Share

Bab 3. Nafsu Liar

Author: The Red Lotus
last update publish date: 2026-04-14 13:04:54

Elira berbalik dan hampir menjatuhkan mangkuk kayu di tangannya saat mendapati Ash sudah berdiri sangat dekat di belakangnya. Ash meletakkan satu tangan di dinding di sisi kepala Elira, membatasinya.

"Ada apa, sayang?" tanya Elira. Suaranya masih tenang, tapi matanya mencari-cari ekspresi di wajah suaminya.

Ash tidak menjawab. Dia menatap istrinya dalam dengan tatapan yang tidak biasa, bukan ekspresi datar yang sudah dikenal Elira selama bertahun-tahun.

Elira mengernyit, pandangannya bergerak ke wajah dan leher Ash. Urat-urat biru terlihat jelas di bawah kulitnya, seperti akar pohon yang menekan ke permukaan, tampak di sisi leher, di pelipis, di punggung tangan yang menumpu di dinding.

"Ash." Nada suara Elira berubah, lebih hati-hati. "Ada apa denganmu? Urat-uratmu ...." Dia mengangkat tangannya dan menyentuh sisi leher suaminya dengan ujung jari. "Apa kau baik-baik saja?"

Ash tidak menjawab pertanyaan itu. Tangannya bergerak dan dalam satu tarikan, kain yang menutupi payudara Elira robek. Wanita itu tersentak kaget, matanya melebar menatap suaminya.

"Ah ...." Elira mendesah pelan dengan mata yang melebar.

"Sayang? kau baik-baik saja?" Elira heran, suaminya tak pernah merobek pakaian hanya untuk meminta sentuhannya.

Biasanya Ash memulai dari sentuhan-sentuhan lembut disertai pujian-pujian murahan yang akan membuat Elira tertawa. Tapi wanita itu tak melawan, tak menyela.

Dia hanya memperhatikan Ash yang napasnya lebih cepat dan terasa panas di wajahnya. Kedua mata Ash menatap kedua payudaranya dengan penuh nafsu seperti baru pertama kali melihatnya. 

"Ah!" Elira kembali terkejut saat tiba-tiba kedua tangan Ash meraih dan meremas kedua payudara itu.

Ash menempelkan wajahnya, dia menghisap puting Elira kuat dengan suara yang berisik seperti orang yang menyantap semangkuk sup. Elira meringis, menahan sentuhan yang menyakitkan itu.

"Sayang, kau akan membangunkan Lyanna di sebelah dengan suara itu."

Akan tetapi, Ash tak menghiraukannya, pria itu tak mengucapkan satu kata pun. Elira mencengkeram tepi meja dengan kuat untuk mengalihkan rasa sakitnya.

Ash menghisap bergantian kedua puting yang sudah keras itu, sesekali disertai gigitan yang menyakitkan. Setelah puas, Ash menarik pinggang istrinya, memutar tubuh wanita itu hingga punggung Elira menghadap dirinya.

KRAKK!

Elira tersentak kaget saat tiba-tiba kain yang menutupi pantatnya robek. Elira semakin yakin jika ada sesuatu yang berubah dalam diri suaminya malam itu.

"Sayang ... apa kau yakin kau baik-baik sa–"

Ucapan itu terpotong saat tiba-tiba sesuatu memasuki Elira begitu saja. Tanpa bisikan lembut, tanpa ciuman, tanpa sentuhan apapun sebelumnya. Elira terbelalak, mulutnya terbuka penuh, tangannya mencari sesuatu untuk digenggam.

"Ash ... Ah! pelan-pelan sayang!"

Tubuhnya berguncang, hentakan demi hentakan diterimanya tanpa penolakan. Itu adalah Ash, pria yang dicintainya selama 15 tahun. Sosok yang sangat dia percayai dan dia andalkan.

Pria yang telah menyelamatkan dirinya dan desa pinedale. Malam itu dia hanya perlu menjalani kewajibannya sebagai seorang istri. Satu tangan menopang tubuh Elira di meja, sedangkan satu tangan lainnya menutup mulutnya erat agar Ash tak mendengar teriakannya.

Hentakan di pingganggnya tak kunjung berhenti, biasanya Ash akan berhenti setiap beberapa detik dan merubah posisinya. Air mata mengalir membasahi pipi Elira, rasa sakit itu tak kunjung berubah menjadi nikmat seperti biasanya.

Tiba-tiba tubuh Elira dipindah lagi, kali ini Ash mengangkat tubuh istrinya dan menggendongnya di depan. Kedua lengan Elira melingkar di leher Ash dan kedua kakinya meggantung, ditopang oleh lengan Ash yang memegangi pantatnya.

Elira kembali terbelalak, posisi itu bahkan lebih menyakitkan dari yang sebelumnya. Tubuh Elira bergerak naik dan turun, nafasnya tertahan setiap kali penis Ash membelah vaginanya dalam.

"Ash ... tolong, pelan!!" Elira menepuk punggung Ash berkali-kali namun, suaminya terus mengabaikannya.

Tak lama kemudian tubuh Ash mengejang, Elira jatuh begitu saja di lantai diantara perabotan yang masih berantakan. Sedangkan Ash, terhuyung ke belakang, tubuhnya menabrak dinding kayu sebelum jatuh dan duduk bersandar di lantai.

Napasnya tersengal seperti orang yang sekarat. Tapi yang menjadi perhatian Elira adalah urat-urat biru di sekujur tubuhnya yang memudar. Semuanya seperti bergerak kembali ke arah jantung dan menghilang, meninggalkan warna kulit Ash yang kembali normal.

Ash membuka matanya. Ia menatap langit-langit dapur selama beberapa detik, napasnya masih berat. Lalu kepalanya menoleh ke bawah dan matanya melihat Elira yang masih terbaring di lantai dengan penampilan yang berantakan.

Kain yang robek di beberapa bagian. Permukaan kulit yang berkeringat, rambut berantakan yang menempel di wajah.

"Ya Tuhan, apa yang terjadi sayang? bagaimana kau bisa terbaring disini?" Ash sigap mendekat, mencoba membantu istrinya bangkit.

Elira diam sesaat, air mata masih menggenang di pelupuk matanya. Wanita itu berusaha mencari kalimat yang tepat untuk menjelasan tanpa membebani pikiran suaminya. Elira tahu apa yang dilakukan Ash barusan diluar kesadarannya. 

Ash masih menatap istrinya dengan berjuta pertanyaan. "Sayang? apa yang terjadi?" 

Elira tersenyum, akhirnya. Tangannya bergerak lembut menyentuh wajah Ash. "Yang barusan itu, luar biasa."

Ash menatapnya dalam, mencoba memahami arti kalimat itu. Tapi dia tak bertanya lebih jauh, hanya tahu jika istrinya lelah dan terutama masih tersenyum padanya.

***

Beberapa hari kemudian, desa Pinedale mulai kembali bernapas, meski perlahan.

Mereka yang meninggal sudah dimakamkan di bukit kecil di timur desa, batu-batu nisan sederhana berjajar di antara gundukan-gundukan tanah yang masih basah. Puing-puing bangunan dan benda-benda yang memenuhi jalanan sudah dibersihkan bergotong royong, dan sekarang waktunya membangun kembali.

Warga yang memilik keahlian tukang, mengerjakan rangka-rangka rumah yang roboh dan memasang atap. Mereka yang memiliki tenaga cukup besar mengangkat balok dan memecah batu untuk bahan bangunan.

Para wanita baik yang tua dan muda bergiliran menyiapkan makanan dan minuman di balai desa, meja panjang dari papan kasar penuh dengan panci-panci dan piring makan.

Tidak ada wajah ceria di antara mereka. Masing-masing masih terlihat sembab, mata yang merah dan pipi yang cekung, tapi tangan mereka terus bergerak dan mulut mereka sesekali saling menegur dan menguatkan.

Ash berada di hutan sekitar tiga kilometer dari desa bersama beberapa pria lain, mencari kayu yang layak untuk rangka bangunan. Kapaknya sudah bekerja sejak pagi, telapak tangannya mulai kasar dan pegal di pergelangan.

Saat matahari tepat di atas kepala dan mereka berhenti untuk makan siang di tepi sungai kecil, suara itu datang dari langit.

Denging keras, berat, melintasi pepohonan di atas mereka dan membuat daun-daun bergerak. Ash mendongak bersamaan dengan yang lain dan melihat bayangan besar melintas di celah-celah pepohonan, terlalu besar untuk seekor burung.

Mereka berlari ke tepi hutan dan melihat keluar ke area terbuka.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 7. Berjalan di atas Abu

    Tas itu tidak besar, hanya cukup untuk beberapa pasang pakaian ganti, sebungkus roti keras dan satu botol air minum.Ash mengikat tali penutupnya dua kali, kebiasaan lama yang tidak perlu tapi tangannya melakukannya sendiri. Di sudut kamar, tempat tidurnya masih rapi seperti yang Elira tinggalkan pagi tadi. Bantal di sisi kirinya masih ada lekukan kecil di tengahnya.Ash tidak melihat ke sana lagi.Kapak kecilnya tergantung di pinggang, sisanya ia tinggalkan. Perabotan, peralatan tani, semua barang yang ia kumpulkan selama sepuluh tahun tinggal di Pinedale, semuanya tetap di tempatnya. Ia tidak punya keperluan untuk membawanya."Kau tidak harus pergi, Nak."Suara Mr. Alton, wakil kepala desa, datang dari ambang pintu kamar. Pria tua itu berdiri dengan tangan di sisi tubuhnya, punggungnya yang membungkuk terlihat lebih berat dari biasanya. "Tempat ini adalah rumahmu, Ash."Ash berbalik menghadap pria tua itu. Ekspresinya tidak marah dan tidak sedih, hanya datar seperti permukaan air ya

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 6. Dibakar Hidup-hidup

    Peluru menembus paha Ash dan pria itu tersungkur ke tanah dengan teriakan kesakitan. Elira langsung berlutut di sisinya, tangannya mencengkeram bahu Ash, matanya menatap Jacker."Berhenti! Tolong, dia tidak berbohong, tolong berhenti!"Tapi mata Jacker tidak ke arah Elira. Matanya ke arah tanah di dekat Kaki Ash, ke genangan yang mulai melebar di bawah paha Ash.Darahnya tidak berwarna merah. Ungu terang, hampir biru di tepinya, mengalir dari luka tembak itu dan meresap ke tanah. Kerumunan warga yang tersisa pun membeku. Anak buah Jacker saling melirik. Jacker sendiri berdiri tidak bergerak, rahangnya turun sedikit.Lalu peluru itu bergerak.Bukan mengalir keluar bersama darah, tapi terdorong perlahan dari dalam, ujung logamnya muncul di permukaan kulit dan jatuh ke tanah. Luka di paha Ash perlahan menutup dari tepinya ke tengah, sampai yang tersisa hanya garis tipis yang kemudian hilang.Suara Jacker keluar pelan, hanya untuk dirinya sendiri. "Abysswalker."Tubuhnya sedikit bergetar

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 5. Jacker si Gila

    Pemuda itu ambruk ke tanah dengan lubang di kepala. Kerumunan itu meledak seketika, teriakan dan tangisan bercampur jadi satu, beberapa orang berlari ke segala arah tapi anak buah Aegis sudah berbaris mengelilingi mereka. Tembakan ke udara beruntun memaksa semua orang menghentikan langkahnya.Di balik semak, Wren menarik lengan Ash ke belakang saat Ash hendak berdiri."Apa yang kau pikirkan? Lihat senjata mereka," bisik Wren, suaranya datar tapi matanya serius. "Apa kau akan melawan mereka dengan kapakmu?"Ash berhenti. Pikirannya menghitung dengan cepat, jumlah anak buah Jacker yang terlihat, jarak antara mereka, senjata yang mereka bawa. Kapak di tangannya kini terasa sangat kecil. Ia duduk kembali, tapi matanya tidak berhenti bergerak, menyisir wajah-wajah di kerumunan satu per satu berharap tak melihat Elira disana.Tembakan terus terdengar setiap beberapa menit. Setiap kali suaranya meletus, ada satu tubuh lagi yang jatuh. Wajah Jacker tidak berubah setelah semua itu, datar dan

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 4. Para Aegis

    Sebuah pesawat besar, lebih besar dari apapun yang pernah Ash lihat mendarat di dekat desa Pinedale. Bukan pesawat dagang biasa yang kadang melintas di ketinggian, pesawat ini turun rendah dan berhenti tepat di padang di sisi barat desa, mesin-mesinnya menderu keras sebelum akhirnya diam. Debu tebal membumbung dari tanah di bawahnya, menutupi sebagian besar lambungnya yang berwarna abu-abu gelap. Para pria itu bertanya-tanya dari mana, siapa dan apa tujuan pesawat itu mendarat di dekat desa Pinedale yang terpencil."Itu pasti bantuan dari kota lain," kata Wren, pria berbadan besar di sebelah kiri Ash, nadanya lebih seperti mencoba meyakinkan diri sendiri. "Kurasa kota Vindale mencarikan bantuan lain untuk kita."Pria lain mengangguk, setengah setuju, setengah berharap.Ash tidak menjawab. Matanya tidak lepas dari pesawat itu, dari cara ia turun tanpa pemberitahuan apapun, dari tidak adanya lambang atau tanda yang bisa dibaca dari posisinya. Sesuatu di dadanya seperti bergerak dengan

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 3. Nafsu Liar

    Elira berbalik dan hampir menjatuhkan mangkuk kayu di tangannya saat mendapati Ash sudah berdiri sangat dekat di belakangnya. Ash meletakkan satu tangan di dinding di sisi kepala Elira, membatasinya."Ada apa, sayang?" tanya Elira. Suaranya masih tenang, tapi matanya mencari-cari ekspresi di wajah suaminya.Ash tidak menjawab. Dia menatap istrinya dalam dengan tatapan yang tidak biasa, bukan ekspresi datar yang sudah dikenal Elira selama bertahun-tahun.Elira mengernyit, pandangannya bergerak ke wajah dan leher Ash. Urat-urat biru terlihat jelas di bawah kulitnya, seperti akar pohon yang menekan ke permukaan, tampak di sisi leher, di pelipis, di punggung tangan yang menumpu di dinding."Ash." Nada suara Elira berubah, lebih hati-hati. "Ada apa denganmu? Urat-uratmu ...." Dia mengangkat tangannya dan menyentuh sisi leher suaminya dengan ujung jari. "Apa kau baik-baik saja?"Ash tidak menjawab pertanyaan itu. Tangannya bergerak dan dalam satu tarikan, kain yang menutupi payudara Elira r

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 2. Urat Biru

    Ash mengalihkan pandangannya pada si besar yang kini berlari ke arahnya. Dia harus menyelesaikan urusannya dengan si besar itu sebelum bisa menyelamatkan istrinya. Tak jauh darinya, sebuah pedang tergeletak di sisi potongan jasad prajurit penjaga. Dengan sisa tenaga yang ada, Ash meraih pedang itu dan menghunusnya, tepat saat makhluk dengan cahaya biru samar di lehernya itu mendarat taring-taring yang siap mencabik."ARRGGHH!"Mata si besar itu terbelalak, gigi taringnya menancap di bahu Ash, tapi pedang miliknya juga menancap dalam di bawah rahang makhluk itu, menembus pangkal lidah hingga ke kepala. "Makan ini!" Darah biru gelap mengalir di tubuh Ash, membuatnya bermandikan darah. Saat kejadian itu semua makhluk lain mendadak berhenti dan melihat ke arahnya. Ash sudah diambang kesadaran, dia terus melihat ke arah gudang kecil tempat Elira dan Lyanna bersembunyi. Perlahan pandangannya gelap, tubuhnya tak mendengar perintahnya lagi. ***"Tenanglah sayang, ayahmu pria yang kuat.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status