menjatuhkan mangkuk kayu di tangannya saat mendapati Ash sudah berdiri sangat dekat di belakangnya. Ash meletakkan satu tangan di dinding di sisi kepala Elira, membatasinya."Ada apa, sayang?" tanya Elira. Suaranya masih tenang, tapi matanya mencari-cari ekspresi di wajah suaminya.Ash tidak menjawab. Dia menatap istrinya dalam dengan tatapan yang tidak biasa, bukan ekspresi datar yang sudah dikenal Elira selama bertahun-tahun.Elira mengernyit, pandangannya bergerak ke wajah dan leher Ash. Urat-urat biru terlihat jelas di bawah kulitnya, seperti akar pohon yang menekan ke permukaan, tampak di sisi leher, di pelipis, di punggung tangan yang menumpu di dinding."Ash." Nada suara Elira berubah, lebih hati-hati. "Ada apa denganmu? Urat-uratmu ...." Dia mengangkat tangannya dan menyentuh sisi leher suaminya dengan ujung jari. "Apa kau baik-baik saja?"Ash tidak menjawab pertanyaan itu. Tangannya bergerak dan dalam satu tarikan, kain yang menutupi payudara Elira r

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 2. Urat Biru

    Ash mengalihkan pandangannya pada si besar yang kini berlari ke arahnya. Dia harus menyelesaikan urusannya dengan si besar itu sebelum bisa menyelamatkan istrinya. Tak jauh darinya, sebuah pedang tergeletak di sisi potongan jasad prajurit penjaga. Dengan sisa tenaga yang ada, Ash meraih pedang itu dan menghunusnya, tepat saat makhluk dengan cahaya biru samar di lehernya itu mendarat taring-taring yang siap mencabik."ARRGGHH!"Mata si besar itu terbelalak, gigi taringnya menancap di bahu Ash, tapi pedang miliknya juga menancap dalam di bawah rahang makhluk itu, menembus pangkal lidah hingga ke kepala. "Makan ini!" Darah biru gelap mengalir di tubuh Ash, membuatnya bermandikan darah. Saat kejadian itu semua makhluk lain mendadak berhenti dan melihat ke arahnya. Ash sudah diambang kesadaran, dia terus melihat ke arah gudang kecil tempat Elira dan Lyanna bersembunyi. Perlahan pandangannya gelap, tubuhnya tak mendengar perintahnya lagi. ***"Tenanglah sayang, ayahmu pria yang kuat.

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status