แชร์

Bab 56. Gemuruh Perang Total

ผู้เขียน: AraVika
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-13 20:42:25

Aura ketegangan telah pecah menjadi badai kehancuran. Awal dari perang total di mana semua kekuatan dikerahkan dan rahasia asal-usul kutukan itu mulai terkuak di tengah dentuman senjata.

Langit di atas Gunung Salak seolah terbelah. Seraphina tidak datang dengan sembunyi-sembunyi, ia datang dengan membawa neraka. Empat helikopter angkut berat Black-Hawk berputar di atas vila, melepaskan kabel-kabel baja tempat para Enhanced Hybrids meluncur turun seperti malaikat maut yang haus darah.

"Aktif
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Awas Cakar! Bodyguard-ku Menjelma Kucing Manja   Bab 122. Malam Pertemuan di Kota dan Restu Abadi

    Sebuah sedan hitam elegan meluncur halus membelah rintik hujan gerimis yang menyiram kawasan elit Menteng, Jakarta Pusat. Di dalam kabin mobil yang hening dan hangat, Juno duduk tegap di sebelah Arina di kursi belakang. Kemeja batik tulis sutra bernuansa tembaga membalut tubuh tegap Juno, sementara Arina tampak amat anggun dalam balutan kebaya modern warna gading yang dipadukan dengan selendang batik senada. Di kursi kemudi, Aries mengendalikan kemudi dengan ketenangan sempurna. Di sampingnya, Sarah terus memperhatikan koordinat jalan seraya sesekali membetulkan letak bros mutiara di blazernya. Di barisan kursi tengah, Lyra, Danu, Sol, dan Maya duduk rapi dengan pakaian formal terbaik mereka—membawa bungkusan bingkisan kue tradisional dan cenderamata kayu jati ukir buatan tangan dari Bogor. "Tenanglah, Sarah," bisik Aries lembut saat mobil berhenti di depan gerbang berornamen besi tempa sebuah rumah bergaya kolonial yang megah. Aries mengulurkan tangan kirinya, menggenggam jem

  • Awas Cakar! Bodyguard-ku Menjelma Kucing Manja   Bab 121. Undangan di Meja Makan dan Bayang-Bayang Fajar

    Aroma daun pandan, parutan kelapa gurih, dan ikan gurame bakar bumbu kecap memenuhi seluruh penjuru dapur rumah lereng Pegunungan Salak pada pertengahan bulan Desember. Pagi itu, sinar matahari menembus jendela-jendela kaca besar tanpa halangan kabut, membiaskan garis-garis cahaya keemasan di atas meja kayu jati panjang yang telah tertata rapi dengan piring-piring keramik putih. Di ujung meja, Juno dan Arina duduk berdampingan. Juno mengenakan kemeja batik katun bernuansa cokelat tanah dengan lengan tergulung rapi, sementara Arina tampil anggun dalam balutan selendang sutra tipis yang menyelimuti bahunya. Tatapan mata emas Juno—yang dulunya selalu dipenuhi kecurigaan dan naluri bertarung Alpha yang tak pernah padam—kini memancarkan ketenangan seorang kepala keluarga yang melihat impian terbesarnya terwujud. Aries melangkah masuk dari arah halaman belakang, membawakan mangkuk porselen berisi sup iga hangat yang asapnya masih mengepul halus. Di belakangnya, Sarah menyusul seraya m

  • Awas Cakar! Bodyguard-ku Menjelma Kucing Manja   Bab 120. Garis Batas dan Lembar Akademis Terakhir

    Desember datang membawa angin muson barat yang lebih kencang di kawasan pesisir Jakarta. Setelah hampir dua bulan menghabiskan sebagian besar waktu akhir pekan di lereng Pegunungan Salak, ritme kehidupan anak-anak Lunar Guardian kembali terpusat penuh di lingkungan akademis Universitas Indonesia Mandiri. Minggu terakhir semester ganjil ini ditandai oleh kesibukan yang intensif seperti ujian akhir, sidang evaluasi proyek pengabdian masyarakat, dan pengajuan draf awal proposal tugas akhir. Gedung Fakultas Teknik Mesin dan Rekayasa berdiri megah di bawah guyuran hujan gerimis siang itu. Di dalam auditorium lantai tiga, suasana hening menyelimuti puluhan mahasiswa dan jajaran dosen penguji. Di depan panggung utama, Aries berdiri tegap berbalut kemeja putih bersih dan celana kain hitam, menggenggam penunjuk laser seraya memaparkan analisis akhir dari penerapan struktur penahan erosi berbasis bio-konstruksi yang telah diuji coba di Brebes dan Bogor. Di meja tim penilai, tiga profeso

  • Awas Cakar! Bodyguard-ku Menjelma Kucing Manja   Bab 119. Harmoni Musim Dingin di Lereng Pegunungan

    Bulan November menyapa kawasan lereng Pegunungan Salak dengan curah hujan yang kian intensif dan embun tebal yang nyaris tak pernah absen membalut rimbunnya hutan pinus. Pagi itu, kabut putih tebal turun mengepung pelataran rumah baru keluarga Lunar Guardian. Suhu udara merosot hingga belasan derajat Celsius, menciptakan hawa dingin yang membelai lembut kaca-kaca jendela besar di lantai dasar. Namun, di dalam rumah, suasana justru memancarkan kehangatan yang kontras. Perapian batu alam di ruang keluarga menyala tenang, memancarkan pendaran cahaya jingga keemasan yang menari-nari di atas lantai kayu jati. Aroma kayu manis, seduhan kopi rempah, dan roti gandum panggang menyebar halus ke seluruh ruangan, menciptakan ritme kediaman sipil yang teramat tentram. Di teras samping yang terlindung dari cipratan gerimis, Aries berdiri tegap mengenakan sweater rajut tebal berwarna abu-abu gelap dan celana kain panjang. Jemarinya yang kokoh sedang memoles permukaan meja kayu panjang tambahan

  • Awas Cakar! Bodyguard-ku Menjelma Kucing Manja   Bab 118. Lembayung Pertama di Rumah Baru

    Aroma kayu jati yang baru dipoles berpadu dengan wangi tanah basah menyambut kedatangan pagi di sebuah bukit kecil di kawasan lereng Pegunungan Salak, Bogor. Di atas tanah seluas satu hektar yang dikelilingi rimbun pohon pinus dan aliran sungai kecil berair jernih, berdiri sebuah bangunan dua lantai berarsitektur hangat. Dinding-dindingnya menggunakan kombinasi batu alam dan kaca tebal yang membiaskan pendaran cahaya matahari pagi, sementara atap kayu miringnya dirancang menyatu sempurna dengan lanskap hijau sekitarnya. Rumah itu adalah tempat tinggal baru yang dirancang bersama oleh Aries, Lyra, dan Sol—sebuah pelabuhan sejati yang tidak lagi dilengkapi dengan dinding pertahanan taktis berlapis baja atau kamera pemantau tersembunyi, melainkan jendela-jendela besar yang mengundang masuk hembusan angin segar dan kehangatan sinar mentari. Di teras lantai dua yang menghadap langsung ke arah lembah, Aries berdiri bersandar di pagar kayu. Pagi itu ia mengenakan kemeja kain tipis berw

  • Awas Cakar! Bodyguard-ku Menjelma Kucing Manja   Bab 117. Cahaya Pertama di Taman Kebun Terapi

    Dua minggu berlalu di Kota Hujan dengan ritme kerja yang teratur dan penuh dedikasi. Langit pagi di atas Pusat Pemulihan Tirta Harapan membias warna biru jernih tanpa hamparan awan kelabu. Sisa-sisa embun pagi masih menggantung seperti butiran kristal di atas helai-helai daun lavender lokal, mint pesisir, dan kelopak bunga chamomile yang kini mekar sempurna di lahan seluas lima ratus meter persegi itu. Taman kebun terapi hortikultura yang dirancang oleh Sarah dan Lyra kini bukan lagi sekadar goresan garis di atas kertas kalkir, melainkan sebuah oase hijau yang hidup. Jalur pejalan kaki melingkar dari batu kali yang halus membelah hamparan rumput gajah mini, mengarahkan langkah menuju kolam air kecil bergemericik di tengah lahan. Di sekelilingnya, tiang-tiang stasiun pemantau cuaca buatan Sol dan Danu berdiri kokoh, memancarkan pendaran lampu LED hijau tipis yang menandakan seluruh sistem berada dalam kondisi optimal. Sejak pukul delapan pagi, tawa riang anak-anak panti asuhan pe

  • Awas Cakar! Bodyguard-ku Menjelma Kucing Manja   Bab 2. Rahasia di Balik Bulu Abu-Abu

    Apartemen Arina adalah sebuah istana kaca di lantai empat puluh lima. Semuanya tampak minimalis, dingin, dan terlalu rapi untuk tempat yang disebut rumah. Namun, bagi Juno yang kini berada dalam wujud seekor kucing persia abu-abu, tempat ini terasa seperti labirin raksasa yang penuh dengan bahay

  • Awas Cakar! Bodyguard-ku Menjelma Kucing Manja   Bab 1. Jam Enam Sore

    Lampu sorot studio foto itu terasa membakar kulit Arina Kirana. Sudah lima jam ia berpose di depan kamera dengan berbagai gaun couture yang beratnya mencapai lima kilogram. Senyumnya masih terpasang sempurna,senyum sejuta dollar yang membuatnya menjadi komoditas paling berharga di industri hiburan

  • Awas Cakar! Bodyguard-ku Menjelma Kucing Manja   Bab 6. Benang Merah yang Tersimpul

    Keheningan di apartemen itu terasa lebih menyesakkan daripada suara sirine yang meraung tadi. Arina masih menatap Juno dengan mata yang menuntut penjelasan. Di sudut ruangan, Siska dan beberapa petugas keamanan gedung tampak sibuk mencatat kerusakan pada pintu, namun bagi Arina, dunia hanya terd

  • Awas Cakar! Bodyguard-ku Menjelma Kucing Manja   Bab 5. Permainan Kucing dan Ponsel

    Dering ponsel itu terdengar seperti suara bom waktu bagi Juno. Di bawah sofa yang hanya berjarak dua meter dari kaki Arina, benda digital itu terus bergetar hebat, mengeluarkan melodi standar yang seharusnya dijawab oleh sang bodyguard. Arina menghentikan usapannya pada bulu Mochi. Dahinya berker

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status