LOGIN"Istri Kakak tidak aneh sepertimu, Sweetheart," ujar Xavier, duduk di sebelah istrinya sambil memegang wadah nasi dan ayam bakar. "Mau?" tawarnya pada sang istri, mendapat anggukan cepat dari Sera. Melihat anggukan Sera yang antusias, Xavier seketika senyum manis. Xavier beranjak dari sana untuk mencuci tangan lalu segera kembali duduk di samping istrinya. Dia berniat menyuapi Sera. "Aku juga mau, Kak," ucap Kaina, menatap tergiur pada ayam panggang tersebut. Xavier menaikkan sebelah alis. Dia laku memotong ujung sayap kemudian memberikannya pada adiknya. Wajah Kaina langsung dongkol, menatap kakaknya dengan mata berkedut-kedut. Sedangkan Sera, dia tertawa kecil—merasa lucu pada Xavier dan ekspresi wajah dongkol sahabatnya. "Jahat!" sebal Kaina, menatap muram pada kakaknya. "Lihat saja, kalau anak Kakak lahir, aku akan mengajaknya untuk bersekongkol." "Bersekongkol apa, Humm?" ucap Xavier, mulai menyuapi Sera. Sera sendiri sengaja bergeser ke depan supaya Xavier lebih mudah
"Dia bahkan tidak mau berbicara denganku," jawab Xavier, nadanya cukup ketus efek perasaan tak nyaman yang menyelip di hatinya. "Jadi kalau Sera tak mau berbicara denganmu, kamu merasa harusbalik mendiaminya, Humm?" Aluna menatap penuh peringatan pada putranya, "yang Sera rasakan saat ini sangat menyakitkan, Nak. Dia kehilangan Ayahnya dan itu berlangsung di depan matanya. Orang yang membunuh Ayahnya adalah ibu kandungnya sendiri. Ayahnya terbunuh untuk melindungi dirinya. Mama tirinya masih terus saja menyalahkannya atas kejadian ini. Dan semua situasi ini terjadi saat dia sedang mengandung anak kamu. Coba bayangin seberapa berat beban pikiran yang harus dia tanggung, Nak?!" Xavier menghela napas lalu menggaruk pelipis. Dia paham dan dia mengerti jika ini berat untuk Sera. Namun, dia hanya … hanya ingin Sera mau berbicara padanya. Jangan mendiaminya seperti ini. Xavier jadi merasa bersalah karena waktu itu dia yang datang terlambat. "Kamu tahu tidak, kalau perpisahan itu adalah
"Tidak perlu khawatir, Nyonya Vanessa. Tuan Diego sudah merupakan harta khusus untukmu," ucap Satria dengan nada datar. Namun, karena mungkin lelah seharian ini, suaranya terdengar pelan dan halus. Vanessa terdiam cukup lama lalu pada akhirnya, beranjak dari sana dengan tangan yang mengepal. Wajahnya tampak muram, malu mendengar ucapan Satria. Namun, sebenarnya, itulah yang dia untuk dengar. Sera menatap sekilas pada Vanessa. Tak ada kebencian di matanya, hanya tatapan kosong yang tak punya rasa. Sekalipun Vanessa menyebalkan dan terus menuduhnya, setidaknya perempuan itu jauh lebih baik dari perempuan yang melahirkan Sera. Setidaknya Vanessa masih menangisi kepergian ayahnya dan perempuan itu juga ikut ke pemakaman. Mengingat wanita jahat itu—wanita yang melahirkannya, Sera diam-diam mengepalkan tangan. Dulu, sekalipun sudah mengalami banyak kejahatan dari wanita itu, Sera tetap tak sanggup untuk benar-benar membencinya. Ikatan itu masih ada. Namun, sekarang ikatan itu benar-be
Padahal ada kakaknya sang sama hancurnya dengannya akan tetapi berusaha tetap tegar hanya demi dirinya. "Maafkan aku, Kak," cicit Viviana pelan, menggeser kursinya supaya lebih dekat dengan Sera. Setelah itu, dia meraih tangan Sera. Dia menunduk dalam, menempelkan punggung tangan Sera pada keningnya lalu menangis terisak, "selama Ayah hidup, aku merasa sering merebut kasih sayang Ayah dari Kak Sera. Maafkan Viviana, Kak, karena … bahkan di saat pergi, Kakak harus memendam kesedihan Kakak hanya demi menopangku. A-aku sangat tidak berguna, a-aku jahat pada Kakak. Tolong maafkan Viviana, Kak …." "Nggak ada yang harus Kakak maafkan karena kamu tidak pernah berbuat salah pada Kakak," ucap Sera lembut, menarik tangannya pelan lalu memilih memeluk adiknya, "apa yang Ayah berikan padamu, itu sudah seharusnya Ayah padamu. Tidak lebih tidak kurang. Itu hakmu sebagai putrinya. Adapun Kakak … Kakak putri pertama Ayah. Jadi sudah seharusnya berbeda. Jangan salahkan dirimu, kamu hanya menerima h
"Ini kue yang Ayah belikan untukku dan Mas Xavier," ucapnya rapuh, suaranya tercekik ditenggorokan—pilu dan menyayat hati. Aluna seketika terdiam, langsung menjauhkan tangan dari paper bag tersebut. Dia semakin iba, tak tega dan ikut hancur melihat menantunya. Aluna menatap ke arah suaminya, wajahnya sedih dan tatapannya sayu. Aluna ikut rapuh dan tak kuat. Kaizen mendekat ke arah Sera, duduk di sebelah menantunya sehingga Sera kini ada di antara dia dan istrinya. "Daddy akan menjaga kue-mu dengan baik," ucapnya pelan dan lembut, membuat Sera menoleh padanya. "Daddy berjanji," tambahnya. Sera menoleh pada kuenya, mengendorkan pelukannya pada paper bag tersebut lalu pada akhirnya menyerahkannya pada daddy mertuanya. "Sekarang ganti pakaianmu, Nak," ujar Kaizen lagi. Sera menurut dan patuh, menganggukkan kepala secara pelan. Dia berdiri, dipapah dan dibantu oleh mommy mertuanya. "Viviana, Kakak ganti baju dulu. Kamu tunggu di sini yah," ucap Sera dengan nada le
Terlambat! Xavier kembali menghela napas, tak membiarkan kesedihan dan perasaan bersalah menyelimuti. Ini bukan saatnya! Dengan lembut, dia mengulurkan tangannya—menyentuh pucuk kepala istrinya. Saat tangannya menyentuh pucuk kepala istrinya, Sera langsung mendongak padanya. Deg' Jantung Xavier berdebar kencang, bebaran yang terasa sakit ketika melihat sorot mata istrinya yang penuh luka dan tak lagi berbinar. "Mas izin mengangkat Ayah. Boleh?" ucap Xavier dengan nada serak yang terdengar bergetar. Tatapan Sera yang menyedihkan menarik Xavier dalam pusaran luka yang menyakitkan. Sera tak bersuara, akan tetapi dia menganggukkan kepala secara pelan. Xavier meraih tubuh ayah mertuanya, membawanya dalam gendongannya. Air mata Xavier jatuh begitu saat menyadari sesuatu. Bahkan di saat terakhirnya, pria hebat ini tak ingin melukai putrinya. Tadi, satu tangan ayah mertuanya memeluk tubuh Sera. Lalu satu lagi, menyangga pada pegangan kursi supaya tubuhnya tak jatuh di atas perut
"Elleh." Sza menatap Aluna dengan mata berang, "katanya mau cerai?" ucapnya. Saat ini Aluna dan Sza berada di kursi tunggu rumah sakit. Kaizen sedang menemui dokter yang memeriksa Aluna untuk menanyakan kondisi Aluna agar lebih pasti dan meyakinkan. "Syuut! Pelan-pelan! Ada Pak Alan," bisik Aluna
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e







