ANMELDENEalah, ini gimana ya Pak Dokter. Maunya Niken pakai baju apa sih, Dok.
Entah kenapa sejak beberapa hari lalu, Niken merasa tenggorokannya tak enak. Padahal seingatnya ia hanya makan yang dimasak oleh orang rumah. Beberapa kali ia terbangun hanya karena batuk yang hebat– terasa gatal. Ia sampai harus ke kamar mandi agar suara batuknya tidak mengganggu tidur Evan. “Aduh ini kenapa sih?” gumam Niken meraba lehernya. Kalau bisa, sudah ia garuk tenggorokannya gatal. Setelah batuknya sedikit mereda, ia keluar kamar mandi. Netranya melirik ke atas meja tempat gelas air minum yang biasa ia bawa ke kamar. Sayang isinya sudah kosong. Salah satu tangannya meraba dadanya yang terasa kencang dan sedikit sakit. Jam sebelas malam ini adalah jadwal pumpingnya, namun berhubungan kondisi tubuhnya yang kurang fit, Niken terpaksa menunda hingga ia merasa sehat. Membawa gelas kosong itu ke dapur, ia berniat untuk menyeduh perasan lemon yang dicampur dengan madu. Obat tradisional yang sejak dulu katanya selalu ampuh meringankan batuk. Setibanya di dapur, Niken berjalan men
Dante menautkan alisnya, kemudian menatap ke arah Niken. Di zaman sudah modern seperti ini, istilah DBF saja Niken tidak tahu. “Direct breastfeeding,” sahut Dante penuh penekanan. Apalagi itu. Mendengarnya saja baru kali ini. Kata dengan bahasa asing yang ia tidak tahu arti dan cara pengucapannya. Mulutnya menganga, ingin mengucapkan ulang ucapan Dante tadi. “Di … dai …” Niken terbata-bata. Dante menghela nafas– sedikit kesal. Memangnya dia ini tidak lulus sekolah atau bagaimana. “Direct breastfeeding … menyusui langsung dari sumbernya,” cecar Dante spontan membuat Niken menyilangkan tangan di depan dadanya. Dante memandang Niken bingung– heran dengan reaksi yang Niken tunjukkan. “Kenapa?” tanya Dante masih dengan tatapan yang sama. Niken menggeleng sembari menurunkan tangannya ke pangkuan. Belum mendapat jawaban atas pertanyaannya tadi, Dante kembali mengulangi pertanyaannya. “Kata Mbak Riana, sayang kalau asinya kebuang-buang.” Dante menatap ke arah Niken– matanya menyipi
Hati-hati ia berjongkok di pinggir kolam renang, lalu tangannya terulur hendak memberikan Evan pada Dante. “Tunggu dulu dong. Gak bisa langsung kayak gitu,” celetuk Dante dengan nada tinggi pada Niken. Wanita itu menggigit bibir bawahnya. Kaget bercampur takut melihat ekspresi Dante. Ia terus menjaga pandangan matanya yang sedari tadi mencoba untuk berkeliaran. Pria itu meminta Niken untuk duduk di tepi kolam dan mencelupkan dulu kaki Evan– ingin tahu reaksi Evan saat kulitnya merasakan air kolam renang. Bukannya takut, Evan malah terlihat girang. Mulutnya berceloteh, dengan kaki yang terus bergerak-gerak di dalam air. Evan suka bermain air. Sesekali Niken memalingkan muka karena terkena ciprat air yang Evan ciptakan. “Buka dulu popoknya,” kata Dante dengan tangan terulur siap mengambil Evan dari tangan Niken. Ia mengerjapkan mata saat tangan mereka saling bersentuhan. Kemudian membuka celana Evan dan membuka popok bayi itu. Masih kering, karena memang baru saja ia menggantinya.
Meski Riana sudah mengatakan kalau ia sudah izin pada Dante, tapi kali ini Niken tidak mau ambil resiko lagi. Di dalam mobil– sebelum berangkat, ia mengirimkan pesan minta izin pada Dante. Walau sempat ragu, karena merasa aneh mengirim pesan duluan pada ayahnya Evan itu. [Saya dan Evan, jalan sama Mbak Riana untuk nyari alat pumping ya, Pak.] Isi pesan Niken pada Dante. Pria itu baru saja membacanya– empat jam setelah Niken mengirimkan pesan itu. Melirik ke dinding ruangan pribadinya, jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia baru saja selesai operasi. Cukup sulit, hingga operasi yang dijadwalkan berjalan tiga jam harus molor satu jam. Setelah merapikan meja kerjanya, ia keluar ruangan sembari menghubungi Azka agar standby di lobby rumah sakit. Rasanya hari ini sangat lelah, ia ingin segera sampai rumah dan beristirahat. Melihat tampang bosnya yang letih, Azka mengurungkan niatnya untuk memberi tahu perkembangan proses perceraian bosnya. Sepanjang jalan, Dante terus memejamkan
“Tumben, kok dinginnya beda ya?” gumam Niken sendiri merasa hawa dingin yang tiba-tiba menyentuh kulitnya terasa lain. Ia melirik ke arah kulkas– pintunya tertutup rapat. Ia sempat mengira kalau hawa dingin itu berasal dari kulkas, nyatanya tidak. Cepat mengunyah habis buah pear terakhir yang ada di piring, Niken berdiri sambil membawa piring di tangannya. Berniat untuk mencucinya sebelum balik ke kamar. Namun saat itu berbalik, reflek piring itu jatuh dari tangannya. Untung itu hanya piring plastik, kalau tidak bunyinya akan membangunkan seisi rumah. Niken benar-benar kaget– Dante berdiri di depannya tanpa suara. Wajahnya penuh tanya dengan tangan menyilang di depan dada. “Pak,” sapa Niken takut-takut. Badannya sedikit menunduk untuk mengambil piring yang jatuh dekat dengan kaki Dante. “S-saya permisi, Pak,” katanya lagi ingin cepat berlalu dari hadapan Dante. Namun sayang, Dante cepat menahan langkah kaki Niken dengan meraih lengannya. Mencengkramnya tapi tidak sakit. Niken terp
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Dante, sepanjang perjalanan mereka menuju rumah sakit. Suasana yang sedari tadi hening, menjadi cair karena terdengar suara yang berasal dari perut Niken– lapar. Bagaimana tidak lapar, waktu telah menunjukkan pukul dua belas lewat. Mana saat di bengkel tadi, Evan tak berhenti menyusu. Alhasil, Evan kenyang dan anteng tapi tidak untuk Niken. Sayangnya mereka sudah tiba di halaman depan rumah sakit, seandainya belum sampai, pasti mereka akan mampir makan lebih dulu. “Kenapa gak bilang kalau kamu lapar?” Dante melepas seat beltnya. Kepalanya menengok ke arah Niken, sementara satu tangan memegang kemudi. Niken menatap Dante. “Baru lapar sekarang, Pak.” Dustanya. Padahal sejak tadi ia sudah lapar– hanya saja masih bisa ia tahan. Pria itu menggaruk pelan kepalanya, lantas mengajak Niken untuk keluar dari mobil. Tidak mungkin mereka meninggalkan rumah sakit, demi menghemat waktu, Dante mengajak Niken untuk makan di kantin rumah sakit saja. B
Sementara di tempat Pak Broto, Dante tak fokus mendengarkan penjelasan dari pengacaranya itu. Pikirannya melayang ke rumah sakit. Berkali-kali ia melirik ke arah ponsel yang ia letakkan di atas meja, tapi tak ada pesan masuk dari Riana ataupun Niken. Padahal seharusnya mereka sudah sampai. Ia mengge
Ada rasa kesal karena Riana tak langsung menjawab pertanyaannya, malah bermain teka-teki. Secara tidak langsung Riana menyuruh Dante untuk mengecek ponselnya. Pria itu lalu merogoh saku celananya. [Mas, aku jalan dulu sama Niken dan Evan.] Itu adalah pesan yang Riana kirimkan padanya pukul lima so
Niken kembali duduk di kursi, bersamaan dengan datangnya Mbok Tini yang merapikan peralatan makan mereka. Rasanya seperti sedang di sidang karena telah melakukan kesalahan yang besar. Ia hanya bisa menunduk, tak berani menatap Dante. “Jadi kamu bilang apa sama Riana?” Dalam tunduknya, mata Ni
Dante mengambil bantal dan menyandarkan punggungnya. Nafasnya masih memburu karena perdebatan kecil dengan Riana tadi. Sebenarnya ia tidak pernah dan tidak berniat untuk membuat Niken tidak nyaman berada di kamarnya. Toh ia selalu mengecek CCTV dulu sebelum masuk ke kamar. Kalaupun ada satu ketika i







