MasukApa jangan-jangan Kaina diam-diam cinta pada Zidan? Yah, sepertinya ada kemungkinan mengingat Kaina beberapa kali menolak menikah dengannya. Namun, jika iya, kenapa Kaina juga menolak lamaran Zidan? Bahkan Kaina rela ikut kakaknya dinas hanya demi menghindari lamaran Zidan, padahal sewaktu itu Kaina baru sampai di negara ini. 'Sepertinya aku terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang tak perlu dikhawatirkan. Zidan itu jelek, miskin, dan sampah. Tidak mungkin Kai-ku jatuh cinta padanya.' batin Elzeran, mengelak tetapi resah. Pada akhirnya dia memberanikan diri membuka galeri Kaina. Sejak dulu Elzeran tak pernah penasaran dengan isi HP Kaina. Kaina punya daddy yang mengerikan dan kakak yang posesif, jadi tak mungkin ada hal aneh di HP Kaina. Paling game atau video meme. Namun, Zidan berhasil membuatnya kepikiran dan mendadak ragu. Zidan memang sialan! Saat membuka galeri Kaina, Elzeran cukup panik saat melihat berkas terkunci dengan judul kuburan. Judul berkas itu saja cukup memancin
Dertttt' Handphone Kaina kembali berdering, penelponnya dari nomor tadi. Elzeren berjalan ke sofa dekat balkon, duduk di sana lalu mengangkat telepon dari nomor tanpa nama tersebut. 'Akhirnya kau mengangkat telepon-ku, Darling. Kau pasti merindukanku, Kaina sayang?' ucap seorang pria dari seberang sana dengan nada rendah—bermaksud menggoda seseorang yang ia kira Kaina. "Istriku tidak merindukanmu." Elzeren menjawab dingin, emosi mendengar suara Zidan. Pria busuk ini sok tampan sekali. Cih, padahal aslinya dia tak ada apapun dibandingkan Elzeren. Bukan Elzeren yang kepedean, tetapi Zidan memang tak ada apa-apanya dibandingkan Elzeren. Bahkan dengan kuku kaki Elzeren saja, pria ini tak akan bisa menyainginya. 'Elzeren sialan! Cepat berikan handphone itu pada Kaina. Bajingan!' maki Zidan diseberang sana. "Tapi aku merindukanmu," ucap Elzeren datar, "rindu memberikan kematian pada sampah sepertimu!" tambahnya penuh emosi dan kesal hingga ke ulu hati. 'Cih.' Zidan berde
"Kau--" Elzeren menatap ke arah perut Kaina, "hamil?" ulangnya. "Iya, Kak," jawab Kaina pelan dan cukup kikuk, terlebih saat Elzeren menyentuh perutnya—pria itu meletakkan tangan di atas perut Kaina. "Tapi perutmu … kecil," gumam Elzeren, berkata asalan karena terlalu gugup dan masih tak percaya. "Yo!" Kaina menatap horor dan tak percaya pada suaminya, "kan baru hamil, Kak. Ya kali perutku langsung besar! Enggak dong! Tunggu dulu sekitar 3 atau empat bulan, baru perutnya mulai buncit." "Oh." Elzeren ber-oh-ria. Setelah itu, Elzeran senyum tipis pada Kaina. "Kemari," ucapnya, menepuk pahanya—memberi isyarat supaya Kaina pindah lalu duduk di atas pangkuannya. "Aku di sini saja," gugup Kaina. "Ke sini!" titah Elzeren. Pada akhirnya Kaina bangkit dari kursi lalu duduk di atas pangkuan Elzeran. Saat dia duduk di pangkuan suaminya tersebut, Elzeren langsung memeluk Kaina. Elzeren menelusup dalam ceruk leher istrinya, mencium leher Kaina berulang kali lalu menghirup rakus aroma
"Di mana Nyonya?" tanya Elzeren pada salah satu maid. Dia sudah bangun dan menyegarkan diri, setelah sebelumnya dia ketiduran karena kelelahan. Entah halusinasi Elzeren atau emang kenyataan, akan tetapi Elzeren ingat Kaina datang lalu tidur sambil memeluknya. Bahkan ketika dia bangun, dia mendapati dirinya yang sudah berganti pakaian. Namun, dia tidak menemukan Kaina di kamar. "Nyonya sedang di halaman belakang, Tuan. Nyonya sedang memberi makan ikan-ikannya," ucap maid tersebut sopan dan ramah. "Humm." Elzeren berdehem lalu segera menyusul istrinya ke halaman belakang. Tiba di sana, dia melihat Kaina sedang duduk di atas sebuah batu bundar dengan permukaan datar—dekat kolam ikan koi. "Janu," panggil Elzeren pelan, di mana dia sudah duduk di sebuah kursi—teras. Kaina refleks menoleh ke arah Elzeren, wajah Kaina tampak bengong. "Oh." Kaina ber-oh-ria segera bangkit lalu menghampiri Elzeren. "Kakak sudah bangun yah?" tanya Kaina, sekadar basa-basi. Karena indisen tadi, Ka
Sedangkan Hendra, dia tidak mau menikahiku. Argkkk … Kaina sialan!" pekik perempuan itu lagi, tak lain adalah Freza. Kaina menunjukkan raut muka julit campur konyol. Sepertinya Freza sudah sinting karena hamil sebelum waktunya. "Tunggu saja! Aku pasti akan membalasmu, Kaina. A-aku akan membuat Elzeren menceraikanmu dengan cara yang memalukan! Dan … kupastikan keluargamu juga tidak akan menerimamu." Freza berkata menggebu-gebu, penuh amarah dan rasa kesal setengah mati. Baginya apa yang terjadi padanya sekarang, itu karena Kaina. Dulu, setiap kali Elzeren ke luar kota, Elzeren selalu membawanya. Namun, sekarang Elzeren tak mau membawanya lagi ke luar kota dan luar negeri. Bahkan posisinya sebagai sekretaris sudah dicopot, dia hanya staff biasa! Freza tak terima karena posisinya diturunkan, dia semakin kesal dan marah karena Elzeren sudah tidak membawanya ke luar kota lagi. Di kantor, bahkan Elzeren bersikap sangat dingin padanya. Dia tak bisa lagi bebas menemui Elzeren—harus me
--Satu bulan kemudian-- Kaina berjalan di lorong rumah sakit dengan langkah pelan sambil kembali membaca laporan medis dari dokter. Wajah Kaina tampang bingung dan tegang, cengkeramannya pada keras laporan medis cukup kencang. Saat ini Kaina ke rumah sakit ditemani oleh maid dan bodyguard. Elzeren tidak ada karena pria itu sedang di luar negeri. Sudah satu minggu Elzeren di sana, mungkin besok suaminya tersebut akan pulang. "Kok cepat banget?" gumam Kaina, menggaruk pelipis karena masih bingung harus bereaksi seperti apa. Sejujurnya dia senang, akan tetapi ada perasaan gugup yang memenuhi dirinya juga perasaan canggung—entah pada siapa. Sebulan ini hidup Kaina masih sama. Kaina masih canggung dan kaku setiap kali berhadapan dengan Elzeren. Sedangkan Elzeren, sepertinya pria itu tak memiliki rasa canggung ataupun gugup. Namun, pria itu sangat sibuk dengan pekerjaan. Sebelum ke luar negeri, Elzeren pergi ke luar kota, dia di sana semalam 3 hari. Setelah pria itu keluar kota, pr
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







