Arumi merasakan pasokan udara di paru-parunya mendadak menipis. Remasan tangan Garendra di pergelangan tangannya terasa begitu nyata, dingin, kuat, dan menuntut. Namun, binar keras kepala di mata Arumi tidak meredup. Ia sudah melangkah sejauh ini, mengorbankan ketenangan batinnya selama berhari-hari hanya untuk dihantui bayang-bayang Bianca. Ia tidak akan mundur sekarang.“Saya tidak peduli jika kenyataan itu pahit, Mas,” balas Arumi, suaranya bergetar. “Saya lebih memilih membenci sebuah kebenaran daripada harus hidup dalam kepalsuan yang manis. Jawab saya, Mas. Apa benar Mas sudah melangkah sejauh itu dengan Bianca?”Keheningan kembali merayap, beradu dengan suara deru hujan yang kian menggila di luar jendela mansion. Garendra menatap lekat-lekat sepasang manik mata istrinya. Detik berikutnya, perlahan tapi pasti, ketegangan di rahang pria itu mengendur. Garendra melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Arumi, lalu menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar. Sebuah tawa hamb
Baca selengkapnya