MasukSelamat membaca dan semoga suka dengan 3 bab kita, MyRe. Love kalian semua .... IG:@deasat18
"Sera, akhirnya kau muncul juga," ucap Tristan dengan nada lembut dan senang, menatap bahagia pada Sera. Sera menggaruk pelipis sambil menatap ke sekelingin dengan raut muka canggung. Damn it! Sera menyesal datang ke sini. See? Mata si Mak lampir sudah seperti ingin mengulitinya secara hidup-hidup. "Wah, Sayang, kamu semakin cantik saja," ucap seorang wanita, tak lain adalah ibu Tristan. Sera mau tak mau menghampiri dan menyalam. Bagiamana pun orang tua Tristan baik padanya dan masih kerabatnya. "Salam, Tante, Paman," ucap Sera, sambil menyalam Tania dan Vian (orang tua Tristan secara bergantian). Namun, dia melewati Ttristan begitu saja, Sera langsung duduk di sebelah Viviana—adiknya yang langsung senyum cerah padanya lalu memeluk tangannya secara erat. "Karena Sera sudah di sini, anggota keluarga sudah lengkap, jadi kita mulai saja," ucap Vian, ayah Tristan. "Yah, silahkan." Diego menyambut dengan baik."Jadi kedatangan kami ke sini untuk melamar salah satu putrimu, Diego," un
"Kenapa? Kamu cemburu, marah, atau … sekarang di kepalamu ada banyak rencana untuk merebut Tristan dari Kakakmu sendiri?" ketus Vanessa, mengepalkan tangan sambil menatap marah pada Sera. Sera mengedikkan pundak secara santai. "Kak Tristan bukan seleraku. Buat apa aku merebutnya?" ucap Sera datar, setelah itu kembali melanjutkan langkahnya ke kamarnya. "Aku pasti akan menyingkirkanmu, Jalang kecil. Tak akan kubiarkan Wilona mengalami nasib buruk yang sama seperti yang kualami," ucap Vanessa sambil menatap jari tangan kirinya yang tersisa hanya dua. Tiga jemarinya tak lagi utuh, kakak dari wanita iblis itu lah yang memotong jarinya. Selain itu kaki kanannya juga pincang karena lagi-lagi akibat kejahatan Raigen. Namun, untungnya masih ada pria yang mau menerimanya setelah lepas dari penjara dan dalam keadaan cacat. Sekarang kaki kanannya sudah sembuh, jemarinya yang hilang juga sudah diganti dengan jari-jari palsu. Hanya saja, saat ini dia sedang tidak memakainya. Sampai sekarang Va
"Ti-tidak." Sera menggelengkan kepala sacara cepat. Wajahnya sudah kaku dan jantungnya sudah berdebar kencang. Jangan bilang sarapan yang Xavier maksud adalah mengulang kejadian tadi malam? Jika iya, siapapun, tolong selamatkan Sera!"Wanita memang penuh dengan gengsi," ucap Xavier dengan nada rendah dan berat, membaringkan Sera di atas ranjang. Dia melepas tuxedo yang sudah terpasang rapi di tubuhnya, "tidak masalah karena aku tahu istriku sangat bahagia dengan penyatuan panas tadi malam.""Bahagia?" beo Sera, mengerutkan kening sambil menatap bingung pada Xavier. Tadi malah dia terlihat bahagia? Hei, bukankah tadi malah dia dipenuhi rasa takut yang membuatnya berkeringat dingin. Jadi letak raut bahagianya di mana? "Humm. Kau sangat bahagia, Darling," ucap Xavier, mengambil posisi untuk menindih tubuh Sera, "saking bahagianya, kau terus menangis haru," Xavier berkata rendah sambil mengusap pinggiran wajah Sera dengan gerakan sensual. Bibirnya masih membentuk seringai penuh arti, dan
"Jangan panggil aku Nagos!" Sera menatap berang pada Xavier, wajahnya murung bercampur kesal. Tadi malam itu … setiap detail adegannya masih mengiang dalam kepala Sera. Kejadian tadi malam seperti teror hantu gentayangan yang menakut-nakutinya. Xavier menyunggingkan smirk tipis sambil menepuk-nepuk pelan pucuk kepala istrinya. "Bukankah itu permintaanmu, Nagos?" ucap Xavier rendah. Dia setengah duduk pada meja rias, menatap istrinya yang duduk di kursi meja rias—posisi mereka saling berhadap-hadapan, di mana mata Xavier sedikitpun tak lepas dari Sera. Tadi malam itu … rasanya Xavier ingin mengulangi lagi dan lagi. Mungkin Nagos adalah makanan yang mampu membuatnya kenyang hingga memberikan mimpi yang indah. Akan tetapi lapar secara cepat. Xavier menangkup pipi Sera dengan satu tangan. Dia memaksa perempuan itu mendongak padanya, evil smirk kembali muncul. Dia menatap Sera dalam, penuh ketertarikan, dan lapar. Ah, apa dia makan saja perempuan ini? Seumur hidup, Xavier belum
"To-tolong jangan macam-macam padaku," cicit Sera, menatap Xavier dengan sangat panik dan takut setengah mati. Satu tangannya memegang kuat handuk supaya tidak lepas, lalu satu lagi ia jadikan penopang agar ia bisa duduk. Rasa panik Sera semakin menjadi-jadi ketika melihat Xavier melepas kemeja sambil menyunggingkan smirk tipis padanya. "Macam-macam itu apa, Nagos?" tanya Xavier dengan suara serak, mulai naik ke atas ranjang dan merangkak mendekat pada Sera yang bergeser mundur. "Ki-kita sudah sepakat. Ja-jangan lupa," cicit Sera lagi dengan suara bergetar. Dia ketakutan saat Xavier mendekat padanya. "Kenapa kau sangat ketakutan, Heh? Aku suamimu!" dingin Xavier, mencengeram pipi Sera lalu mengangkatnya supaya perempuan ini menatapnya. "A-aku tidak masalah. Ta-tapi kita harus menikah ulang dulu." cicit Sera, bersama dengan air matanya yang jatuh—saking takutnya. Dia memang takut disentuh oleh Xavier, apalagi setelah dia melihat benda pusaka milik pria ini yang … ugh! Apa benda se
"Kamarmu bukan di sini," ucap Xavier sambil menatap dingin pada Sera yang sudah duduk di pinggir ranjang Kaina. Xavier tak melangkah masuk, dia hanya berdiri di samping pintu—menyandar pada dinding sambil bersedekap di dada. "Bukannya kamu bilang, Kak Xavier bolehin kamu ke sini," gumam Kaina, menatap Sera dengan kening mengerut. "Hehehe …." Sera cengengesan pada Kaina, mau tak mau dia bangkit dari pinggir ranjang lalu menghampiri Xavier. Sejujurnya Sera tak ingin kembali ke lantai empat. Akan tetapi dia sangat takut pada Xavier, dia takut Xavier menyeretnya dari kamar ini ke lantai empat. "Sudah jam sepuluh malam, Kai. Segera tidur," titah Xavier pada adiknya, setelah Sera berada di sebelahnya. "Baik, Kak," jawab Kaina pelan sambil menganggukkan kepala. Xavier menarik Sera agar ikut dengannya. Namun, sebelum pergi dia menutup pintu lebih dulu. *** "Mandi." Xavier memberikan peringati. Sera menganggukkan kepala, dia patuh dan menurut. Namun, karena dia takut Xavier i
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring
"Elleh." Sza menatap Aluna dengan mata berang, "katanya mau cerai?" ucapnya. Saat ini Aluna dan Sza berada di kursi tunggu rumah sakit. Kaizen sedang menemui dokter yang memeriksa Aluna untuk menanyakan kondisi Aluna agar lebih pasti dan meyakinkan. "Syuut! Pelan-pelan! Ada Pak Alan," bisik Aluna







