Compartilhar

Bab 109

Autor: Mumu Mooi
last update Data de publicação: 2026-07-21 22:39:58

Tubuh Aluna mendadak kaku sejenak saat mendengar ucapan Ragil yang membawa-bawa nama ayahnya. Detak jantungnya berdegup kencang. Dirinya sempat didera kepanikan membayangkan kekecewaan Pak Beni. Namun, dengan cepat ia berhasil menguasai kembali kontrol emosinya. Aluna menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggung, dan memasang sorot mata dinginnya agar Ragil tidak bisa lagi memanfaatkan celah kerapuhannya untuk memanipulasi keadaan.

“Kamu tenang saja, Mas. Yang harusnya kamu khawatirkan saat i
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 109

    Tubuh Aluna mendadak kaku sejenak saat mendengar ucapan Ragil yang membawa-bawa nama ayahnya. Detak jantungnya berdegup kencang. Dirinya sempat didera kepanikan membayangkan kekecewaan Pak Beni. Namun, dengan cepat ia berhasil menguasai kembali kontrol emosinya. Aluna menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggung, dan memasang sorot mata dinginnya agar Ragil tidak bisa lagi memanfaatkan celah kerapuhannya untuk memanipulasi keadaan.“Kamu tenang saja, Mas. Yang harusnya kamu khawatirkan saat ini itu adalah keselamatan diri kamu sendiri,” ucap Aluna, suaranya merendah namun jelas akan ancaman yang begitu dingin dan mematikan.“Bagaimana jadinya jika Ayah tahu, kalau ternyata semua ini adalah ulah busukmu? Kamu pikir Ayah akan tinggal diam melihat putrinya diperlakukan seperti ini?”Tanpa membuang waktu lagi untuk mendengarkan pembelaan diri atau makian dari suaminya, Aluna segera membalikkan tubuh, meninggalkan kamar hotel yang mendadak terasa begitu pengap dan penuh sesak baginya. La

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 108

    Jantung Aluna bertalu cepat saat mendapati pemandangan di depannya. Ruangan itu memang kosong, namun lantainya tampak berserakan. Ada sepatu, ada dress wanita, dan kemeja yang sangat Aluna kenali.“In–ini kemejanya Mas Ragil,” bisik terbata. Aluna sangat yakin jika itu adalah milik suaminya, sebab ia sendiri yang membeli kemeja itu untuk Ragil.Matanya mulai berair, napasnya juga mulai terengah. “Al…” panggil Dirga pelan di belakangnya. Ia sendiri juga tidak kuat melihat kondisi Aluna saat ini.“Kita pulang, ya,” bujuk pria itu.Aluna menggeleng lemah. “Aku harus membuktikannya sendiri, Kak.”Dirga hanya bisa menghela napas kasar tanpa bisa membantah.Tak lama keduanya mendengar suara-suara yang begitu terdengar menjijikkan dari sebuah pintu yang tidak tertutup rapat.Mata Aluna langsung menatap ke arah pintu itu. Ia mulai melangkah pelan dengan jantung yang semakin berdetak cepat.Semakin dekat, Aluna semakin bisa mendengar dengan jelas suara-suara yang memuakkan baginya.“Pelan-p

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 107

    “Cari reservasi kamar atas nama Anggun Risma sekarang!” Suara Aluna lantang, dan tidak ingin dibantah.“Ba–baik, Bu.” Walau gelagapan, namun pegawai resepsionis itu dengan cepat mengetik nama yang disebutkan oleh seseorang yang mengenal pemilik hotel tempatnya bekerja. Ia sungguh tidak mau jika satu-satunya mata pencahariannya ini harus hilang. Apalagi setelah ia resapi jika ini merupakan drama rumah tangga yang pastinya bakalan seru menurutnya.Dirga menatap wanita hamil di sebelahnya dengan cemas. Dirinya benar-benar mengkhawatirkan Aluna beserta janin dalam kandungannya saat mendapati sesuatu nanti.“Ada, Bu. Ada pemesanan kamar atas nama Anggun Risma. Lantai delapan, kamar delapan kosong lima.”Penuturan sang resepsionis membuat Aluna merasakan pasokan udara disekitarnya mendadak tipis. Ia merasa limbung, namun Dirga dengan cepat menahan tubuh wanita itu.“Al, kita pulang aja ya. Belum tentu seperti apa yang kamu pikirkan. Bisa jadi Anggun memang reservasi untuk Ragil. Mungkin ada

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 106

    “Ayo pulang, Lun. Kamu diantar aja sama Kak Dirga biar aku tenang kamu sampai rumahnya,” ajak Ririn lembut sembari mencoba mengurai kecanggungan yang masih terasa setelah ungkapan perasaan Dirga.Aluna akhirnya mengangguk lemah, mengiyakan perintah sahabatnya. Wanita itu juga merasa tidak memiliki tenaga untuk melawan kedua orang ini. “Kena angin jalanan sepertinya sedikit lebih baik saat ini,” gumamnya dan dapat didengar oleh Ririn dan juga Dirga.“Nah iya betul. Cuaca juga nggak terik, pas banget. Angin sepoi-sepoi menemani kegalauan kamu,” canda Ririn yang langsung mendapatkan cubitan dari Aluna.“Hahaha ampun,” tawa Ririn. “Udah ayo.”Ririn dengan langkah semangatnya ikut berjalan mengantar Aluna dan Dirga sampai ke area parkiran motor kafe. Dirga memberikan helm cadangan yang selalu ia bawa di dalam jok motor. Sebelum Aluna naik ke atas boncengan motor matik milik Dirga, Ririn sempat membisikkan kata-kata penyemangat di telinga sahabatnya.“Ingat janji kita tadi ya, Lun. Kamu ha

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 105

    “Aku jatuh cinta sama kamu, Al… sejak kita SMA.”Aluna tiba-tiba membeku saat mendengar ucapan Dirga yang terdengar begitu aneh di telinganya.“Maksud Kak Dirga apa?” tanyanya lagi untuk memastikan apa yang didengarnya.Dirga menarik napas panjang sebelum memulai ceritanya kembali.“Aku sudah menyukai kamu sejak pertama kamu masuk ke sekolah, Al. Aku ingat bagaimana dulu pertama kamu datang dengan rambut yang kamu kepang dua memakai pita merah di ujungnya.”Dirga menatap lekat ke arah mata Aluna yang semakin sembab karena tangisnya sedari tadi.“Aku menahan rasa itu semua, Al. Aku nggak berani untuk mengutarakan perasaan aku sama kamu. Aku sadar kalau jarak kita begitu jauh. Kamu anak pemilik yayasan, sedang aku adalah salah satu anak beruntung yang mendapatkan beasiswa dari yayasan kamu. Aku tidak akan berani bermimpi sejauh itu, Al. Makanya aku hanya bisa memperhatikanmu dari jauh, dan melindungimu dari jauh,” lanjutnya.“Sewaktu kuliah, aku nggak nyangka kalau kamu akan berkampus y

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 104

    Aluna menatap nyalang ke arah pria yang kini berdiri di samping mejanya. Rasa sesak yang semalam mencabik-cabik dadanya seketika naik kembali ke tenggorokan, memicu gelombang amarah yang tak tertahankan.“Untuk apa lagi datang ke sini?!” kata Aluna dengan ketus dengan suaranya bergetar hebat menahan tangis.“Aku mau jelasin semuanya sama kamu, Al. Please…. kasih aku kesempatan untuk jelasinnya,” pinta Dirga yang matanya memancarkan rasa bersalah yang begitu dalam.“Nggak ada yang perlu dijelaskan lagi, Kak! Semuanya sudah jelas! Kamu bohongi aku, kamu dekati aku karena uang dari Mas Ragil, kan? Pergi dari sini, aku tidak mau melihat muka kamu lagi!” usir Aluna setengah berbisik, menolak memberikan celah. Ia tidak ingin membuat keributan di kafe, namun emosinya sudah berada di ubun-ubun.Namun Dirga terus memaksa. Ia tidak memedulikan tatapan mengusir dari Aluna. Dengan gerakan cepat, pria itu langsung menarik kursi di hadapan Aluna dan duduk tepat di depannya.“Keluar, Kak! Pergi! Aku

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 3

    Ragil terus saja memaksa Aluna untuk ikut dengannya malam itu untuk menjumpai Dirga di sebuah restoran. Ragil bahkan harus menjemput istrinya ke rumah sebab Aluna yang terus saja menolak. Dan disinilah mereka, di sebuah ruangan private dengan berbagai macam hidangan telah tersedia di atas meja. Ke

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 72

    Langkah kaki Aluna yang dibalut sepatu ber-hak rendah terdengar berketuk teratur di atas lantai marmer lobi yang mengkilap. Sesaat sebelum dirinya tiba di depan lift eksekutif yang akan membawanya ke lantai teratas, Aluna memilih untuk membelokkan arah langkahnya menuju meja resepsionis yang meling

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 2

    Malam itu Aluna sedang duduk di depan meja rias yang ada di kamarnya, melakukan perawatan tubuh dan wajah yang sudah menjadi rutinitasnya sebelum tidur. Ini ia lakukan demi menjaga tubuh dan wajahnya tetap menarik di mata suaminya. Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam, namun Ragil belum j

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 1

    “Tugas kamu sederhana aja, Ga. Aku cuma minta kamu buat istri aku hamil. Udah, gitu doang. Setelah itu lima ratus juta aku kasih ke kamu. Eh no… Hari ini aku kasih dua ratus jutanya, sisanya lagi aku kasih kalau Aluna udah hamil,” papar Ragil dengan santai.“Gila kamu ya, Gil!” amuk Dirga pelan pad

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status