"Giliran orang lain, kau dengan mudah mendeteksi rasa sukanya. Tetapi padaku … sudah terang-terangan, kau tetap tidak sadar," sindir Kaizen. "Is." Aluna langsung memukul pundak suaminya, "bukan enggak sadar, tapi takut kege'eran, Mas. Makanya mending pura-pura enggak tahu," cemberut Aluna. "Ragu sama dengan pura-pura tidak tahu, Heh?" Kaizen kembali menyindir. "Apa sih, Mas?!" Aluna tampak kesal, "nanti aku kasih pantun nenek-nenek, Masnya yang ketar-ketir," tambahnya. "Cih." Kaizen berdecih geli, setelah itu mencium bibir Aluna secara singkat. "Tidak masalah. Aku suka bercinta denganmu, Darling," ucapnya rendah dan pelan, berbisik tepat di daun telinga istrinya. "Ih, apa sih, Mas? I-ini di kantor loh. Nyebut, Mas, nyebut!" horor Aluna yang sudah merah pipinya. Dia langsung menoleh ke sana kemari, takut ada yang mendengar ucapan mesum suaminya. Seperti biasa! Suaminya memang ada gila-gilanya. "Bukankah perjanjiannya, jika kau berani berpantun keramat itu, itu sama saja ka
Baca selengkapnya