"Kau--" Elzeren menatap ke arah perut Kaina, "hamil?" ulangnya. "Iya, Kak," jawab Kaina pelan dan cukup kikuk, terlebih saat Elzeren menyentuh perutnya—pria itu meletakkan tangan di atas perut Kaina. "Tapi perutmu … kecil," gumam Elzeren, berkata asalan karena terlalu gugup dan masih tak percaya. "Yo!" Kaina menatap horor dan tak percaya pada suaminya, "kan baru hamil, Kak. Ya kali perutku langsung besar! Enggak dong! Tunggu dulu sekitar 3 atau empat bulan, baru perutnya mulai buncit." "Oh." Elzeren ber-oh-ria. Setelah itu, Elzeran senyum tipis pada Kaina. "Kemari," ucapnya, menepuk pahanya—memberi isyarat supaya Kaina pindah lalu duduk di atas pangkuannya. "Aku di sini saja," gugup Kaina. "Ke sini!" titah Elzeren. Pada akhirnya Kaina bangkit dari kursi lalu duduk di atas pangkuan Elzeran. Saat dia duduk di pangkuan suaminya tersebut, Elzeren langsung memeluk Kaina. Elzeren menelusup dalam ceruk leher istrinya, mencium leher Kaina berulang kali lalu menghirup rakus aroma
Read more