Aluna menatap nyalang ke arah pria yang kini berdiri di samping mejanya. Rasa sesak yang semalam mencabik-cabik dadanya seketika naik kembali ke tenggorokan, memicu gelombang amarah yang tak tertahankan.“Untuk apa lagi datang ke sini?!” kata Aluna dengan ketus dengan suaranya bergetar hebat menahan tangis.“Aku mau jelasin semuanya sama kamu, Al. Please…. kasih aku kesempatan untuk jelasinnya,” pinta Dirga yang matanya memancarkan rasa bersalah yang begitu dalam.“Nggak ada yang perlu dijelaskan lagi, Kak! Semuanya sudah jelas! Kamu bohongi aku, kamu dekati aku karena uang dari Mas Ragil, kan? Pergi dari sini, aku tidak mau melihat muka kamu lagi!” usir Aluna setengah berbisik, menolak memberikan celah. Ia tidak ingin membuat keributan di kafe, namun emosinya sudah berada di ubun-ubun.Namun Dirga terus memaksa. Ia tidak memedulikan tatapan mengusir dari Aluna. Dengan gerakan cepat, pria itu langsung menarik kursi di hadapan Aluna dan duduk tepat di depannya.“Keluar, Kak! Pergi! Aku
Ler mais