“Apa sebetulnya yang kau inginkan dariku, Dimi? Karena aku tahu, kau tidak pernah benar-benar menginginkan diriku. Ingat, hubungan kita sudah karam bahkan sebelum Aditya ada. Kurasa, ini semua cuma akal-akalan busukmu saja.” Arumi menatap tajam wajah pria di hadapannya, seolah sedang menguliti tiap inci kebohongan di sana. Dimitri menarik napas panjang. Detik berikutnya, ia mematikan ponselnya dengan gerakan kasar. “Kenapa dimatikan? Bukankah tadi kau mengancam ingin menghancurkan pernikahanku?” “Oh, jadi kau sedang menantangku?” Arumi justru terbahak. Sialnya, suara tawa wanita itu lebih terdengar seperti sembilu yang menguliti gendang telinga Dimitri. “Anggap saja begitu,” sahut Arumi sembari bersedekap dada, lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan gestur menantang. “Tapi, ada satu hal tentang hidupku yang harus kau tahu, Dimi. Aku bahkan tidak peduli lagi pada pernikahanku dengan Garendra. Kalau kau mau menghancurkannya, lakukan saja. Hancurkan sesukamu! Aku tidak peduli.
Mehr lesen