Pagi harinya, amukan badai telah mereda, menyisakan udara dingin yang menusuk tulang. Selepas sarapan sederhana di apartemen Kak Gavin, lelaki itu menawarkan diri untuk mengantarku pulang menggunakan motornya. Karena aku tahu aku tidak bisa selamanya lari dari mansion. Sepanjang perjalanan, tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Bayangan wajah Mas Tian membuat debaran di dadaku semakin tidak karuan. . Gerbang tinggi mansion keluarga terbuka. Motor Kak Gavin berhenti tepat di halaman depan. Aku segera turun, melepas helm dari kepala, lalu menyerahkannya kembali kepada Kak Gavin sambil memaksakan seulas senyum. “Terima kasih banyak ya, Kak.” ucapku tulus. “Sama-sama, Rania.” balasnya ramah. Namun detik berikutnya, darahku seakan mendesir turun ke kaki, mataku menangkap sesosok tubuh jangkung berdiri tegap di ambang pintu utama mansion. Mas Tian. Lelaki itu ternyata belum berangkat ke kantor. Tatapan matanya yang tajam langsung ke arahku, sebelum bergeser
Last Updated : 2026-08-31 Read more