"Ja-jangan percaya, Sayang. Kaizen tidak mungkin seperti itu," ucap Naia, menoleh cepat pada Aluna. Dia tampak cemas, takut Aluna percaya pada perkataan Kika. "Tenang, Mama. Aku sangat percaya pada Mas Kaizen," ucap Aluna dengan mantap, tak ingin lagi masuk ke jurang kesalahan yang sama. Naia begitu lega mendengar ucapan menantunya. Hatinya senang karena Aluna memilih percaya pada Kaizen. Namun, sekalipun begitu, Naia tetap marah pada Kika. Dia menatap sahabatnya tersebut dengan raut muka penuh amarah. "Kali ini kamu sudah sangat keterlaluan, Kika. Kamu tahu anakmu salah, tetapi kamu terus melindungi. Bahkan kamu saat ini mendukung kesalahan putrimu." "Kamu yang keterlaluan, Naia. Kamu tidak bisa mendidik anak dengan benar! Coba saja kamu mendidik Kaizen dengan benar, pasti Kaizen tak akan menghamili putriku. Kamu dan putramu yang salah! Oh iya, lupa. Putramu kan gila yah …." balik Kika yang marah. "Apa Tante bilang?" Aluna berdiri dan menatap marah pada Kika. "Sayang,
Read more