Dewa berdiri tegak di samping sofa. Ia merapikan napasnya. Di bawahnya, Niskala masih terkapar lemas dengan mata merem melek. Aura merah yang biasanya menekan udara kini padam total. Succubus itu kehilangan taringnya, tidak bisa berbuat apa-apa selain mengatur napas yang memburu.'Strategi yang bagus,' batin Dewa puas. 'Dia kenyang kenikmatan, nyawaku aman, dan dia pun lumpuh tidak bisa banyak tingkah.'Dewa berbalik, melangkah santai menuju ruang istirahat pribadi. Ia mengambil setelan jas hitam baru dari lemari. Ia memakainya dengan tenang, mengancingkan manset kemejanya tanpa terburu-buru. Setelah rapi, Dewa keluar ruangan, melewati Niskala yang masih berantakan di sofa, lalu keluar menuju koridor.Pak Gun sudah menunggu di luar, tegap seperti patung."Kita ke FOG Club sekarang, Pak Gun," perintah Dewa datar."Baik, Tuan Muda," sahut Pak Gun patuh.Mobil melaju membelah kota. Dewa duduk di kursi belakang, menikmati suasana kabin yang tenang. Dewa menyalakan rokok, membiarkan asap
اقرأ المزيد