Pagi Senin datang terlalu cepat. Aku terbangun lebih dulu dari Mas Tian. Sinar matahari sudah menyelinap masuk lewat celah gorden, menyentuh wajahnya yang masih tertidur di sampingku. Lengan kanannya masih melingkari pinggangku, seolah bahkan dalam tidur ia enggan melepaskanku. Aku menatapnya lama. Dalam dua hari di tempat ini, aku sudah hafal setiap detail wajahnya dari dekat. Bulu mata yang lentik, garis rahang yang tegas, bahkan sedikit bekas luka kecil di dekat alisnya yang biasanya tidak kelihatan. Dadaku sesak. Hari ini kami harus kembali. Mas Tian mengerang pelan, lalu membuka mata. Pandangannya langsung menemukan wajahku. Ia tersenyum tipis, masih setengah mengantuk, lalu menarikku lebih dekat dan mengecup keningku. “Pagi,” bisiknya serak. “Pagi, Mas…” Ia terdiam sejenak, menatapku seolah ingin mengucapkan sesuatu. Tapi akhirnya ia hanya menghela napas dan bangkit duduk. “Kita harus pulang.” Aku mengangguk pelan. “Iya.” Suasana di penthou
Last Updated : 2026-08-20 Read more