Suara langkah kaki itu kembali terdengar, melangkah semakin dekat, lalu berhenti tepat di balik pintu kamarku.Tok. Tok. "Rania."Panggilan Mas Tian terdengar samar menembus pendengaranku. Aku ingin menyahut, namun bibirku terasa begitu kelu. Tubuhku yang terbaring kaku di lantai sama sekali tidak bisa digerakkan.Tok.Tok. "Rania." Ketukan kedua terdengar lebih jelas dan mendesak.Aku memaksakan diri membuka kelopak mata, meski pandanganku sepenuhnya buram dan kepalaku berdenyut sangat berat. Beberapa detik berlalu, hingga terdengar bunyi klik dari gagang pintu yang diputar. Langkah kaki itu bergegas masuk, lalu berhenti tepat di sisiku."Rania," panggilnya lagi, kali ini dari jarak yang sangat dekat. Aku merasakan punggung tangannya menyentuh dahiku."Mas..." Hanya gumaman lirih itu yang mampu lolos dari bibirku.Tanpa membuang waktu mengatakan apa pun, Mas Tian langsung mengangkat tubuhku. Satu lengannya dengan sigap menopang punggungku, sementara tangan yang lain menyan
Last Updated : 2026-07-28 Read more