LOGIN“Laki-laki, Tuan. Katanya namanya Dirga”Aluna menegang seketika saat mendengar nama yang disebut oleh Tini.“Ngapain dia kesini?” bisik Aluna dengan gelisah.Dengan gerakan takut wanita itu melirik ke arah sang ayah, memperhatikan perubahan wajah pria tua itu yang kini tengah menegang.“Suruh dia tunggu di bawah!”“Yah…” cicit Aluna.“Kamu tunggu di kamar!” Nada suara Pak Beni terdengar tidak ingin dibantah, hingga membuat Aluna tidak berani untuk membantah.Pria tua itu melangkah keluar dari kamar Aluna, lalu turun ke lantai bawah dengan langkah tegas. Setiap pijakannya di anak tangga terdengar menggema, memecah keheningan rumah.Dirga langsung berdiri begitu melihat Pak Beni berjalan mendekat.“Siang, Pak,” sapanya, berusaha tetap tenang. Tidak ada raut gugup yang ia tunjukkan, meskipun detak jantungnya kini berpacu cepat karena tidak menyangka Pak Beni berada di rumah.“Siang. Silakan duduk,” balas Pak Beni datar.Dirga kembali duduk setelah pria tua itu mengambil posisi di hadapa
Aluna kini sudah pulang ke rumah setelah dirinya memaksa untuk pulang setelah satu malam harus menginap di rumah sakit. Ragil masih tidak diperbolehkan untuk melihat dirinya maupun mendekatinya.“Jangan pernah biarkan pria itu masuk ke dalam rumah ini!” kata Aluna pada seluruh pekerja yang ada di rumah ayahnya itu.Seluruh pekerja, mulai dari asisten rumah tangga hingga para satpam hanya bisa mengangguk patuh. Namun setelah Aluna pergi, bisik-bisik mereka mulai terdengar.“Ada apa ya, kira-kira?”“Sepertinya mereka lagi berantem hebat.”“Tapi terakhir Non Aluna pulang itu mukanya udah kusut banget. Kayak habis nangis.”“Apa Tuan Ragil selingkuh, ya? Karena kepikiran terus syok, makanya Non Aluna jadi keguguran.”“Bodoh banget Tuan Ragil, spek bidadari seperti Non Aluna dibuang gitu aja. Nyari apaan lagi di luar.”Desas-desus itu hanya terus berkembang di rumah tanpa Aluna ingin ikut di dalamnya. Wanita itu hanya larut dalam rasa kehilangannya. Bahkan ponselnya pun turut ia matikan, me
“Ini gimana, pakai nelpon segala,” gumam Ragil panik. Ia menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, menyugar rambutnya kasar. Ia tiba-tiba bingung harus bagaimana menjelaskan kondisi Aluna pada sang mertua.“Ah udahlah, nanti aja,” putusnya lalu melanjutkan langkahnya ke bagian administrasi untuk mengurus kamar perawatan Aluna.Tiba di bagian pengurusan kamar, ponsel miliknya kembali berdering dan kembali nama sang mertua muncul pada layar.“Ini ngapain masih nelpon lagi sih,” gerutu pria itu.Ponsel yang terus berdering itu membuat dirinya semakin panik hingga susah fokus.“Tanda tangan saja kalau tidak, Pak. Biar untuk data-data Ibu nanti saya yang isi,” ucap petugas yang menyadari kepanikan Ragil. Petugas itu tentu saja mengira jika kondisi Ragil saat ini diakibatkan karena sang istri yang tengah berada di IGD.Tanpa menjawab, Ragil mengikuti instruksi sang petugas.“Terima kasih,” ucapnya. Pria itu kemudian langsung beranjak dari meja petugas, berjalan kembali ke arah IGD.Namun
Suara derap langkah kaki menggema di lorong rumah sakit. Langkah itu berhenti tepat di depan Mbak Sri yang sedang menundukkan kepala.“Mbak, di mana Aluna?”Suara pria yang penuh kepanikan itu terdengar jelas di telinga Mbak Sri. Wanita paruh baya itu mengangkat wajahnya yang sembab, menatap Ragil dengan raut gelisah.“Tuan… Non Aluna masih di dalam. Masih ditangani sama dokter,” jelasnya dengan suara bergetar.Ragil menatap ke arah pintu ruang IGD yang tertutup rapat. Ia menyugar kasar rambutnya ke belakang. Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya, berbaur dengan perasaan bersalah yang begitu besar.“Semoga kamu enggak apa-apa, Lun,” bisiknya dalam hati.Detik berganti menit, suasana lorong terasa makin mencekam bagi Ragil. Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu, mengabaikan tatapan iba dari Mbak Sri. Setiap tarikan napasnya terasa berat, dipenuhi bayang-bayang ketakutan akan hal terburuk.Klek.Suara engsel pintu terbuka memecah keheningan. Seorang dokter wanita paruh baya melangka
Matahari sudah condong ke barat saat Dirga tiba di kediaman Aluna. Ia sengaja menunda perjalanan pulang demi membiarkan gemuruh di dada wanita itu mereda. Aluna turun perlahan dari boncengan. Wajah sembabnya tak mampu menyembunyikan kesedihan, sementara sisa tangis masih sesekali terdengar dari napasnya yang berat.“Terima kasih, Kak,” katanya pelan saat baru saja turun dan langsung berdiri di depan Dirga.“Sama-sama, Al. Kamu udah oke?” tanya pria itu yang masih mengkhawatirkan wanita yang dicintainya itu.Wanita itu menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kasar.“Bohong kalau aku bilang baik-baik aja, Kak,” katanya pelan.“Aku masuk dulu, Kak. Terima kasih karena sudah mau mengantarku pulang,” tambahnya dengan senyum yang dipaksakan.Tanpa menunggu jawaban dari Dirga, wanita itu langsung membalikkan tubuhnya. Ia mulai melangkah naik ke atas teras, lalu masuk ke dalam rumah setelah mendorong pelan pintu besar bercat putih itu.Dirga masih belum beranjak dari tempatnya, memandang
Dirga melangkah keluar dari lobi gedung hotel itu dengan napas yang masih memburu. Sepasang matanya mengedarkan pandangan ke sekeliling area pelataran parkir dan lobi utama, mencari-cari siluet gaun hamil berwarna biru muda milik Aluna. Namun nihil. Wanita itu sama sekali tidak terlihat dimanapun.“Sial, dia kemana?” umpat Dirga lirih pada dirinya sendiri.Rasa panik seketika menyerang dadanya, mengalahkan sisa amarahnya pada Ragil beberapa menit lalu.Tanpa membuang waktu lebih lama, Dirga segera berlari menuju area parkiran motor. Setelah menyalakan mesin motor matic nya, ia melaju pelan keluar dari gerbang gedung mewah tersebut. Ia sengaja menelusuri trotoar jalan utama dengan kecepatan sangat rendah, membawa fokus matanya ke sela-sela pejalan kaki yang lalu-lalang, berharap bisa segera menemukan keberadaan Aluna.Dan ternyata benar. Firasat dan ketelitiannya membuahkan hasil. Sekitar dua ratus meter dari area hotel, Dirga menangkap sosok ibu hamil itu sedang berjalan sendirian di
Di dalam tidurnya Aluna merasa ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya, seseorang dengan aroma parfum yang tidak asing namun tidak tahu siapa pemiliknya. Tak lama ia merasa goyangan di atas ranjang, seperti dinaiki oleh seseorang. Aluna yang tidur terlentang merasakan sebuah tangan yang besar me
Malam ini merupakan malam perayaan perusahaan keluarga Aluna. Dirinya terlihat sangat cantik dan elegan dengan gaunnya yang berwarna hitam.Sambil berpegangan dengan lengan Ragil, mereka memasuki ballroom hotel yang menjadi tempat diselenggarakannya ulang tahun perusahaan. Sebelum duduk di kursi ya
Aluna terpaksa pulang sendiri ke rumahnya karena ternyata Ragil benar-benar meninggalkannya. Dirga sempat menawarkan untuk mengantarnya pulang dengan menggunakan motor matic kesayangannya. “Nggak perlu, Kak. Aku pulang naik taksi saja. Aku juga sudah memesannya tadi,” tolak Aluna. Tak lama taksi
Ragil terus saja memaksa Aluna untuk ikut dengannya malam itu untuk menjumpai Dirga di sebuah restoran. Ragil bahkan harus menjemput istrinya ke rumah sebab Aluna yang terus saja menolak. Dan disinilah mereka, di sebuah ruangan private dengan berbagai macam hidangan telah tersedia di atas meja. Ke







