LOGINTas itu tidak besar, hanya cukup untuk beberapa pasang pakaian ganti, sebungkus roti keras dan satu botol air minum.Ash mengikat tali penutupnya dua kali, kebiasaan lama yang tidak perlu tapi tangannya melakukannya sendiri. Di sudut kamar, tempat tidurnya masih rapi seperti yang Elira tinggalkan pagi tadi. Bantal di sisi kirinya masih ada lekukan kecil di tengahnya.Ash tidak melihat ke sana lagi.Kapak kecilnya tergantung di pinggang, sisanya ia tinggalkan. Perabotan, peralatan tani, semua barang yang ia kumpulkan selama sepuluh tahun tinggal di Pinedale, semuanya tetap di tempatnya. Ia tidak punya keperluan untuk membawanya."Kau tidak harus pergi, Nak."Suara Mr. Alton, wakil kepala desa, datang dari ambang pintu kamar. Pria tua itu berdiri dengan tangan di sisi tubuhnya, punggungnya yang membungkuk terlihat lebih berat dari biasanya. "Tempat ini adalah rumahmu, Ash."Ash berbalik menghadap pria tua itu. Ekspresinya tidak marah dan tidak sedih, hanya datar seperti permukaan air ya
Peluru menembus paha Ash dan pria itu tersungkur ke tanah dengan teriakan kesakitan. Elira langsung berlutut di sisinya, tangannya mencengkeram bahu Ash, matanya menatap Jacker."Berhenti! Tolong, dia tidak berbohong, tolong berhenti!"Tapi mata Jacker tidak ke arah Elira. Matanya ke arah tanah di dekat Kaki Ash, ke genangan yang mulai melebar di bawah paha Ash.Darahnya tidak berwarna merah. Ungu terang, hampir biru di tepinya, mengalir dari luka tembak itu dan meresap ke tanah. Kerumunan warga yang tersisa pun membeku. Anak buah Jacker saling melirik. Jacker sendiri berdiri tidak bergerak, rahangnya turun sedikit.Lalu peluru itu bergerak.Bukan mengalir keluar bersama darah, tapi terdorong perlahan dari dalam, ujung logamnya muncul di permukaan kulit dan jatuh ke tanah. Luka di paha Ash perlahan menutup dari tepinya ke tengah, sampai yang tersisa hanya garis tipis yang kemudian hilang.Suara Jacker keluar pelan, hanya untuk dirinya sendiri. "Abysswalker."Tubuhnya sedikit bergetar
Pemuda itu ambruk ke tanah dengan lubang di kepala. Kerumunan itu meledak seketika, teriakan dan tangisan bercampur jadi satu, beberapa orang berlari ke segala arah tapi anak buah Aegis sudah berbaris mengelilingi mereka. Tembakan ke udara beruntun memaksa semua orang menghentikan langkahnya.Di balik semak, Wren menarik lengan Ash ke belakang saat Ash hendak berdiri."Apa yang kau pikirkan? Lihat senjata mereka," bisik Wren, suaranya datar tapi matanya serius. "Apa kau akan melawan mereka dengan kapakmu?"Ash berhenti. Pikirannya menghitung dengan cepat, jumlah anak buah Jacker yang terlihat, jarak antara mereka, senjata yang mereka bawa. Kapak di tangannya kini terasa sangat kecil. Ia duduk kembali, tapi matanya tidak berhenti bergerak, menyisir wajah-wajah di kerumunan satu per satu berharap tak melihat Elira disana.Tembakan terus terdengar setiap beberapa menit. Setiap kali suaranya meletus, ada satu tubuh lagi yang jatuh. Wajah Jacker tidak berubah setelah semua itu, datar dan
Sebuah pesawat besar, lebih besar dari apapun yang pernah Ash lihat mendarat di dekat desa Pinedale. Bukan pesawat dagang biasa yang kadang melintas di ketinggian, pesawat ini turun rendah dan berhenti tepat di padang di sisi barat desa, mesin-mesinnya menderu keras sebelum akhirnya diam. Debu tebal membumbung dari tanah di bawahnya, menutupi sebagian besar lambungnya yang berwarna abu-abu gelap. Para pria itu bertanya-tanya dari mana, siapa dan apa tujuan pesawat itu mendarat di dekat desa Pinedale yang terpencil."Itu pasti bantuan dari kota lain," kata Wren, pria berbadan besar di sebelah kiri Ash, nadanya lebih seperti mencoba meyakinkan diri sendiri. "Kurasa kota Vindale mencarikan bantuan lain untuk kita."Pria lain mengangguk, setengah setuju, setengah berharap.Ash tidak menjawab. Matanya tidak lepas dari pesawat itu, dari cara ia turun tanpa pemberitahuan apapun, dari tidak adanya lambang atau tanda yang bisa dibaca dari posisinya. Sesuatu di dadanya seperti bergerak dengan
Elira berbalik dan hampir menjatuhkan mangkuk kayu di tangannya saat mendapati Ash sudah berdiri sangat dekat di belakangnya. Ash meletakkan satu tangan di dinding di sisi kepala Elira, membatasinya."Ada apa, sayang?" tanya Elira. Suaranya masih tenang, tapi matanya mencari-cari ekspresi di wajah suaminya.Ash tidak menjawab. Dia menatap istrinya dalam dengan tatapan yang tidak biasa, bukan ekspresi datar yang sudah dikenal Elira selama bertahun-tahun.Elira mengernyit, pandangannya bergerak ke wajah dan leher Ash. Urat-urat biru terlihat jelas di bawah kulitnya, seperti akar pohon yang menekan ke permukaan, tampak di sisi leher, di pelipis, di punggung tangan yang menumpu di dinding."Ash." Nada suara Elira berubah, lebih hati-hati. "Ada apa denganmu? Urat-uratmu ...." Dia mengangkat tangannya dan menyentuh sisi leher suaminya dengan ujung jari. "Apa kau baik-baik saja?"Ash tidak menjawab pertanyaan itu. Tangannya bergerak dan dalam satu tarikan, kain yang menutupi payudara Elira r
Ash mengalihkan pandangannya pada si besar yang kini berlari ke arahnya. Dia harus menyelesaikan urusannya dengan si besar itu sebelum bisa menyelamatkan istrinya. Tak jauh darinya, sebuah pedang tergeletak di sisi potongan jasad prajurit penjaga. Dengan sisa tenaga yang ada, Ash meraih pedang itu dan menghunusnya, tepat saat makhluk dengan cahaya biru samar di lehernya itu mendarat taring-taring yang siap mencabik."ARRGGHH!"Mata si besar itu terbelalak, gigi taringnya menancap di bahu Ash, tapi pedang miliknya juga menancap dalam di bawah rahang makhluk itu, menembus pangkal lidah hingga ke kepala. "Makan ini!" Darah biru gelap mengalir di tubuh Ash, membuatnya bermandikan darah. Saat kejadian itu semua makhluk lain mendadak berhenti dan melihat ke arahnya. Ash sudah diambang kesadaran, dia terus melihat ke arah gudang kecil tempat Elira dan Lyanna bersembunyi. Perlahan pandangannya gelap, tubuhnya tak mendengar perintahnya lagi. ***"Tenanglah sayang, ayahmu pria yang kuat.







