Langkah kaki berat Garendra menggema di lantai marmer ruang utama, menciptakan irama yang menekan nyali siapa pun yang mendengarnya. Ia melangkah dengan keankuhan yang mendominasi, sebuah cara yang tidak perlu berlari untuk memburu mangsanya. Dengan gestur yang sangat tenang, Garendra mengeluarkan sebuah cerutu Kuba yang mahal dari saku jasnya. Api pemantik emas menyala, membakar ujung tembakau itu. Asap tipis mulai membumbung, menutupi wajahnya yang sedingin es.Ini adalah pemandangan yang tak biasa. Bagi orang-orang di sekelilingnya, Garendra adalah iblis berdarah dingin. Namun, bagi Arumi, ia adalah sosok suami yang memuja sang istri layaknya dewa yang memuja permata. Di hadapan Arumi, Garendra tidak pernah merokok, tidak pernah menampakkan sisi gelapnya, apalagi membiarkan aroma tembakau menyentuh pakaiannya. Tapi di sini, di ruang interogasi pribadinya, ia adalah penguasa yang sebenarnya.Ia duduk di kursi berlapis kulit, menyilangkan kaki dengan santai sambil membetulkan posisi
Mehr lesen