Layla melirik jam dinding di kamar Dewa. Jarum jam sudah lewat dari pukul sebelas malam. Dia berdiri dari kursi beludru, merapikan jaket denim longgarnya yang agak kusut."Sudah malam, Tuan Dewa Baskara. Kondisi Anda juga sepertinya sudah mulai membaik. Saya harus pamit pulang sekarang," ujar Layla, suaranya tetap lempeng tanpa ekspresi.Melihat Layla hendak melangkah pergi, ego Dewa kembali tersentak. Dia tidak rela dilepaskan begitu saja tanpa meninggalkan kesan mendalam sebagai pria berkuasa. Dengan gerakan cepat, Dewa meraba saku jasnya yang digantung di dekat ranjang, menarik dompet kulitnya, dan mengeluarkan seonggok uang tunai pecahan seratus ribuan yang tebal.Plok!Dewa melempar seikat uang itu ke atas kasur, tepat di hadapan Layla."Ambil ini," perintah Dewa, suaranya kembali berat penuh keangkuhan orang kaya baru. "Ini bukan uang tip restoran. Ini bayaran karena kamu sudah mengantarku dengan selamat sampai ke kamar ini. Jangan menolak lagi, Layla. Aku tidak suka berutang bu
Read more