Seperti didukung oleh alam semesta, pagi-pagi sekali Dante telah pergi. Kemarin ia dengar saat Dante dan Riana bicara, kalau pagi ini Dante ada operasi besar. Pukul tujuh pagi Niken sudah siap. Ia juga sudah memandikan Evan, agar Riana tidak terlalu repot saat menjaga keponakannya itu. “Kamu beneran gak apa-apa, jalan sendiri?” tanya Riana untuk kesekian kalinya. Pasalnya Niken kekeh untuk pergi sendiri ke makam anaknya. “Gak apa-apa, Mbak. Saya sendiri aja … saya gak mau report Mbak Riana terus,” ucap Niken mengumbar senyum kecil. “Ya sudah kalau kamu maunya gitu. Kamu hati-hati ya,” pesan Riana mengusap lengan Niken. “Iya, Mbak. Saya minta tolong Pak Dante jangan sampai tahu ya, Mbak,” lirih Niken dengan mata penuh harap. Riana mengangguk pasti. Sebenarnya agak berat meninggalkan Evan, tapi gapapa lah, ia cuma beberapa jam saja di luar. Itu pun hanya untuk nyekar ke makam anaknya. Mengantarkan Niken hingga pintu gerbang, Riana yang menggendong Evan– melambaikan tang
Read more