Home / Fantasi / Abysswalker: Darah Membara / Bab 6. Dibakar Hidup-hidup

Share

Bab 6. Dibakar Hidup-hidup

Author: The Red Lotus
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-14 13:07:26

Peluru menembus paha Ash dan pria itu tersungkur ke tanah dengan teriakan kesakitan. Elira langsung berlutut di sisinya, tangannya mencengkeram bahu Ash, matanya menatap Jacker.

"Berhenti! Tolong, dia tidak berbohong, tolong berhenti!"

Tapi mata Jacker tidak ke arah Elira. Matanya ke arah tanah di dekat Kaki Ash, ke genangan yang mulai melebar di bawah paha Ash.

Darahnya tidak berwarna merah.

Ungu terang, hampir biru di tepinya, mengalir dari luka tembak itu dan meresap ke tanah. Kerumunan warga yang tersisa pun membeku. Anak buah Jacker saling melirik. Jacker sendiri berdiri tidak bergerak, rahangnya turun sedikit.

Lalu peluru itu bergerak.

Bukan mengalir keluar bersama darah, tapi terdorong perlahan dari dalam, ujung logamnya muncul di permukaan kulit dan jatuh ke tanah. Luka di paha Ash perlahan menutup dari tepinya ke tengah, sampai yang tersisa hanya garis tipis yang kemudian hilang.

Suara Jacker keluar pelan, hanya untuk dirinya sendiri. "Abysswalker."

Tubuhnya sedikit bergetar. Dalam kepalanya ia sudah tahu apa artinya, sudah tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya, dan ia tidak menyukai satu pun dari pilihan yang tersisa.

Abysswalker yang tercipta di luar protokol laboratorium, tidak bisa dijinakkan, tidak bisa diperintah dan tidak bisa diatur. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah memusnahkannya sebelum kekuatannya sepenuhnya aktif.

"Ikat dia di tiang." Suaranya kembali datar. "Sekarang."

Empat anak buahnya langsung bergerak. Ash meronta saat tangannya ditarik ke belakang, tapi tenaganya tidak cukup melawan empat orang sekaligus. Tangan dan kakinya diikat dengan rantai besi ke tiang kayu besar di tepi lapangan, tubuhnya menghadap ke arah warga yang masih berlutut dengan ekspresi cemas.

Elira menerjang ke arah mereka tapi dua orang menangkapnya dari belakang. "Lepaskan! dia tidak berbohong! kalian tidak boleh menyakitinya!"

"Hei!" Suara Ash serak. "Dia tidak ada hubungannya dengan ini. Lepaskan istriku."

Jacker berjalan mendekat ke arah Ash, berhenti di depannya dengan tangan di saku jubahnya. "Maaf, nak." Suaranya hampir terdengar bosan. "Aku sudah bosan dengan lelucon hari ini."

Salah satu anak buahnya datang dengan jerigen dan menyiram isinya ke tubuh Ash dari atas kepala. Bau bensin langsung memenuhi udara, cairan itu mengalir ke wajah, ke tubuh hingga meresap ke tanah di bawah kaki Ash.

"Jacker, jangan!" Elira berteriak, suaranya pecah. "Tolong! Tolong jangan! Kumohon!"

Ash tidak berteriak. Ia menatap Jacker tajam, giginya menggeram.

Pistol Jacker terangkat, ditembakkan sekali ke tubuh Ash, dan percikan api dari peluru yang menggesek rantai besi cukup untuk menyulut bensin di tubuh Ash.

Api berkobar seketika.

"AAGGHH!" Rasa panas dan sakit seketika menyerang.

Tubuhnya berusaha meregenerasi, jaringan yang rusak mencoba menutup, tapi api terus membakarnya lebih cepat, membuat Ash merasakan sakit yang perlahan.

"TIDAK! ASH!" Elira menangis meraung mencoba memberontak namun sia-sia.

Orang-orang masih berlutut, beberapa memalingkan wajahnya, ada yang menangis, gemetar ketakutan, ada yang menggeram kesal namun, tak ada satu pun yang bergerak dari posisinya.

Salah satu anak buah Jacker berjalan ke arah Elira, matanya menyapu dari atas ke bawah. "Bos, akan kita apakan wanita ini?"

Jacker berbalik, menatap Elira dengan ekspresi yang dingin dan penuh perhitungan. Tangannya bergerak, jari-jarinya mencengkeram kain di bahu Elira dan menariknya keras hingga robekan panjang terbuka di sana. "Jalang ini ... tubuhnya cukup bagus untuk seorang wanita desa."

"Mungkin bisa kita jual di kota, bos," kata anak buahnya.

Jacker melirik ke arah Ash yang masih berteriak di tiang, apinya belum padam dan tubuhnya juga masih terlihat utuh. Lalu matanya kembali ke Elira. "Tidak perlu. Biarkan dia menyusul suaminya, aku tidak ingin meninggalkan dendam."

Akan tetapi, sudut bibir Jacker naik sedikit. "Tapi sebelum itu, tidak ada salahnya kita bersenang-senang sebentar." Ia berpaling ke anak buahnya. "Telanjangi dia."

Orang-orang seketika bereaksi, geram tak tertahan, beberapa bangkit dari posisi mereka. Wanita-wanita tua memaki dan mengutuk Jacker. Teriakan-teriakan mulai bersahutan saat anak buah Jacker menikmati merobek setiap kain di tubuh Elira.

DORRR! DORRR! DORRR!

Jacker menembak ke udara tiga kali berturut-turut.

"Aku sudah tidak ada urusan dengan kalian!" teriaknya ke kerumunan warga. "Siapapun yang masih ingin hidup, tinggalkan tempat ini sekarang!"

Rentetan tembakan semua anak buahnya ke udara membuat kepanikan meledak, orang-orang berlarian ke segala arah. Beberapa anak buah Jacker menarik wanita-wanita desa yang mereka incar saat kerumunan itu berhamburan.

Ash melihat semuanya dari tiang itu.

Kulitnya mengelupas dan menutup lalu mengelupas lagi dalam siklus yang tidak kunjung berhenti. Tubuhnya kesakitan, tapi yang paling menyakitkan baginya adalah perasaan tak berdaya, ketika melihat istrinya.

Ia melihat Elira ditarik ke sana, didorong ke sini, dijatuhkan ke tanah lalu diangkat lagi, diperlakukan seperti binatang. Mulutnya terus berteriak tapi suaranya sudah tidak keluar, tenggorokannya sudah tidak bisa lagi membentuk suara yang jelas.

Lalu sebuah batu kecil melesat dari arah pintu balai desa dan menghantam wajah salah satu anak buah Jacker.

Ash menggeser pandangannya ke arah asal batu itu.

Lyanna berdiri di depan pintu balai desa dengan batu lain di tangannya. Wajahnya yang biasa membuatnya tertawa sekarang terlihat marah, matanya merah, giginya terkatup rapat. "Lepaskan ibuku!" teriaknya.

Dalam kepalanya, Ash berteriak lebih keras. "Tidak, jangan sakiti putriku.  Kumohon lari, sayang! Lari sekarang!" tapi tidak ada suara yang keluar, pita suaranya telah terbakar habis.

"Sial, wajahku! ini akan meninggalkan bekas luka, sialan! siapa anak ini!" pria itu kesal dan berjalan mendekat.

Tiba-tiba sebuah gulungan tali melesat dari samping, lingkarannya terbuka di udara dan jatuh tepat di leher Lyanna. Salah satu anak buah Jacker menarik ujung tali yang sudah dilemparkan melewati balok kayu di rangka atap yang sedang diperbaiki, dan tubuh Lyanna seketika terangkat dari tanah.

Elira melihatnya. Suaranya keluar tapi tidak berbentuk kata, hanya seperti gumaman kecil yang lemah, dan tubuhnya yang sudah lemah mencoba bangkit, mencoba bergerak ke arah putrinya, tapi kakinya tidak menurut.

Jacker tidak melihat ke arah Lyanna. Ia sedang mengisi ulang pistolnya, wajahnya dingin menatap ke bawah.

Ash melihat kaki putrinya meronta, sepatu kecil yang merupakan kado ulang tahunnya, bergerak tidak beraturan di udara. Matanya tidak bisa berpaling, kelopak mata Ash sudah tidak ada untuk membantunya menutup mata, dan ia harus menyaksikan semuanya sampai gerakan kaki itu melambat, lalu berhenti.

Ash lalu menatap ke Elira, ke tubuh istrinya yang tidak bergerak lagi di tanah.

Kegelapan mulai masuk dari tepi pandangannya, perlahan ke tengah, dan suara-suara di sekelilingnya seperti menjauh.

"Sial, 4 bulan yang sia-sia. Bagaimana aku akan memanjakan penisku setibanya disana," gumam Jacker sambil membersihkan pistolnya.

Lalu kegelapan itu berhenti. Darah di dalam pembuluh Ash terasa seperti mendidih.

Jacker mengisi pistolnya, bibirnya masih bergumam tak jelas. Lalu matanya bergeser, melirik ke arah tiang tempat Ash terikat, dan ekspresinya seketika berubah.

Matanya melebar.

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 37. Sarang yang Lembab

    Banshee itu tidak memberi peringatan.Cakarnya melesat dari atas dalam satu gerakan, langsung ke arah bahu Ash, dan Ash menangkapnya dengan kedua tangan sebelum ujung-ujungnya sempat menembus. Tekanan dari cengkeraman itu langsung terasa di telapak tangannya, tulang-tulang di jari-jarinya berbunyi pelan saat ia menahan beban makhluk itu dari atas.Banshee itu mengepak sekali dan mengangkat Ash dari lantai.Udara bergerak kencang di sekitar telinganya saat tubuhnya terangkat, batu-batu di bawah menjauh, dan sebelum ia sempat melihat ke mana mereka bergerak, sisi kanan tubuhnya menghantam dinding batu dengan keras. BRUAKK!!"Argghh!"Suaranya bergema panjang di seluruh lorong gua, dan Ash merasakan tulang rusuknya berbicara dari dalam.Cengkeraman itu tidak mengendur.Ash menggerakkan tangannya dari menahan ke mencengkeram, memindahkan pegangan ke pergelangan kaki makhluk itu tepat di atas cakarnya, dan menekan. "Makan ini!" Tulang di bawah tangannya berderit, lalu patah dengan bunyi

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 36. Wanita Aneh

    Beberapa pria di kurungan-kurungan sekitarnya mulai berteriak, ada yang mundur ke sudut kurungannya, ada yang mencengkeram bilah kayu di depannya sampai otot-otot tangannya mengencang. Ash tidak bergerak, matanya mengikuti sosok-sosok Banshee yang turun satu per satu melalui lubang itu, cakar-cakar mereka mendarat di tepian batu dengan suara keras yang bergema di seluruh gua.Tapi Banshee-banshee itu tidak mendekati kurungan yang berisi manusia hidup.Mereka bergerak langsung ke kurungan-kurungan yang isinya sudah tidak bergerak, cakar-cakar panjang mereka membuka pintu kurungan dengan gerakan yang terbiasa dan terlihat mudah. Satu per satu mereka masuk dan suara yang keluar dari dalam kurungan-kurungan itu membuat beberapa pria berhenti berteriak dan memilih diam."Ugh, membuatku mual saja," gumam Ash memalingkan wajah saat makhluk-makhluk itu menyantap bangkai dengan cara yang menjijikan.Seorang pria di kurungan yang berhadapan dengan Ash mengamati cara Banshee membuka pintu kuru

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 35. Sarang

    Rynn tidak bergerak dari posisinya.Ia berdiri di antara akar-akar pohon besar, satu tangannya masih di gagang busur, kepalanya mendongak ke langit di antara celah-celah pepohonan. Suara kepakan sayap yang tadi memenuhi udara mulai mengecil, semakin jauh ke timur, sampai yang tersisa hanya angin malam yang bergerak di antara daun-daun.Para prajurit di sekitarnya menunggu dengan cara yang sama, tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bergerak tanpa perintah."Kyra." Rynn tidak menoleh, matanya masih di langit. "Berhasil?"Seorang perempuan muncul dari balik batang pohon di sebelah kiri, rambutnya hitam tebal dipotong pendek rata di bawah telinga, tepat seperti garis yang diukir dengan penggaris. Kyra mengangguk satu kali, singkat dan pasti.Shiva melihat percakapan itu dari tempatnya berdiri. "Apa yang berhasil?" tanyanya. "Apa yang kalian tunggu tadi?"Rynn baru menoleh ke arahnya sekarang. "Kami sedang berburu." Ia berbicara dengan nada yang sama seperti saat memberi perintah, dat

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 34. Berburu Banshee

    Cakar itu sudah setengah jalan ke arahnya saat tali di tubuh Shiva terputus.Bukan terlepas, bukan terbuka simpulnya, tapi benar-benar terpotong oleh sesuatu yang bergerak cepat dari samping. Tubuh Shiva jatuh ke depan dari batang pohon dan ia menangkap dahan di bawahnya dengan kedua tangan. Ayunan tubuhnya itu membawa kakinya melewati ruang kosong tepat saat cakar itu menyambar tempat ia berdiri tadi dan hanya mendapatkan serpihan kulit kayu.Rynn ada di cabang sebelahnya, pisau pendek di tangannya masih mengarah ke bawah dari gerakan memotong tadi. "Kau berada di waktu dan tempat yang tidak tepat, elf.""Aku tahu itu." Shiva menarik dirinya ke atas dahan dan langsung berdiri. "Sekarang beri aku sesuatu untuk melawan."Rynn menatapnya satu detik, lalu melempar pisau cadangan dari ikat pinggangnya. Shiva menangkapnya tanpa melihat, matanya sudah kembali ke makhluk yang tadi menukik ke arahnya. Banshee itu membalikkan tubuhnya d

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 33. Penculik Malam

    Pakaiannya adalah campuran warna tanah dan hijau tua, potongannya tidak beraturan dengan anyaman rumput dan daun kering yang dijahit di permukaannya sehingga mudah tersamarkan di dalam hutan. Di wajahnya ada goresan-goresan hitam tebal, bukan luka, melainkan coretan yang disengaja, membentuk pola yang memecah bentuk wajah sehingga sulit dibaca dari jarak jauh. Matanya cokelat gelap dan tidak berkedip.Shiva melihat ke kanan dan kiri. Di cabang-cabang pohon sekitar mereka, minimal empat sosok lain berdiri dengan postur yang sama, masing-masing dengan busur terangkat."Apa yang dilakukan seorang elf di hutanku." Wanita itu bukan bertanya dengan nada ingin tahu, lebih seperti seseorang yang sudah tahu jawabannya dan ingin memastikannya sendiri. "Tidakkah kau terlalu jauh bermain?""Bukan urusanmu." Shiva tidak menggerakkan kepalanya, hanya matanya yang bergerak ke arah area terbuka di bawah. "Lepaskan temanku."Perempuan itu menoleh ke bawa

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 32. Ada Apa di Hutan Ini?

    Shiva berdiri di jendela selama dua detik penuh. Orang yang sedang berjalan dalam tidur tidak mendarat seperti itu. Mereka terhuyung, mereka tidak mengkalkulasi ketinggian dan sudut jatuh dengan cara yang benar. Sesuatu yang lain sedang mengendalikan tubuh itu, dan Shiva tidak bisa lagi merasa semuanya normal.Ia berlari ke kamar Maren.Pintunya ia ketuk dua kali, keras. "Maren. Maren, bangun, ada sesuatu yang terjadi pada Ash."Tidak ada jawaban.Shiva mengetuk lagi, lebih keras, tiga kali. "Maren."Keheningan dari balik pintu itu berbeda dari keheningan tidur. Tidak ada suara napas yang terganggu, tidak ada suara orang yang bergerak kaget, tidak ada suara kaki yang turun dari ranjang. Shiva meletakkan telinganya ke pintu dan mendengar sesuatu yang sangat pelan, napas yang terlalu terkendali untuk seseorang yang sedang tidur, dan di bawahnya, suara yang lebih rendah lagi, seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu.Di balik pintu itu, Maren sedang terjaga. Ia tahu itu.Shiva ber

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 2. Urat Biru

    Ash mengalihkan pandangannya pada si besar yang kini berlari ke arahnya. Dia harus menyelesaikan urusannya dengan si besar itu sebelum bisa menyelamatkan istrinya. Tak jauh darinya, sebuah pedang tergeletak di sisi potongan jasad prajurit penjaga. Dengan sisa tenaga yang ada, Ash meraih pedang itu

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 1. Darah Primodial

    Dia tahu hari itu akan tiba, karena itu bukan yang pertama kalinya. Silver Ash, menutup pintu di lantai setelah memastikan Elira dan Lyanna sudah masuk ke dalam. Empat bulan dia membangun ruang bawah tanah itu untuk momen seperti ini."Apapun yang kau dengar, jangan pernah membuka pintu ini, menger

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 5. Jacker si Gila

    Pemuda itu ambruk ke tanah dengan lubang di kepala. Kerumunan itu meledak seketika, teriakan dan tangisan bercampur jadi satu, beberapa orang berlari ke segala arah tapi anak buah Aegis sudah berbaris mengelilingi mereka. Tembakan ke udara beruntun memaksa semua orang menghentikan langkahnya.Di

  • Abysswalker: Darah Membara   Bab 4. Para Aegis

    Sebuah pesawat besar, lebih besar dari apapun yang pernah Ash lihat mendarat di dekat desa Pinedale. Bukan pesawat dagang biasa yang kadang melintas di ketinggian, pesawat ini turun rendah dan berhenti tepat di padang di sisi barat desa, mesin-mesinnya menderu keras sebelum akhirnya diam. Debu teb

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status