“Kamu nggak bohong, kan?” Dewa masih tidak percaya.“Mana mungkin aku bohong,” jawab Niskala dengan nada santai. Wanita itu berjalan mendekati Dewa, lalu mengulurkan tangannya membelai dada Dewa, dan berbisik rendah, “Sekarang, giliranku untuk mendapatkan bayaranku.”Dewa sedikit membelalakkan mata, tapi sensasi sentuhan tangan Niskala itu seperti menyamarkan rasa takut dan terkejutnya.“B–Bayaran ap—”Belum sempat Dewa menyelesaikan pertanyaannya, Niskala telah lebih dulu melumat habis bibirnya dengan kasar.Dewa langsung membulatkan matanya dengan sempurna. Tubuhnya mendadak kaku, seolah tidak tahu apa yang harus dilakukannya.“Nikmati aja,” bisik Niskala di sela ciuman itu, seolah langsung menghipnotis Dewa.Tanpa sadar, Dewa langsung mengulurkan tangannya ke arah pinggang ramping Niskala. Lalu, semakin turun hingga ke pantat bulat dan kenyal itu.Dewa merasa tubuhnya mendadak hangat, tapi di saat bersamaan dia juga merasa seperti dibawa terbang jauh.‘Ciuman ini benar-benar gila!’
Baca selengkapnya