تسجيل الدخول"Maaf, tadi aku tidak bisa ikut mengantar Mommy, Daddy dan Kakak ke bandara. Aku ada rapat penting yang tidak bisa ditinggal," ucap Elzeren, sedang makan malam berdua dengan istrinya. Sejak dia pulang, Kaina mendadak sangat pendiam. Kaina terus mengurung diri dalam kamar. Elzeren rasa … itu kesalahannya karena tidak ikut mengantar orang tua istrinya ke bandara. Namun, sayangnya dia baru meminta maaf karena sejak pulang dari kantor, Elzeren benar-benar sibuk oleh pekerjaan yang ia bawa ke rumah ini. "Tidak perlu meminta maaf karena Mas tidak salah," ucap Kaina pelan, makan kurang lahap karena tak ada udang dan … nafsu makannya menurun. Ini bukan masalah udang yang tak ada. Nafsu makannya memang sedang menurun. Biasanya jika ada udang, setidaknya dia masih bisa menghabiskan sepiring nasi. Namun, tanpa udang, sesendok nasi pun rasanya berat. "Kuperhatikan kau banyak diam." Elzeren berkata rendah, mengamati istrinya yang terlihat ogah-ogahan makan, "apa aku melakukan kesalahan, J
"Dan aku semakin yakin kau … sejak lama diam-diam menyukaiku." Gluk' Kaina meneguk saliva secara kasar, menatap gugup campur was-was pada suaminya. Seketika Kaina mencoba mengingat kembali obrolannya dengan Sera saat tadi malam. Kening Kaina mengerut, tetapi napasnya lebih stabil dari yang sebelumnya. Dia cukup lega, mengingat tak ada obrolan yang mengungkap kalau dia suka pada Elzeren. "Perasaan tadi malam aku dan Sera nggak bahas Mas deh. Kami ngobrol santai saja," ucap Kaina, kembali memasang wajah angkuh yang terkesan tengil sambil menatap santai pada Elzeren. Elzeren tetap menyunggingkan smirk tipis, menatap Kaina lekat dan penuh ketertarikan. "Bagaimana dengan kalimatmu yang mengatakan 'aku tak mau mendengarnya. Nanti aku tambah ge'er?" "I-itu …." Mata Kaina kembali melebar dan wajahnya kembali panik. "A-aku … Ck, mending Mas berangkat kerja deh. Nanti telat lagi," kesalnya pada akhirnya, terlalu grogi dan gugup. "Kau takut aku telat kerja atau takut semakin menyuka
Acara makan malam keluarga Kaina dengan keluarga suaminya telah selesai. Sekarang Kaina sedang di halaman belakang, bersama dengan Sera dan Nakilla. Ketiga wanita itu asyik mengobrol, tak mengenal jam yang sudah menunjukan jam setengah sepuluh. Maklum, setelah mereka punya kehidupan masing-masing, mereka jadi jarang bertemu. "Ahahaha …." Nakilla tiba-tiba tertawa, membuat Kaina dan Sera menatap aneh pada perempuan itu. "Kakak kenapa?" tanya Sera. "Kamu merasa aneh nggak sih, Ser?" tanya Nakilla sambil melirik Kaina dengan senyum jahil. "Aneh apa, Kak?" Sera memicingkan mata. "Kaina dan Elzeren." Nakilla berkata pelan, "dari dulu, mereka tidak pernah dekat tapi tiba-tiba menikah. Sekarang, baru menikah tapi sudah hamil." "Hei, a-aku nggak hamil di luar menikah yah, Kak," horor Kaina, menatap campur aduk pada Nakilla. "Ahahaha … nggak ada yang nuduh kamu loh, Dek. Panik banget sih." Nakilla tertawa cukup kencang. Sedangkan Sera senyum geli pada Kaina. Kaina menatap
Namun, baru saja dia sampai di sebelah neneknya, Elzeren tiba-tiba menggendongnya lalu membawanya dari dapur. "Nenek!!" pekik Kaina, meminta pertolongan dari neneknya supaya meminta Elzeren menurunkannya. Namun, neneknya malah tertawa geli. "Mommy … Kai ingin ikut memasak!" pekik Kaina lagi, kali ini berharap pertolongan dari mommy mertuanya. Namun, dia hanya mendapat tawa geli dari sang mommy mertua. Pada akhirnya Kaina kembali ke ruang TV, duduk kaku sambil menatap was-was pada Elzeren. "Jangan sampai aku mengurungmu di kamar, Janu." Elzeren memperingati. "Uuu … takutnya. Kurung dong, kurung dong!" tantang Kaina, terlampau kesal pada Elzeren yang membawanya kembali ke tempat ini. "Jangan tengil!" Elzeren menatap malas pada wajah tengil istrinya. Menyebalkan tetapi lucu secara bersamaan. Ah, ingin sekali dia menggigit bibir Kaina karena ekspresi tengil ini. "Diam di sini. Sebentar lagi mertuaku datang. Sambut mereka dengan baik," ucap Elzeren lagi, setelah itu pergi dari
"Kau mau kemana lagi, Nyonya Smith?" datar Elzeren, menatap penuh peringatan pada istrinya. "Aku mau ke dapur, bantuin Mommy memasak," ucap Kaina cepat. "Beristirahat di sini." Elzeren berkata cukup dingin, dia meraih remot TV lalu menyalakan televisi—mencari tontonan yang cocok untuk istrinya. "Mas … eh … Kak--" Kaina diam dengan cepat, memejamkan mata sambil merapatkan bibir. Dalam hati dia merutuki dirinya yang kembali memanggil Elzeren dengan sebutan mas. Tak ada yang salah. Hanya saja, dia canggung dan … dia takut Elzeren risih dipanggil begitu. "Aku nggak enak kalau duduk doang di sini, Kak. Sedangkan Mommy sibuk memasak di dapur," ucap Kaina setelah Elzeren menatapnya. "Aku suka dipanggil 'mas olehmu," ucap Elzerah tiba-tiba. "O-oh." Kaina ber-oh-ria sambil melirik canggung pada Elzeren. "Animasi ini bagus untukmu. Kau tidak akan bosan," ucap Elzeren lagi, yang tiba-tiba membahas animasi di televisi. "Tunggu di sini dan jangan kemana-mana. Jika butuh sesuatu, k
"Ka-kau tidak bisa mem-membunuhku. A-ak-aku seorang A-Azam!" ucap Zidan sudah payah, mencoba menyingkirkan kaki Elzeren dari kepalanya, akan tetapi injakan iblis itu terasa lebih kuat. "Cih." Elzeren berdecih pelan, "aku yakin sekali pemimpin keluarga Azam sama sekali tidak mengenalmu. Jadi berhenti membawa-bawa nama keluarga Azam untuk membuatmu terlihat hebat, itu membuatmu terlihat semakin hina," ucapnya pelan, tetapi nadanya terasa dingin dan menusuk—mengerikan. Zidan ingin membalas akan tetapi injakan Elzeren di kepalanya terasa semakin kuat. Dia sangat kesakitan hingga rasanya menjerit pun tak sanggup. "Rizon," panggil Elzeren, di mana Rizon bukan hanya menoleh tetapi langsung menghampirinya. "Ya, Tuan." Rizon membungkuk hormat, setelah itu menatap Elzeran dengan hati-hati. Elzeren melepas injakannya dari kepala Zidan, dia menjauh sedikit dari pria sampah itu. "Bawa si sampah ini sebagai tahanan kita. Jangan lupa kirim peringatan pada orang tuanya." "Baik, Tuan
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak







