Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Dante, sepanjang perjalanan mereka menuju rumah sakit. Suasana yang sedari tadi hening, menjadi cair karena terdengar suara yang berasal dari perut Niken– lapar. Bagaimana tidak lapar, waktu telah menunjukkan pukul dua belas lewat. Mana saat di bengkel tadi, Evan tak berhenti menyusu. Alhasil, Evan kenyang dan anteng tapi tidak untuk Niken. Sayangnya mereka sudah tiba di halaman depan rumah sakit, seandainya belum sampai, pasti mereka akan mampir makan lebih dulu. “Kenapa gak bilang kalau kamu lapar?” Dante melepas seat beltnya. Kepalanya menengok ke arah Niken, sementara satu tangan memegang kemudi. Niken menatap Dante. “Baru lapar sekarang, Pak.” Dustanya. Padahal sejak tadi ia sudah lapar– hanya saja masih bisa ia tahan. Pria itu menggaruk pelan kepalanya, lantas mengajak Niken untuk keluar dari mobil. Tidak mungkin mereka meninggalkan rumah sakit, demi menghemat waktu, Dante mengajak Niken untuk makan di kantin rumah sakit saja. B
Read more